Tablo dari Dua Sisi yang Berbeda

News1617 Views

Sleman & Yogyakarta. Menjelang peringatan wafat Yesus Kristus pada hari Jumat Agung, tidak lengkap jika umat tidak menyaksikan tablo atau drama kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus.

Tablo merupakan drama yang diadaptasi dari perhentian pertama sampai perhentian keempat belas dalam jalan salib, yang menggambarkan kisah sengsara Tuhan Yesus.

Pementasan tablo sering kali melibatkan Orang Muda Katolik dan dilakukan di lapangan terbuka. Melalui tablo, umat dapat menyaksikan dan merasakan penderitaan dan kesengsaraan Yesus hingga wafat di kayu salib.

Setelah beberapa tahun tablo ditiadakan karena Covid-19, maka pada Jumat, 07 April 2023, beberapa paroki kembali mengadakan tablo di pelataran gereja, tidak terkecuali di Paroki St. Alfonsus Nandan, Sleman. Tablo yang diperankan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Alfonsus Nandan bersama para frater dari Kongregasi CSsR ini cukup menyita perhatian umat.

Aldo selaku koordinator mengatakan bahwa untuk pementasan ini mereka melakukan latihan rutin setiap dua hari dalam seminggu selama kurang lebih dua bulan.

Kolaborasi antara OMK dan para frater CSsR ini memang sengaja dilakukan karena OMK masih kurang terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan Gereja.

“Saya senang karena tablonya berjalan dengan lancar dan umat ikut berpartisipasi. Semoga setelah kegiatan ini, OMK semakin aktif dan mau berkumpul bersama untuk menyukseskan kegiatan-kegiatan selanjutnya,” harap Aldo.

Ia juga menambahkan bahwa pada tablo ini mereka mencoba menghadirkan budaya Jawa melalui riasan dan kostum para pemeran agar lebih sesuai dengan kebudayaan masyarakat setempat.

Tidak jauh berbeda dengan Aldo, mahasiswa semester empat bernama Petra yang berperan sebagai Yesus di dalam tablo ini juga berharap agar ke depannya OMK dapat semakin terlibat dan semangat memberi diri untuk Tuhan.

Sebagai pemeran utama di dalam Tablo, Petra juga sungguh-sungguh berupaya untuk mendalami perannya dengan cara melakukan meditasi dan menonton film-film tentang kisah sengsara Tuhan Yesus.

Persiapan yang maksimal dari panitia dan pemeran membuat umat mendalami kisah sengsara Tuhan Yesus secara utuh dan khusyuk. Rupanya tablo ini tidak hanya disaksikan oleh umat dari Paroki St. Alfonsus Nandan saja, tetapi juga disaksikan oleh umat dari paroki lain.

Mima Namang yang merupakan umat dari Paroki St. Yohanes Rasul Pringwulung, Sleman mengaku bahwa memilih untuk mengikuti tablo di Gereja St. Alfonsus Nandan setelah mendapatkan informasi dari salah satu temannya (frater) yang turut terlibat di dalam tablo ini. Ia mengakui, para pemeran tampak bersungguh-sungguh dalam mendalami karakter perannya.

“Perasaan saya campur aduk antara sedih menyaksikan sengsara Tuhan Yesus dan bersemangat karena pementasan ini memadukan unsur budaya Jawa, yang tentu berbeda dari budaya di daerah asal saya. Mereka (para pemeran) benar-benar menjiwai peran mereka dan saya dapat merasakannya,” ucap perempuan asal Indonesia Timur itu.

Sementara itu tidak kalah menarik dari pementasan tablo di Gereja St. Alfonsus Nandan, anak-anak dari Asrama Putra Carlo dan Asrama Putri Carla di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta juga berkolaborasi untuk menyuguhkan visualisasi wafatnya Tuhan Yesus Kristus melalui pementasan tablo yang diadakan di kompleks SMA Stella Duce 2 Yogyakarta pada hari yang sama.

SMA Stella Duce 2 Yogyakarta menyajikan tablo dengan gaya masa kini.

Tablo yang diperankan oleh sebagian besar siswa dan siswi dari Asrama Putra Carlo dan Asrama Putri Carla ini menyajikan hal yang menarik dan tidak biasa karena mengangkat dan menyajikan kisah sengsara wafat Yesus Kristus yang telah terjadi dua milenium silam tetapi dengan gaya masa kini.

Felix Gading Purnama selaku ketua Asrama Putra Carlo yang juga ikut bertanggung jawab atas terselenggaranya tablo mengungkapkan kesulitan mereka selama mempersiapkan pementasan. Dimulai dari waktu latihan yang singkat karena harus terpotong dengan jadwal ujian dan berbagai kendala, baik dari sekolah maupun guru.

“Menurut saya waktu dua bulan itu kurang karena terpotong dengan jadwal sekolah dan ujian sehingga jadwal kami untuk latihan menjadi terpotong. Selain itu, kami baru pertama kali melakukan tablo karena tahun-tahun kemarin masih Covid-19,” ungkap Felix.

Felix juga menuturkan hal unik dari tablo yang diselenggarakan di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta yang berbeda dengan pementasan tablo di tempat lain, yaitu latar belakang Yesus yang hadir di zaman sekarang. “Makanya, rakyat-rakyatnya tadi memakai profesi zaman sekarang, ada anak kuliah petani, guru, dan lain-lain,” tutur Felix.

Selain hal unik tersebut, hal mengesankan dari pementasan tablo ini adalah pengalaman pertama para siswa dan siswi dalam mengangkat kisah sengsara Yesus Kritus dalam bentuk pementasan.

Rasa gugup menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Namun, bagi Felix mereka sudah cukup bagus dalam mementaskan tablo ini dan ia berharap di pementasan selanjutnya dapat ditingkatkan dengan lebih baik lagi.

“Harapan saya pastinya lebih baik lagi pemainnya, lebih serius lagi lah pokoknya dan waktunya juga lebih lama,” ungkap Felix untuk harapan pementasan tablo selanjutnya.

Sementara itu, Samuel Syahputra yang berperan sebagai Yesus dalam pementasan tablo mengungkapkan tidak mempunyai kesulitan tersendiri ketika mempersiapkan peran. Ia hanya memiliki kesulitan ketika menghafalkan teks dan raut wajah. “Kendalanya paling di susah hafal teks sama acting aja,” ungkap Samuel.

Masing-masing tablo memiliki keunikan yang berbeda, baik dari Gereja St. Alfonsus Nandan yang diperankan oleh OMK dan para frater CSsR dengan memadukan unsur budaya Jawa dan tablo dari siswa-siswi SMA Stella Duce 2 Yogyakarta yang menyajikan tablo dengan latar belakang budaya zaman sekarang.

Walaupun masing-masing tablo memiliki perbedaan dan keunikan tersendiri, tetapi esensi dalam menyajikan kisah sengsara wafat Tuhan Yesus Kristus menjadi hal yang utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *