Agape, Teladan Martir Gereja dan Pahlawan Nasional

Open House Pusat Paroki Mahasiswa Yogyakarta

News2024 Views

Yogyakarta. Pusat Pastoral Mahasiswa (PPM) Yogyakarta mengadakan acara open house pada Sabtu, 9 November 2024. Acara tersebut merupakan pembukaan sebelum diadakannya Ekaristi Kaum Muda (EKM) keesokan harinya, Minggu, 10 November 2024.

Open house diadakan di Gedung Pusat Paroki Mahasiswa Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No.54, Klitren, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Rangkaian acara open house terdiri dari Sega Mubeng, senam, kerja bakti, cek kesehatan gratis, dan donor darah yang dimulai sejak pukul 05.00 sampai 10.00.

Acara tersebut dihadiri mahasiswa yang sebagian besar merupakan pantia serta warga sekitar Kelurahan Klitren. Tujuan dari acara ini adalah menumbuhkan dan mempersatukan mahasiswa Katolik di seluruh Yogyakarta untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Agape dipilih menjadi landasan tema dalam acara tersebut. Gabriel Rangga Kurniawan selaku Koordinator Divisi Acara mengatakan, tema Agape adalah representasi dari semangat martir Gereja dan pahlawan nasional dalam memberikan cinta tanpa batas bagi sesama.

Sejumlah mahasiswi sedang melakukan kegiatan kerja bakti bersih lingkungan.

Agape sendiri merupakan istilah Kitab Suci yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti “cinta tanpa syarat atau cinta tanpa batas”. Mahasiswa diharapkan dapat meneladani semangat para martir Gereja yang mengorbankan dirinya untuk Yesus Kristus dan para pahlawan nasional yang mengorbankan dirinya untuk sesama.

 “Kita menjadi pahlawan tidak harus seperti martir yang mengorbankan nyawanya, tapi perlu mengimplementasikan semangat yang mereka berikan, yaitu semangat agape atau kasih tanpa batas. Itu yang kami tarik dan kita jadikan tema,” ucap Rangga.

Rm. Agustinus Daryanto, SJ selaku Pembimbing Acara dan Pembina PPM mengatakan acara open house ini menjadi sarana dalam memperkenalkan PPM bagi mahasiswa Katolik maupun warga sekitar.

Rm. Agustinus Daryanto, SJ. Pembimbing Acara dan Pembina PPM DIY.

Dirinya bercerita bahwa mengumpulkan mahasiswa Katolik di PPM merupakan suatu tantangan yang sulit. Pascapandemi yang melelahkan, PPM sempat berhenti berkegiatan.

“Di sini saat pandemi, semua kegiatan mahasiswa dinonaktifkan dan selama itu pula tidak ada kegiatan di PPM sendiri,” cerita Rm. Daryanto.

Menumbuhkan kembali dari yang hilang adalah pekerjaan yang cukup sulit baginya. Saat ditugaskan pada Februari 2023 lewat Surat Keputusan Keuskupan Agung Semarang (KAS), dirinya merasa perlu mengajak seluruh mahasiswa Katolik untuk kembali ke PPM.

“Ini menjadi berat setelah saya ditugaskan ke sini karena harus mengumpulkan kembali mahasiswa Katolik yang sebelumnya terdampak pandemi,” resah Rm. Daryanto.

Awalnya, ia membuat semacam warung kopi di pelantaran teras Gedung PPM tersebut. Warung kopi itu buka pukul 18.00 sampai 22.00 dan dijaga oleh mahasiswa binaannya.

“Karena yang jaga juga mahasiswa, maka yang datang ke warung kopi itu juga teman-temannya sendiri. Lambat laun anak-anak mulai ke sini untuk rapat, diskusi, atau sekadar nongkrong,” cerita Rm. Daryanto.

Petugas sedang memeriksa dan melayani pendonor dalam kegiatan donor darah pada acara open house PPM Yogyakarta.

Selain itu, Rm. Daryanto aktif mempromosikan PPM ke beberapa kampus di Yogyakarta. Tidak hanya kampus negeri dan kampus swasta Katolik, dirinya juga membina seluruh kampus yang berada di Yogyakarta.

“Ada dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dan sebagainya. Selagi mahasiswa itu Katolik, ia adalah bagian dari PPM,” ungkap Rm. Daryanto.

Awalnya, ia hanya memiliki delapan orang anggota tim yang membantunya dalam mempromosikan PPM. Karena relasi dan pengaruhnya yang membantu, delapan orang tersebut mengajak banyak mahasiswa Katolik untuk bergabung aktif dalam PPM.

“Tidak ada keanggotaan tetap dalam PPM. Delapan orang itu merupakan tim utama yang membantu saya saja. Tapi jika mahasiswa itu Katolik, maka ia adalah anggota PPM,” tegas Rm. Daryanto.

“Ini seperti mukjizat Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan. Saya hanya punya delapan orang, tapi dia mahasiswa yang punya pengaruh. Kalau saya bergerak sendiri tidak mungkin bisa. Modal saya adalah kepercayaan, jadi saya percaya delapan orang itu bisa mengumpulkan mahasiswa-mahasiswa Katolik kembali ke PPM,” cerita Rm. Daryanto.

Pentha, perempuan asal Malang yang tengah melaksanakan studi S-2 di Yogyakarta mengatakan dirinya memerlukan komunitas keagamaan Katolik sebagai media mencari relasi dan kegiatan.

Senam bersama masyarakat pada open house PPM Yogyakarta.

“Saya penasaran dan mencoba untuk mencari komunitas dan jaringan baru, tidak hanya di Malang, tetapi ada juga di tempat tempat lainnya. Itulah sebabnya saya memberanikan diri berpartisipasi menjadi panitia untuk acara ini,” cerita Pentha.

Perjalanan menghidupkan kembali PPM inilah yang menjadi semangat acara open house dan EKM 2024. Sebanyak 100 lebih mahasiswa berpartisipasi aktif sebagai bagian dari panitia acara. Tidak hanya itu, kegiatan EKM berhasil menjamah sekitar 600 lebih mahasiswa di Yogyakarta.

Acara ini merupakan program pertama Rm. Daryanto selaku pembina PPM dalam memperkenalkan PPM ke lingkup publik guna menjalin komunikasi dan relasi yang baik dengan masyarakat sekitar.

Banyak partisipan dari masyarakat setempat ikut andil dalam acara open house tersebut. Dari mulai mengikuti senam, cek kesehatan, bahkan donor darah.

“Karena mendekati hari pahlawan pada tanggal 10, saya berharap mahasiswa tidak hanya aktif di media sosial, tapi juga aktif berkolaborasi dengan masyarakat di dunia nyata,” ungkap Rm. Daryanto.

Andreas, salah satu petugas Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibnas) juga ikut andil dalam mengamankan acara tersebut. Ia sudah menjaga dan mengawasi Kelurahan Klitren sejak tahun 2014.

“Tugasnya adalah untuk mengonsolidasi permasalahan di masyarakat setingkat kelurahan agar tidak sampai pada meja hijau (mitigasi permasalahan),” terang Andreas.

Hadirnya Bhabin sebagai lembaga keamanan menjadi bentuk nyata hubungan relasional antara PPM dengan lembaga kemasyarakatan. Sejak pertama Rm. Daryanto menjadi Pembina PPM, Andreas kerap kali berkomunikasi menjaga hubungan baik dengan pihak PPM.

“Harapannya supaya terus menjadi jalinan silahturami dengan masyarakat, kelompok masyarakat, dan instansi yang ada dalam wilayah Klitren. Hubungan itu diperlukan untuk mengonsolidasi segala permasalahan dan keamanan yang terjadi di wilayah tersebut,” ulang Andreas.

Masyarakat menghadiri pemeriksaan kesehatan gratis pada open house PPM Yogyakarta.

Manifestasi relasi sosial dengan masyarakat sekitar terkandung pula dalam akronim kata Agape, yaitu Akrab Gawe Penak.Sebuah kalimat yang bertujuan untuk mempererat hubungan antarsesama mahasiswa Katolik dan yang utama dengan masyarakat sekitar.

“Kita libatkan masyarakat sekitar agar masyarakat tahu ada lembaga PPM. Kita pengin gawe penak lah. PPM sebagai markas Katolik muda bisa berdampak buat masyarakat,” ujar Rangga.

“Semoga agape benar benar bisa di terapkan, kita akrab dengan lingkungan sekitar, kita membuat lingkungan yang nyaman, kita gawe penak lah, dan yang terpenting, kita memberikan kasih tanpa batas ke orang-orang sekitar,” pungkas Rangga dengan harapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *