Kesederhanaan Paus Fransiskus, Teladan bagi Generasi Muda

Jendela568 Views

Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia pada 3-6 September 2024 meninggalkan sejumlah kisah yang menarik. Salah satu yang akan terus dikenang adalah kesederhanaan yang beliau tunjukkan sebagai seorang pemimpin.

Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia membawa misi dan pesan mengenai dialog dan keterbukaan di tengah keragaman yang ada. Selain itu, secara tersirat, melalui kehadirannya Paus Fransiskus juga memberi pesan mengenai kesederhanaan.

Kesederhanaan yang beliau tunjukkan selama kunjungan apostolik menentang mainstream yang melekat pada tokoh-tokoh pemimpin, yakni kemewahan fasilitas dan protokoler. Beliau juga menjadi model keteladanan bagi publik di tengah arus zaman yang penuh dengan budaya konsumtivisme.

Generasi muda dan konsumtivisme

Konsumtivisme merupakan salah satu dampak dari perkembangan zaman. Ini sebenarnya bukan hal yang baru. Namun, perkembangannya amat besar di tengah arus perkembangan teknologi internet pada abad ke-21, tahun-tahun ketika sebagian masyarakat merupakan generasi Z dan yang terbaru, generasi Alpha.

Konsumtivisme tak dapat terlepas dari pengaruh internet. Hasil laporan survei Status Literasi Digital di Indonesia 2022 menyebut bahwa Gen Y (milenial) dan Gen Z menggunakan internet selama lebih dari 6 jam per hari. Itulah mengapa generasi muda menjadi generasi yang rentan memiliki sikap konsumtif. Hal tersebut makin menguat lantaran budaya belanja daring yang makin menjamur dengan kehadiran berbagai layanan lokapasar yang dapat diakses dengan mudah.

Selain pengaruh kehadiran lokapasar, konsumtivisme di kalangan generasi muda dapat terjadi karena beberapa faktor.

Pertama, budaya FoMO (Fear of Missing Out). Penggunaan media sosial di kalangan remaja menumbuhkan sikap FoMO, yaitu sikap khawatir tertinggal sesuatu yang sedang menjadi tren. Sebagai contoh adalah tren produk nugget ayam McDonalds yang berkolaborasi dengan boyband asal Korea Selatan, BTS.

Kita mengingat bagaimana animo para penggemar BTS yang sebagian besar adalah generasi muda. Mereka secara serentak dan beramai-ramai dalam kurun waktu tertentu membeli produk tersebut melalui layanan antar makanan. Itu adalah salah satu contoh fenomena FoMO yang pernah terjadi.

Kedua, generasi muda adalah generasi yang sedang mencari identitas diri, tetapi juga rentan terhadap krisis identitas. Salah satu pandangan umum tentang identitas saat ini adalah identitas sosial yang tampak dalam status sosial.

Sebagian generasi muda ingin dipandang dan dianggap dalam suatu lingkungan relasi. Tak sedikit lingkungan itu menuntut status sosial tinggi yang menuntut kepemilikan terhadap barang-barang yang bernilai tinggi pula seperti telepon pintar, busana, dan kendaraan.

Ketiga, kehadiran influencer. Influencer adalah jenis pekerjaan yang muncul di tengah kemajuan internet saat ini. Status mereka kerap dimanfaatkan oleh perusahaan tertentu untuk mempromosikan produk mereka. Mengapa? Karena influencer memiliki banyak pengikut di laman sosial media mereka.

Para pengikut biasanya mengikuti akun media sosial seorang influencer berdasarkan hal yang disukai. Pengikut-pengikut mereka biasanya akan merasa tertarik dan terdorong oleh promosi dan tawaran yang diberikan influencer tentang suatu produk karena ulasan-ulasan positif yang diberikan oleh influencer.

Terlepas dari si influencer benar-benar memakainya atau tidak, sebagian pengikut akan membeli produk yang ditawarkan, entah karena penasaran atau ingin menunjukkan loyalitasnya sebagai pengikut nomor satu.

Paus Fransiskus berharap generasi muda mau untuk bergerak, berani keluar dari zona nyaman untuk melakukan sesuatu terhadap isu-isu yang terjadi saat ini.

Ancaman konsumtivisme bagi moral generasi muda

Konsumtivisme adalah masalah yang dihadapi oleh generasi muda. Konsumtivisme tidak hanya merugikan secara finansial. Konsumtivisme juga memiliki pengaruh buruk terhadap moral seseorang.

Konsumtivisme adalah bagian dari usaha pemuasan keinginan yang membuat seseorang mengabaikan gagasan tentang apa yang sebenarnya benar-benar dibutuhkan. Sikap konsumtif yang dilakukan secara terus-menerus adalah sikap menutup diri terhadap kesempatan untuk berdiskresi dan membedakan antara hal yang merupakan keinginan sesaat dengan hal yang benar-benar penting dan menjadi kebutuhan yang sejati. Dengan demikian, konsumtivisme dapat membuat seseorang buta akan kebutuhan dan keinginan serta memunculkan sikap boros.

Fokus pada keinginan dirinya sendiri adalah nuansa yang tampak dalam sikap konsumtif. Sikap individualis adalah karakter khas yang terbentuk pada seseorang yang menjadi bagian dalam perilaku konsumtif. Tak peduli apa pun, hal yang terpenting adalah bagaimana supaya keinginanku bisa terpenuhi. Sikap konsumtif menutup kesempatan untuk berempati pada diri sendiri. Pada akhirnya, sikap ini juga menutup hati seseorang untuk berempati terhadap orang lain.

Konsumtivisme juga memupuk persaingan status sosial dalam masyarakat. Orang-orang berlomba-lomba membeli ini dan itu untuk mencari status yang lebih atas daripada yang lain. Secara perlahan akan muncul salah satu wujud sikap individualis, yakni memegahkan diri sendiri, menganggap diri sendiri lebih berharga berdasarkan apa yang dia punya. Orang dipandang berdasarkan materi, bukan karena martabatnya sebagai ciptaan Tuhan.

Memerangi konsumtivisme

Konsumtivisme menjadi salah satu titik kemunduran moral yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak orang-orang pada zaman sekarang, terutama generasi muda. Padahal, jargon generasi muda sebagai harapan masa depan sering digaungkan. Bila moral generasi muda runtuh, jargon tersebut terasa hanya seperti omong kosong belaka.

Kompetensi memang menjadi hal yang penting untuk masa depan. Namun, moral tak boleh dilupakan. Kita bisa membayangkan dunia yang hancur bila generasi muda yang dalam tahun-tahun mendatang akan memegang kendali atas dunia tidak memiliki moral yang baik, bersikap individualis, dan tidak peduli terhadap realitas di sekitarnya.

Sikap konsumtif sebagai salah satu pemicu degradasi moral harus diperangi dengan sungguh. Setiap generasi muda perlu bersikap lebih hati-hati dan mau untuk mengendalikan diri. Mereka harus paham dalam membedakan apa yang mereka butuhkan dan yang mereka inginkan.

Menghidupi sikap hemat dan secukupnya dapat membantu dalam menciptakan sikap pribadi yang mau melihat keadaan dunia saat ini dan kemudian berkehendak untuk melakukan sesuatu yang baik bagi kebaikan bersama.

Puasa digital juga dapat menjadi salah satu jalan untuk memerangi arus banjir informasi yang terjadi di zaman digital. Dengan bersikap demikian, seseorang juga akan mampu merasakan kondisi orang-orang yang berkekurangan sehingga memicu munculnya empati dalam diri setiap orang.

Meneladan Kesederhanaan Paus Fransiskus

Saya meyakini bahwa setiap dari generasi muda perlu berefleksi dari keteladanan Bapa Suci. Beliau tidak menggunakan privilese yang dia miliki sebagai seorang pemimpin untuk mendapat hal-hal yang mewah. Ia berani menolak dan melepaskan diri dari kemewahan.

Di tengah keadaan dunia yang penuh dengan kekerasan, konflik antarmanusia, dan kekerasan terhadap alam, Paus Fransiskus memiliki harapan kepada generasi muda. Ia berharap generasi muda menjadi cahaya terang atas tragedi kemanusiaan yang terjadi menyejarah, bertahun-tahun tanpa solusi. Paus Fransiskus berharap generasi muda mau untuk bergerak, berani keluar dari zona nyaman untuk melakukan sesuatu terhadap isu-isu yang terjadi saat ini.

Generasi muda adalah calon pemimpin di masa depan. Seorang pemimpin tidak bisa berkutat hanya pada dirinya sendiri. Ia harus berani keluar dari dirinya sendiri sebagai orang yang benar-benar memimpin; mampu menyejahterakan orang-orang yang ia pimpin.

Oleh karena itu, Paus Fransiskus dapat menjadi referensi bagi generasi muda sebagai calon pemimpin. Bagaimana kesederhanaan yang menaungi hidupnya seturut dengan spiritualitas St. Fransiskus Assisi menjadikan beliau seorang pemimpin yang sederhana, penuh dengan energi positif, dan selalu terbuka serta memiliki empati terhadap orang-orang kecil.

Eksklusivitas bukanlah karakternya. Inklusivitaslah yang menjiwai Paus Fransiskus dalam memimpin. Semua itu berakar dari satu nilai, yakni kesederhanaan. Semoga generasi muda mau dan mampu meneladan kesederhanaan Paus Fransiskus dalam usaha mencari identitas diri mereka dan membentuk karakter sebagai calon pemimpin masa depan.

Andreas Rizky Abimanyu (Seminaris Tahun Keempat SMA Seminari Mertoyudan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *