Gereja memiliki peran penting untuk menumbuhkan iman kaum muda. Ini terlihat dalam salah satu dokumen Gereja, yaitu Christus Vivit, sebagai seruan apostolik pascasinode oleh Paus Fransiskus. Gereja memiliki peran penting karena masa depan Gereja berada di tangan kaum muda masa kini.
Namun, kaum muda masa kini mempunyai kebutuhan dan permasalahan yang beragam. Kaum muda perlu menemukan jawaban atas berbagai kebutuhan dan permasalahan yang sedang dialaminya. Hal yang menjadi keprihatinan, sering kali terjadi situasi ketika Gereja dikendalikan hanya oleh orang-orang dewasa.
Orang-orang dewasa mempunyai kecenderungan untuk menyediakan jawaban yang sudah jadi tanpa membiarkan munculnya pertanyaan maupun ide dari kaum muda. Hal ini menyebabkan kaum muda menjadi kurang mau berkontribusi dan kurang peka terhadap kehidupan menggereja. Maka dari itu, diperlukan pemahaman mengenai bagaimana peran Gereja yang baik untuk kaum muda serta pentingnya kaum muda untuk berkontribusi dalam kehidupan menggereja.
Kaum muda masa kini memiliki berbagai kebutuhan dan permasalahan yang perlu dijawab. Banyak kaum muda yang masih berada di tengah peperangan, kemiskinan, dan menjadi korban kejahatan.
Di dalam Christus Vivit dikatakan, “Banyak orang muda yang hidup dalam situasi peperangan dan mengalami kekerasan dalam berbagai bentuk yang tak terhitung: penculikan, pemerasan, kejahatan terorganisasi, perdagangan manusia, perbudakan dan eksploitasi seksual, pemerkosaan dalam peperangan, dan sebagainya. Lebih banyak lagi di dunia, orang-orang muda yang menderita berbagai bentuk marginalisasi dan pengucilan sosial karena alasan-alasan agama, etnis dan ekonomi” (Christus Vivit Bab 3 no. 72 dan 74).
Selain itu, kaum muda masa kini juga mengalami kemajuan zaman sehingga menimbulkan kebutuhan-kebutuhan baru. Jika Gereja tidak mau melihat hal ini dan membuka diri, banyak orang muda akan meninggalkan Gereja karena permasalahan dan kebutuhannya tidak terjawab.
Berdasarkan Christus Vivit, Gereja perlu meninggalkan pola-pola kaku dan lebih mendengarkan kaum muda. Dengan membiarkan kaum muda untuk berkreativitas di dalam reksa pastoral, kebutuhan kaum muda masa kini akan terjawab.
Terkadang, kegiatan menggereja yang terlalu kaku dan kurang melibatkan peran orang muda justru akan menekan orang muda itu sendiri sebagai subjek reksa pastoral. Reksa pastoral kaum muda perlu lebih fleksibel dan memberikan ruang tidak hanya untuk belajar tetapi juga bergembira, bernyanyi, dan mengalami perjumpaan dengan komunitas.
Selain itu, penting juga untuk melibatkan teknologi sehingga kaum muda merasa makin dekat dengan kehidupan menggereja. Maka dari itu, saya menawarkan dua metode yang dapat menarik perhatian kaum muda.
Pertama, perlu adanya berbagai acara festival dan kompetisi olahraga. Acara-acara seperti itu dapat memberikan ruang bagi kaum muda untuk berkarya, berkomunitas, dan bergembira.
Kedua, kita perlu mulai melakukan pewartaan Injil melalui berbagai media sosial. Media sosial menjadi sarana pewartaan yang efektif karena dapat menjangkau banyak orang muda di dunia.
Kedua hal ini akan menarik serta menggerakan kreativitas kaum muda di dalam misi pewartaan. Kedua hal ini dapat diwujudkan dalam bentuk konkret sesuai konteks Gereja lokal masing-masing.
Sedangkan, untuk menjawab berbagai permasalahan kaum muda yang sedang mengalami kemiskinan dan menjadi korban kejahatan, Gereja perlu menjadikan hal ini sebagai salah satu fokus.
Bersama seluruh komunitas, gerakan untuk membantu kaum muda yang berada di tengah masalah adalah hal yang perlu dilakukan. Gerakan-gerakan ini dapat diwujudkan dengan berbagai program sederhana yang perlu melibatkan atau bahkan diadakan oleh kaum muda itu sendiri.
Berbagai program yang ditujukan untuk menjawab berbagai permasalahan dan kebutuhan kaum muda perlu didasarkan pada kesadaran bahwa kaum muda akan makin menjadi pelaku utama dalam program-program pastoral.
Berbagai pelayanan pastoral bagi orang-orang muda perlu memberikan kesadaran akan hal itu. Maka dari itu, saya juga mengajak kaum muda untuk makin sadar mengenai pentingnya kehidupan menggereja. Menjadi penting bagi kaum muda untuk memiliki kesadaran agar segala program yang diadakan dapat sungguh-sungguh menuju tujuannya.
Gereja merupakan komunitas umat beriman di dalam Kristus. Komunitas dapat terus bertahan jika terus ada pembaruan anggota di setiap generasinya. Begitu juga dengan Gereja. Gereja dibentuk dari setiap generasi yang berbeda. Maka dari itu, masa depan Gereja bergantung pada setiap generasinya.
Kaum muda maupun orang-orang dewasa perlu memiliki kesadaran bersama. Setiap generasi perlu memahami satu sama lain agar dapat berjalan bersama. Setiap generasi perlu berjalan bersama untuk membangun iman dan komunitas Gereja yang semakin hidup dan meneladan Kristus Sang Sumber Kehidupan.
Joseph Alexander Gracius (Seminaris Tingkat Akhir Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan)








