Tarcisius Cup II, Arena Persahabatan Putra-putri Altar Kevikepan Yogyakarta Barat

News1917 Views

Sleman. Tarcisius Cup II Kevikepan Yogyakarta Barat diselenggarakan pada Minggu, 14 Juli 2024 di Youth Centre Yogyakarta, Tlogoadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati, yang pada Tarcisius Cup I tahun 2022 meraih juara umum, menjadi tuan rumah sekaligus panitia penyelenggara ajang dua tahunan ini.

Lomba-lomba yang dipertandingkan ialah Paduan Suara dan Mazmur, Cerdas Cermat Putra Putri Altar (CCPA), Paramenta, Lektor, Futsal, Gobak Sodor, dan PlayStation (PES).

Penampilan Misdinar St. Dominico Savio Klodran dalam Lomba Paduan Suara dan Mazmur. (Foto-foto: Willy Putranta)

Sebelum bertanding, 945 peserta yang merupakan para misdinar (putra-putri altar) ini mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin Rm. Alfonsus Rodriguez Yudono Suwondo, Pr (Vikaris Episkopal Kevikepan Yogyakarta Barat) bersama Rm. Gregorius Prima Dedy Saputro, Pr (Ketua Komisi Liturgi Kevikepan Yogyakarta Barat) dan wakilnya Rm. Antonius Hendri Atmoko, Pr, serta Rm. Lorensius Tata Priyana, Pr (Pastor Paroki Santo Aloysius Gonzaga Mlati).

Rm. Dedy memberikan tiga pesan kepada para peserta Tarcisius Cup II bertema Harmony in Bonds (Keselarasan dalam Ikatan) ini. “Pertama, kalian harus bersukacita karena hari ini merayakan iman dan pelayanan kita. Kedua, harus bersahabat dan bersaudara sehingga wajib mengenal misdinar dari paroki lain. Maka, untuk lomba nonliturgi jangan sampai berkelahi, tapi saling menghargai, tidak saingan. Karena ini perayaan, maka harus bersaudara. Ketiga, kalian semakin bersemangat dalam pelayanan di misdinar di paroki masing-masing,” beber Rm. Dedy.

Peserta Lomba Lektor dari Paroki St. Yakobus Bantul.

Ia berharap ketiga pesan itu menjadi semangat. “Bagi yang juara umum akan menjadi tuan rumah dua tahun lagi. Yang dua tahun lagi masih bisa ikut Tarcisius Cup, semoga yang baru-baru ini nanti menjadi pengurus, lalu menjadi pendamping, dan selanjutnya menjadi Orang Muda Katolik (OMK) yang akhirnya bisa menemani misdinar dalam pelayanan Gereja,” imbuh Rm. Dedy.

Usai Perayaan Ekaristi, Kristoforus Sinselius (Pembimas Katolik Kanwil Kemenag DIY) mengajak umat Katolik¾terlebih generasi muda melalui putra-putri altar¾untuk membangun persaudaraan dan persahabatan tidak hanya di antara generasi muda Katolik, tetapi juga membangun relasi dengan siapa saja yang dijumpai.

Penjurian Lomba Paramenta.

“Tema hari ini mengajak kita semua sebagai orang Katolik untuk makin terbuka, tidak memandang latar belakang agama, suku, dan warna kulit. Namun, kita semua diciptakan oleh Tuhan dengan keindahan masing-masing,” ujar Kristo.

Ia lalu berpesan, “Di antara sekian lomba, tentu ada yang menang. Anggaplah itu sebagai bonus. Yang paling penting adalah membangun pertemanan dan persahabatan. Kita membangun harmoni dengan sesama dan alam, terlebih dengan Tuhan. Yang tidak kalah penting, harmoni dengan diri sendiri. Tandanya ialah bersukacita sehingga punya efek yang baik, memiliki semangat pelayanan menjadi putra altar yang setia.”

Babak final Cerdas Cermat Putra Putri Altar.

Selanjutnya, Pius Ario Pamungkas Prahara selaku ketua panitia berharap acara ini tidak serta-merta hanya berkompetisi atau meraih ajang kejuaraan. “Kegiatan ini juga semoga bisa mendekatkan teman-teman untuk bisa menjadi sahabat,” tegas Ario, sapaan akrabnya.

Sebelum membuka acara dengan memukul gong, Rm. Wondo menyampaikan sambutan dengan memelesetkan tema Harmony in Bonds menjadi Harmony in Bones, semua adalah balung dhewe. Bagi orang Jawa, balung atau tulang menjadi simbol ikatan persaudaraan. Seperti ungkapan “ngumpulke balung pisah” (mengumpulkan tulang-tulang yang terpisah) yang bermakna menyatukan kembali keluarga, teman, atau kelompok tertentu yang sudah terpisahkan baik oleh waktu, jarak, maupun kondisi yang berbeda. Maka, “balung dhewe” berarti semua adalah saudara.

Para romo bersama ketua panitia dan tamu-tamu undangan.

“Kalian para misdinar se-Kevikepan Yogyakarta Barat, dari Pakem sampai Ganjuran, dari Gunung Merapi sampai Laut Selatan, dari Jogja sampai Perbukitan Menoreh. Itu wilayah kalian semua. Jalan-jalanlah ke sana. Tarcisius Cup selanjutnya kita belum tahu akan di mana, yang penting dari wilayah kita, sehingga kalian menguasai arena di Kevikepan Yogyakarta Barat,” urai Rm. Wondo.

Ia berharap para misdinar menguasai arena-arena itu sebagai saudara, orang Katolik yang dipanggil oleh Tuhan untuk membuat wilayah itu menjadi makin baik.

“Selamat bertanding dengan sekuat tenaga dan pikiran. Raihlah juara harus dengan jujur dan respek kepada lawan. Kalau menang, yang kalah jangan dihina, tapi disalami seperti sepak bola Euro 2024. Yang kalah tetap di-support. Itu namanya respek. Kalau jatuh, kita tolong,  meskipun bukan dari tim kita. Semoga tempat ini menjadi tempat untuk belajar respek satu sama lain,” pungkas Rm. Wondo.

Lomba Gobak Sodor dengan peserta misdinar putri.

Berikut daftar pemenang Tarcisius Cup II tahun 2024:

Lomba Paduan Suara: Paroki Santa Theresia Sedayu

Lomba Mazmur: Paroki St. Yohanes Paulus II Brayut

Cerdas Cermat Putra Putri Altar (CCPA): Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati

Lomba Paramenta: Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates

Lomba Lektor: Paroki Santa Maria Assumpta Pakem

Futsal: Paroki Santa Maria Tak Bernoda Nanggulan

Gobak Sodor: Paroki St. Maria Fatima Pelem Dukuh

PlayStation: Paroki Santo Yohanes Rasul Somohitan

Lomba Futsal dengan peserta misdinar putra yang mengenakan daster.
Suasana lomba PlayStation di antara generasi yang lebih akrab dengan online game.

Juara umum:

5 Stasi Yohanes Chrisostomus Pojok

4 Paroki St. Petrus dan Paulus Klepu

3 Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates

2 Paroki St. Maria Fatima Pelem Dukuh

1 Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan

Dengan demikian, tuan rumah dan panitia Tarcisius Cup III tahun 2026 adalah Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan sebagai juara umum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *