Mendapat karunia buah hati merupakan dambaan setiap pasangan pada umumnya. Tak terkecuali bagi kami, sepasang pengantin baru yang mulai menapaki kehidupan rumah tangga. Materi dalam Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) masih sangat terbayang dalam ingatan kami, salah satu tujuan perkawinan Katolik adalah untuk memperoleh keturunan. Demikian juga pada saat Penyelidikan Kanonik, Rama berkata, “Salah satu tujuan menikah adalah mendapat keturunan. Tapi, apakah kalian sudah siap seandainya Tuhan tidak berkenan memberikan keturunan?”
Saat itu hati saya makdeg, bingung sekaligus muncul kekawatiran setelah mendengar ucapan Rama. Namun, hal itu berlalu seiring dengan hiruk-pikuk persiapan pernikahan. Singkat cerita, tanggal 9 Oktober 2020, kami saling menerimakan sakramen perkawinan setelah hampir enam tahun berpacaran.
Pada masa awal menapaki kehidupan rumah tangga, kami sangat antusias mencari informasi sana-sini dan mencoba berbagai metode supaya bisa segera diberikan momongan. Maklum, saya adalah anak sulung yang sudah hampir berkepala tiga sehingga orang tua sangat ingin segera momong cucu. Ditambah lagi, istri saya adalah lulusan kebidanan, ibu dan ibu mertua juga adalah seorang bidan. Jadi, keluarga kami sangat akrab dengan hal-hal tentang kehamilan dan persalinan.
Sebulan berlalu, tibalah saatnya istri datang bulan dan saat itu ia menangis karena sangat berharap di bulan pertama sudah isi.Saya berusaha untuk menenangkan istri dan mengajak untuk mulai berdoa secara khusus untuk memohon agar segera diberikan momongan. Akhirnya, kami sepakat untuk berdoa Rosario secara rutin setiap hari Jumat. Isi doa kami adalah memohon agar kami segera diberikan momongan.
Bulan-bulan berikutnya, kondisi yang sama terjadi. Istri saya masih saja datang bulan, meskipun kami sudah berdoa dan mengikuti saran dari sana-sini untuk mencoba berbagai hal. Pada bulan ke empat, kami sepakat untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan. Respons dokter tidak sesuai yang kami harapkan. Kami berharap dokter akan memberikan vitamin, obat, atau apa pun itu agar harapan kami segera terwujud. Mengetahui keresahan kami karena tak kunjung diberi momongan, dokter justru tertawa dan mengatakan, “Kalian ini masih muda, menikah juga belum lama. Nikmati dulu saja, jangan buru-buru.”
Hasil pemeriksaan terhadap istri saya menunjukkan semuanya dalam keadaan baik dan normal. Justru, saat itu saya yang tidak dalam kondisi terbaik. Jadi, menurut dokter, hal itu yang menyebabkan istri saya tak kunjung hamil. Saat itu saya sangat terpukul dan pikiran sudah melayang entah ke mana. Syukurlah, istri bisa menerima kondisi ini dan berusaha keras untuk menenangkan dan memberikan dukungan moral kepada saya.
Atas saran dokter, saya mulai menjalani pengobatan dan sambil terus berdoa melalui perantaraan Bunda Maria. Saat itu kami mengubah narasi doa dari yang sebelumnya memohon agar segera diberikan momongan menjadi kami berserah, terjadilah menurut kehendak-Mu. Kami teringat bahwa Bunda Maria juga berkali-kali mengalami kejadian-kejadian yang sulit untuk diterima, tetapi ia terus setia dan taat pada kehendak Allah.
Pada masa pengobatan saya, kami berdua tidak terlalu memikirkan lagi kapan Tuhan akan memberikan momongan. Hari-hari kami jalani biasa-biasa saja tanpa berharap banyak.
Medio April 2021, saat saya pulang bekerja, istri saya mengajak untuk masuk ke kamar. Betapa terkejutnya saya ketika ia tanpa sepatah kata pun menunjukkan test pack dengan dua garis. Matanya berkaca-kaca. Saat itu juga saya mengajak istri menemui dokter kandungan untuk memastikan dan meminta saran dokter, apa yang harus kami lakukan.
Saat itu dokter melakukan pemeriksaan dan menyatakan janin masih sangat kecil dan hampir tidak terlihat sehingga kami diminta untuk kembali memeriksakan diri seminggu lagi. Seminggu kami lalui dengan penuh sukacita, hingga tiba saatnya kami melakukan pemeriksaan lagi. Pada pemeriksaan kedua, dokter menyatakan janin sudah terlihat lebih jelas. Mengetahui hasil tersebut, kami makin bersukacita dan istri saya merasa sangat antusias dengan kehamilannya.
Pada saat pemeriksaan itu, Dokter juga memberi tahu perkiraan usia kehamilan istri saya. Setelah kami pikir-pikir, ternyata janin yang ada dalam kandungan istri saya sudah dikirim oleh Allah sebelum saya menjalani pengobatan. Di situ kami makin menyadari betapa luar biasa karya Allah. Meskipun dulu Dokter mengatakan bahwa kecil kemungkinan istri saya untuk hamil, tetapi Allah punya rencana di luar akal dan perkiraan manusia.
Pada awal masa kehamilannya, istri saya belum merasakan perubahan yang signifikan pada tubuhnya sehingga ia tetap beraktivitas seperti biasa. Sampai pada suatu sore, ia mengajak untuk berbelanja banyak bahan makanan untuk mendukung tumbuh kembang janin dalam kandungannya. Setelah berbelanja, istri saya mengalami perdarahan ringan sehingga kami langsung ke IGD untuk memeriksakan kondisi kandungan. Dokter mengatakan, janin posisinya ada di bawah dan hampir jatuh sehingga istri saya diminta untuk bed rest dan diberikan obat penguat kandungan.
Di situ kami merasa terpukul untuk kesekian kalinya. Istri saya mulai menyalahkan diri sendiri dan sempat mengatakan, “Kalau kamu mau pergi, Ibu sudah ikhlas, Nak,” sambil mengusap perutnya. Seolah-olah ia sudah tidak berharap lagi janin yang ada dalam kandungannya bisa bertahan. Saya peluk erat istri saya. Saya kuatkan dan teguhkan hatinya.
Kami terus berdoa dan berserah kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria. Dalam doa, kami berserah pada kehendak Allah. Jika Allah mau mengambil anak kami, terjadilah. Demikian juga jika Allah mau menyelamatkan anak kami, terjadilah. Kami berusaha meneguhkan hati untuk menerima apa pun kehendak Allah.
Kami juga berkomitmen, jika Allah berkenan menyelamatkan anak kami, maka ketika lahir nanti kami akan memberinya nama “Maria”. Kami meyakini bahwa Bunda Maria telah bertahan dalam kesulitan-kesulitan hidup dan pada akhirnya mencapai kemuliaan, demikian juga kami berharap janin yang ada dalam kandungan istri saya mampu bertahan dalam berbagai kesulitan.
Masa-masa bed rest berlalu, istri saya mulai merasakan perubahan dalam tubuhnya, selera makan menurun, mudah mual bahkan muntah. Kami kembali melakukan pemeriksaan dan kali ini Dokter mengatakan bahwa kandungannya sudah aman dan makin kuat. Dokter berharap kondisinya akan terus baik. Kami sangat bersukacita dan bersyukur kepada Allah karena penyertaannya kepada kami dalam menghadapi berbagai kondisi yang sulit diterima dan dijalani.
Bulan-bulan berikutnya berjalan dengan lancar. Janin yang ada dalam kandungan istri saya tumbuh dan berkembang dengan normal. Singkat cerita, istri saya melahirkan seorang bayi perempuan pada tanggal 23 Desember 2021 di Rumah Sakit Panti Rahayu yang berhadapan langsung dengan Gereja St. Petrus dan Paulus Kelor. Tanggal 24 Desember 2021 malam, istri saya dan bayinya diizinkan pulang dan saat keluar dari rumah sakit berbarengan dengan alunan lagu Feliz Navidad yang berkumandang dari gereja. Sungguh luar biasa karya Allah, sungguh Ia baik, sungguh Ia memberikan kado natal terbaik untuk kami sekeluarga.
Tanggal 24 April 2022, kami membaptiskan putri kami di Gereja St. Petrus dan Paulus Kelor dengan nama baptis Maria, dengan harapan agar ia selalu setia dan taat pada kehendak Allah, seperti Bunda Maria. Fiat Voluntas Tua.
Thomas Wigung Aji Prayitna




