Demi Belajar Pola, Sarung Suami Jadi Korban

Karya47 Views

Suara mesin jahit terdengar tanpa henti dari sebuah rumah sederhana di sudut perdesaan. Di antara gulungan kain, benang warna-warni, dan tumpukan pakaian pelanggan, bahkan sisa potongan-potongan kain, Trisentiana Devi Widianti duduk di depan peranti itu.

Tangannya bergerak dengan cekatan, sesekali berhenti untuk mengukur pola sambil berhati-hati dan melihat dengan tajam, memastikan setiap potongan kain yang jatuh.

Mungkin bagi sebagian orang, menjahit sekadar pekerjaan rumahan biasa. Namun, bagi perempuan yang akrab dipanggil Devi ini, menjahit adalah sebuah perjalanan panjang tentang bagaimana untuk belajar, bertahan, dan mempraktikkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Sudah hampir sepuluh tahun Devi menjalani usaha jahit rumahan. Semua berawal setelah ia resign dari pekerjaannya di sebuah pabrik garmen.

Saat itu, Devi baru mempunyai anak yang masih kecil dan memilih lebih banyak berada di rumah untuk menjadi ibu rumah tangga. Meski bukan lulusan sekolah tata busana, pengalaman bekerja di pabrik membuat Devi terbiasa mengoperasikan mesin jahit.

“Awalnya saya cuma bisa mengoperasikan mesin jahit karena dulu kerja di pabrik jahit. Tapi kalau bikin pola, motong kain, itu belum bisa sama sekali,” akunya sambil tertawa kecil.

Dengan modal mesin jahit, Mbak Devi mulai belajar secara autodidak. Ia hanya mengandalkan video YouTube, Facebook, hingga keberanian mencoba untuk belajar secara mandiri.

Kain sarung milik suaminya bahkan menjadi “korban” latihan pertamanya. “Kain sarung suami banyak yang jadi korban, karena saya gengsi latihan pakai kain murah. Jadinya pakai sarung yang ada di rumah buat latihan pola. Banyak yang gagal. Ternyata bikin pola itu ribet,” katanya jujur.

Tahun demi tahun perlahan, keterampilannya mulai berkembang. Dari awalnya yang hanya menjahit tas, dompet, dan lainnya, kini Devi sudah mampu membuat berbagai jenis pakaian.

Perjalanan belajar itu tidak pernah benar-benar selesai. Hampir setiap model baru yang datang dari pelanggan menjadi tantangan baru yang harus dipelajari lagi dari awal.

“Kalau ada pelanggan kirim foto model baju by request, saya pelajari dulu. Kadang duduk lama sambil lihat kain, mikir polanya harus bagaimana dan saya terima tawaran itu walaupun ragu bisa atau tidaknya,” ungkapnya.

Sekarang, Devi lebih banyak menerima jasa permak dan pembuatan pakaian sederhana seperti kebaya untuk wisuda, seragam, atau dress. Namun, di balik jahitan yang rapi, ada cerita panjang tentang ketidaksempurnaan, keraguan diri, hingga perjuangan Devi dalam mempertahankan usaha jahitnya.

Sebagai penjahit yang hanya berlandaskan autodidak, Devi mengaku sering merasa kurang percaya dibanding penjahit lain yang memiliki pendidikan khusus di bidang tata busana. Perasaan itulah yang membuatnya kerap memasang dengan harga yang relatif murah dari pasaran.

“Kalau orang lain bisa pasang harga Rp60.000,00 sampai Rp75.000,00, saya kadang cuma berani Rp50.000,00. Takut dibilang mahal,” tuturnya.

Tidak hanya soal harga, perasaan tidak tega yang muncul kepada pelanggan juga menjadi tantangan tersendiri. Beberapa kali Devi harus menerima kenyataan jahitannya dibawa pergi tanpa dibayar lunas.

“Ada yang bilang, ‘Nanti ya bayarnya,’ terus lama sekali. Pernah waktu itu seragam sekolah sudah dipakai sampai anaknya hampir mau lulus baru dibayar,” katanya.

Namun, bagi Devi, usaha jahitnya bukan sekadar soal mencari keuntungan. Ia berusaha menjalankan pekerjaannya berdasarkan nilai kasih yang diyakini.

“Kalau pengikut Kristus itu dasarnya kasih,” ucapnya. “Kadang memang nggak enakan kalau harus nagih.”

Nilai itulah yang membuatnya tetap bertahan meski sering merasa dirugikan. Ada pelanggan yang membayar degan sayur, beras, atau bahkan mencicil upah jahit sedikit demi sedikit. Meski demikian, Devi memilih tetap membantu selama masih mampu dan masih sanggup untuk dijalankan.

Di tengah kesibukan menjahit dan mengurus rumah tangga, Devi juga tetap berusaha menjaga kehidupan rohaninya. Baginya, usaha jahit hanyalah pekerjaan sampingan. Peran utama dan intinya tetap sebagai ibu rumah tangga.

“Kalau waktunya doa ya doa, kalau waktunya ikut kegiatan gereja ya ikut,” katanya.

Wabah COVID-19 pernah menjadi masa yang cukup berat sekaligus mengubah arah kehidupannya. Pada periode itu, Devi kerap bekerja sampai malam untuk menuntaskan pesanan masker dan jahitan pakaian dalam jumlah besar.

Setelah situasi kembali normal, ia memutuskan untuk mengambil pekerjaan yang lebih longgar agar tetap memiliki waktu bersama keluarga serta dapat menjalani kehidupan rohani dengan lebih tenang.

Saat ini, di tengah maraknya penjualan busana murah melalui toko online dan semakin banyaknya pelaku usaha jahit, Devi tetap menjalankan usahanya dengan sederhana.

Ia tidak terlalu berfokus pada jumlah pelanggan maupun keuntungan yang besar. Baginya, yang paling utama pekerjaan dikerjakan secara maksimal dan pelanggan menerima hasil yang memuaskan.

“Kalau pekerjaan terlalu menumpuk, pikiran jadi capek sendiri,” lontarnya. “Saya lebih nyaman mengerjakannya sedikit demi sedikit, asalkan hasilnya tetap rapi.”

Di balik bunyi mesin jahit yang terus bergerak, tersimpan ketelatenan, kesabaran, dan perhatian yang ia curahkan dalam setiap jahitan. Bagi Devi, kegiatan menjahit tidak sekadar menghasilkan pakaian, tetapi juga menjadi cara untuk menjaga kehidupan keluarga serta mempertahankan nilai-nilai iman yang terus ia hidupi hingga sekarang.

Emeriks Noviana Endah Purwati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed