Kemarau panjang di kawasan karst Gunung Kidul selalu menyisakan persoalan yang sama setiap tahunnya. Sumber air mengering, sumur-sumur warga menyusut debitnya, dan kebutuhan paling mendasar sehari-hari pun menjadi barang yang harus diperjuangkan.
Kondisi inilah yang mendorong SMA Stella Duce 2 Yogyakarta hadir di tengah warga Dusun Talgapung, Padem, Girikarto, Kapanewon (Kecamatan) Panggang, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk menyalurkan bantuan air bersih pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Bagi sebagian orang, air tinggal diputar dari keran. Namun, bagi warga Talgapung, air adalah sesuatu yang harus ditunggu, dijemput, bahkan diperjuangkan dengan biaya tambahan setiap kali kemarau tiba.
Rumah-rumah yang berdiri di atas tanah karst itu tidak memiliki banyak pilihan selain menanti kiriman tangki air dari luar wilayah mereka, sembari berharap pasokan itu cukup bertahan hingga hujan pertama turun.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai respons atas fenomena kekeringan yang berulang di Gunung Kidul, khususnya di wilayah Panggang yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan yang paling terdampak krisis air bersih setiap musim kemarau.
SMA Stella Duce 2 Yogyakarta bersama Yayasan Tarakanita melaksanakan kegiatan ini sekaligus menghadirkan nilai compassion atau bela rasa yang menjadi salah satu nilai inti pendidikan di lingkungan sekolah-sekolah Tarakanita.
Perwakilan SMA Stella Duce 2 Yogyakarta berangkat menuju Talgapung untuk menemui warga secara langsung. Bantuan air bersih diserahkan dari tangan ke tangan, tanpa seremoni yang berlebihan. Yang tampak justru kesederhanaan proses. Truk tangki berhenti di titik-titik permukiman warga, jeriken dan ember disiapkan, warga bergegas keluar rumah begitu suara mesin tangki terdengar mendekat, dan air pun mulai mengalir ke rumah-rumah yang selama beberapa pekan terakhir bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar wilayah mereka.
Sesuatu yang tampak sederhana itu, bagi warga Talgapung, adalah kelegaan yang ditunggu selama berhari-hari.
Kekeringan di Gunung Kidul, khususnya di Kapanewon Panggang, bukan persoalan baru. Struktur tanah karst yang mendominasi wilayah ini membuat air hujan sulit tertampung di permukaan dan cepat meresap ke dalam tanah sehingga warga kerap harus menempuh jarak cukup jauh atau mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air bersih saat kemarau tiba.
Persoalan ini terus berulang dari tahun ke tahun, seolah menjadi bagian dari siklus hidup warga Panggang yang harus dijalani setiap musim kemarau datang. Situasi inilah yang menjadi keprihatinan bersama, termasuk bagi keluarga besar SMA Stella Duce 2 Yogyakarta.
Bagi sekolah ini, kegiatan penyaluran air bersih bukan sekadar aksi sosial tahunan, melainkan bagian dari upaya menghidupi nilai bela rasa yang selama ini diajarkan kepada siswa. Nilai tersebut tidak dimaksudkan untuk berhenti sebagai materi di ruang kelas, melainkan perlu diuji dan dipraktikkan langsung di tengah masyarakat yang membutuhkan.
Melalui pengalaman semacam ini, siswa diajak melihat langsung realitas sosial di luar lingkungan sekolah mereka yang serbaberkecukupan, sekaligus belajar bahwa kepedulian tidak cukup berhenti pada rasa iba, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan konkret.
Kolaborasi SMA Stella Duce 2 Yogyakarta bersama Yayasan Tarakanita dalam kegiatan ini juga menjadi contoh bagaimana lembaga pendidikan dapat berperan lebih luas, tidak hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat di sekitarnya.
Air yang disalurkan hari itu memang tidak akan menyelesaikan persoalan kekeringan Gunung Kidul secara serentak, tetapi setidaknya meringankan beban warga Talgapung untuk sementara waktu, sekaligus menjadi pengingat bahwa kepedulian sekecil apa pun tetap berarti bagi mereka yang menerimanya. Sebuah tangki air mungkin hanya bertahan beberapa hari, tetapi kehadiran dan perhatian yang menyertainya bisa membekas jauh lebih lama.
Dari Talgapung, Padem, Girikarto, Panggang, kegiatan ini menjadi salah satu bukti bahwa pendidikan dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan, membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara pemikiran, tetapi juga hangat dalam bertindak bagi sesama.
Sebab, pada akhirnya, bela rasa yang sesungguhnya tidak diukur dari seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan dari kesediaan untuk hadir dan berjalan bersama mereka yang sedang kesulitan.
C. Chris Cerly Rika Saraswati Guru Pendidikan Agama Katolik SMA Stella Duce 2 Yogyakarta








