Fenomena peserta didik tidur saat pembelajaran adalah fenomena umum yang sering terjadi dalam kegiatan belajar mengajar. Bahkan, ini merupakan fenomena klasik yang sering terjadi tetapi berakibat pada menurunnya daya kognitif dan karakter peserta didik sebagai generasi muda penerus bangsa.
Faktor eksternal dari diri peserta didik memang penting untuk dikembangkan agar peserta didik mampu meminimalkan “semangat” tidurnya, misalnya guru harus mampu membangun creative learning, merangsang peserta didik proaktif, dan membangun stimulus pembelajaran yang menarik sehingga meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Selain itu, sekolah perlu memperhatikan penataan kelas yang kondusif, sirkulasi udara lancar, dan cukup pencahayaan.
Meski demikian, yang lebih esensial adalah bagaimana peserta didik memotivasi diri secara internal agar tetap mampu mengikuti pembelajaran dengan fokus, semangat, dan tidak tertidur. Lalu, bagaimana peserta didik mengolah diri agar termotivasi dalam pembelajaran, tetap fokus, dan tidak tertidur? Berikut beberapa cara untuk menguatkan faktor internal diri peserta didik agar fokus dalam pembelajaran.
Pertama, menyadari bahwa belajar adalah bekal untuk masa depan. Kesadaran bahwa belajar secara akademik (mengolah kognitif) maupun nilai-nilai keutamaan yang dibangun dalam proses pembelajaran merupakan proses formatio sebuah pribadi sebagai bekal masa depan diri peserta didik. Misalnya, pengetahuan tentang prinsip-prinsip geografi yang di dalamnya ada prinsip distribusi, interelasi, deskripsi, dan korologi menjadi fondasi kerangka berpikir peserta didik dalam problem solving kehidupan. Kelak jika peserta didik menjadi pemimpin, pengetahuan ini dibutuhkan sebagai keterampilan hidup untuk memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi. Begitu pula nilai-nilai keutamaan yang ditemukan dalam proses metakognitif pembelajaran melalui refleksi juga menjadikan peserta didik makin terlatih, terasah dalam menumbuhkan nilai keutamaan sebagai dasar pembentukan karakter peserta didik, misalnya kejujuran, kedisiplinan, tenggung jawab, daya juang, peduli, dan nilai-nilai keutamaan lainnya.
Kedua, memahami secara mendalam tujuan pembelajaran sebagai bentuk literasi kehidupan. Peserta didik akan makin termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran jika di dalam dirinya ditumbuhkan semangat untuk memahami secara mendalam tujuan pembelajaran suatu materi bagi kehidupan. Misalnya dalam pembelajaran ilmu komputer, bangun semangat untuk menemukan pentingnya belajar ilmu komputer bagi kehidupan dan keselamatan umat manusia, antara lain untuk kemanusiaan, keadilan, sarana pengembangan budidaya pertanian dan kesehatan, memetakan kawasan rawan bencana, serta sebagai sarana mengembangkan program literasi keuangan bagi usaha kecil dan menengah. Inilah beberapa contoh pentingya belajar ilmu komputer bagi kehidupan yang harus peserta didik temukan sendiri secara kreatif dan inovatif sehingga mampu memotivasi diri dalam memperdalam suatu materi pembelajaran.
Ketiga, menumbuhkan curiosity (semangat keingintahuan) terhadap materi pembelajaran. Curiosity terhadap kedalaman pengetahuan juga menjadi bagian penting dalam memotivasi diri untuk mencintai materi pembelajaran yang sedang dikaji. Mengapa ini penting ? Sebab, dengan menumbuhkan keingintahuan diri pada suatu materi akan menjadi stimulus bagi pengembangan pengetahuan pembelajaran. Misalnya, dalam pembelajaran kimia, peserta didik diajak untuk praktikum tentang pengaruh CO2 dalam proses pencairan es yang berdampak besar bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya sebagai bagian dari global warming. Selanjutnya, tumbuhkan pertanyaan-pertanyaan kritis kreatif sebagai ungkapan curiosity agar wawasan pengetahuan yang diperoleh makin mendalam sehingga peserta didik termotivasi dalam belajar dan tidak tertidur lagi dalam proses pembelajaran.
Keempat, membangun kemampuan diri dalam mengolah tiga daya jiwa. Pembelajaran akan menjadi menarik jika kita sebagai peserta didik memampukan diri untuk mengolah tiga daya jiwa, yaitu olah rasa, olah pikir, dan olah kehendak. Misalnya, dalam memperdalam materi tentang hak dan kewajiban asasi manusia dalam konteks pandemi Covid-19, bagaimana peserta didik memampukan diri mengolah rasa, merasakan apa yang dirasakan orang lain, termasuk mencoba merasakan situasi batin para relawan medis, relawan pemakaman, serta suasana batin pasien yang harus berjuang melawan sakitnya. Membangun semangat empati merupakan proses untuk mengolah rasa dan hati peserta didik. Setelah itu, peserta didik diolah nalarnya dengan pertanyaan, “Mengapa pandemi Covid-19 belum berakhir dan bagaimana strategi meminimalkan penyebarannya?” Dari proses olah rasa dan nalar, tumbuhkan dalam diri kita semangat olah kehendak: apa yang akan kulakukan secara nyata untuk sesama yang terkena Covid-19? Apa yang aku perbuat untuk meringankan relawan medis dan pemakaman yang bekerja keras bagi baiknya kehidupan? Inilah proses pembelajaran yang memampukan diri untuk makin semangat dalam belajar dan efektif mengurangi “semangat” tidur dalam belajar.
Kelima, penyadaran akan nilai keutamaan hidup, yaitu sopan santun. Peserta didik harus ditumbuhkan semangat untuk menghargai proses pembelajaran sebagai bentuk pengembangan karakter diri, yaitu sopan santun, baik terhadap bapak ibu guru, teman di kelas, maupun proses pembelajaran itu sendiri. Sadari bahwa sopan santun merupakan karakter penting sebagai bekal mereka untuk menjadi pemimpin masa depan. Motivasi menghargai orang lain tumbuh dari suatu kesadaran bahwa sopan santun penting untuk pengembangan diri mereka. Di sisi lain, tumbuhkan dalam diri mereka bahwa bapak ibu guru yang memberikan materi pembelajaran adalah citra Allah yang harus dihormati dan hargai. Dalam proses penyadaran nilai keutamaan sopan santun ini, peserta didik juga bisa melatih diri dan berkontemplasi menjadi guru yang sedang mengajar, bagaimana jika saat mengajar di depan kelas tidak didengarkan oleh peserta didik. Ini menjadi proses asah empati peserta didik agar makin menghargai sebuah pribadi dan proses pembelajaran yang sedang berlangsung di kelas
Keenam, kemampuan mengimplementasikan skala prioritas. Skala prioritas hidup adalah kesadaran yang harus dikembangkan dan dilakukan peserta didik dalam proses pembelajaran. Peserta didik harus mampu mengembangkan skala prioritas bahwa belajar itu menjadi prioritas utama bagi pelajar. Dengan prinsip tersebut, peserta didik akan makin fokus dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas, terlebih dengan skala prioritas ini peserta didik menjadi mampu menyelesaikan berbagai tugas pembelajaran yang diberikan guru sehingga penyelesaiannya lebih taktis sistematis, dan akhirnya makin dimampukan untuk fokus dalam pembelajaran yang sedang dikaji. Hal ini perlu diperhatikan oleh peserta didik karena pada saat mereka tidak menerapkan skala prioritas dan segera menyelesaikan tugas yang diberikan guru, maka tugas akan menumpuk dan mereka makin tidak mampu untuk fokus karena banyak sekali tugas yang masih membebani pikiran dan ingatannya. Alhasil, karena beratnya beban tugas yang belum terselesaikan, peserta didik jadi tidak termotivasi belajar dan akhirnya tidur saat proses pembelajaran di kelas.
Ketujuh, kemampuan mengolah pengalaman hidup sendiri dikaitan dengan materi pembelajaran yang sedang dipelajari. Pengalaman hidup peserta didik menjadi hal yang sangat menarik untuk diolah dan dikaitkan dengan materi pembelajaran yang sedang dipelajari. Proses pembelajaran ini makin memperdalam literasi kehidupan peserta didik sebagai subjek pembelajaran. Misalnya, pembelajaran geografi sustainable development tentang krisis energi menjadi pembelajaran yang menarik apabila peserta didik mampu mengkaitkan krisis energi dengan pengalamannya dalam memanfaatkan energi sehari-hari. Bagaimana memanfaatkan listrik di rumah setiap hari, apakah boros atau hemat dalam menggunakan listrik, apa dampaknya jika memboroskan listrik, bagaimana perasaan terhadap sesama yang masih kekurangan listrik, apa tindakan nyata yang harus dilakukan agar mampu meminimalkan krisis energi yang disumbangkan dari pemborosan listrik setiap hari, dan sebagainya. Inilah pertanyaan-pertanyaan stimulus yang harus dibangun dalam diri peserta didik agar pengalaman hidup mereka terolah sehingga akan makin termotivasi untuk belajar tentang materi krisis energi dan tidak mengantuk lagi saat mengikuti proses pembelajaran di kelas.
Antonius Agus Sulistyono, S.IP., S.Pd.
Guru Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan
Ilustrasi: wikimedia.org








