Sleman. Misa Malam Rabu Pahingan sekaligus peringatan 40 tahun tempat ziarah Sumur Kitiran Mas (SKM) berlangsung khidmat dan hangat di Gereja Santa Maria Assumpta Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Selasa, 21 Oktober 2025, meskipun di tengah hujan deras. Sumur Kitiran Mas yang genap berusia 40 tahun ini letaknya unik dan berada di dalam gereja.
Misa peringatan 40 tahun Sumur Kitiran Mas dipimpin Rm. G.P. Sindhunata, SJ sebagai konselebran utama dengan Ekaristi berbahasa Jawa. Selain itu, terdapat juga tujuh imam lainnya sebagai konselebran pendamping, yakni Rm. Agustinus Nunung Wuryantoko, Pr, Rm. Yohanes Sigit Heriyanto, Rm. Tarcisius Insaf Santosa, Pr, Rm. Ant. Banu Kurnianto, Pr, Rm. Yakobus Winarto, Pr, dan Rm. Petrus Sajiyana, Pr.
Peringatan 40 tahun Sumur Kitiran Mas dibuka dengan pertunjukkan wayang kulit satu jam oleh Dalang Ki Jayeng Mardawa dan berlangsung di dalam gereja, dilanjutkan dengan Ekaristi syukur dan setelahnya diadakan pesta umat.
Ekaristi Malam Rabu Paingan ini menggunakan iringan musik gamelan. Prosesi pembukaan Ekaristi diiringi tarian perarakan oleh sejumlah penari. Sebelumnnya juga dilakukan ritual menimba air dari Sumur Kitiran Mas. Dikatakan Ketua Pengelola SKM Gereja Santa Maria Assumpta Pakem, F.X. Suratmin, hal ini adalah sebagai cara untuk melestarikan budaya dan meneruskan spirit Bunda Maria Ibu Sungkawa (kedukaan) untuk menimba air-Nya bagi kehidupan umat.
“Tujuan penyelenggaraan Misa Malam Rabu Pahingan yang kedua itu nguri-uri kabudayan (melestarikan kebudayaan). Setiap malam Rabu Pahing, Gereja) mengadakan Misa dengan bahasa Jawa, gendhing, penari. Itu rutin,” tutur Suratmin.

Selain itu, dalam Misa peringatan 40 tahun Sumur Kitiran Mas, Rm. Sindhu dalam homilinya bercerita tentang sejarah Sumur Kitiran Mas yang konon beberapa masyarakat percaya berkaitan dengan klenik. Namun, Rm. Sindhu meluruskan bahwa kemunculan Sumur Kitiran Mas meneladan spiritualitas “kodhok” yakni teka (dibaca teko) ndhodhok (datang dan jongkok), bukan berkaitan dengan klenik. Rm. Sindhu juga merupakan orang yang merintis dan membangun Sumur Kitiran Mas di Gereja Santa Maria Assumpta Pakem ini.
“Beliau (Rm. Sindhu) yang membangun dan merintis Sumur Kitiran Mas ini,sehingga beliau tahu betul spiritualitasnya, kronologi dibangunnya, bahkan beliau sempat meluruskan bahwa ada beberapa orang yang merasa sumur ini berbau mistis. Tetapi memang pure spiritualitas meneladan spiritualitas kodhok, teka-teka ndhodhok, itu lambang kerendahan hati,” ucap Rm. Yohanes Sigit Heriyanto, Pr selaku Pastor Vikaris Paroki Maria Assumpta Pakem.
Dalam kesempatan ini juga, salah satu umat membagikan ceritanya berdoa dan berdevosi di Sumur Kitiran Mas. Kesaksian akan mukjizat yang dialami langsung oleh umat bernama Paulus Wisnu Tripranoto tersebut menjadi bukti nyata berkat dari Tuhan.

Seorang umat bernama Lucia menyampaikan kesannya terhadap Misa peringatan 40 tahun Sumur Kitiran Mas yang kali ini terasa begitu meriah dan berkesan.
“Menurut saya, acara kali ini sangat meriah dan bagus sekali dibandingkan Misa Malam Rabu Pahingan biasanya. Karena bertepatan dengan ulang tahun, suasananya terasa sangat istimewa,” ungkap Lucia.
Ia menambahkan bahwa kemeriahan tersebut tidak lepas dari peran kaum muda (OMK) yang terlibat sebagai petugas liturgi. “Petugasnya banyak dari muda-mudi yang luar biasa dan bisa diandalkan. Mereka benar-benar mumpuni dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya.
Sebagai umat yang kerap mengikuti Misa Rabu Paingan, Lucia juga mengapresiasi kehadiran para romo konselebran yang membuat perayaan terasa semakin hidup dan penuh sukacita.
Dionisius Damastya, Agnes Rosemarie








