Sleman. Penyelenggara Katolik Kabupaten Sleman mengadakan Pembinaan Keluarga Katolik yang Berwawasan Moderasi Beragama di Aula PAUD Yayasan Pelita Kasih pada Sabtu, 31 Mei 2025 dan diikuti 15 pasang suami istri (pasutri) dari Gereja Katolik Paroki Santo Petrus dan Paulus, Klepu dan Gereja Katolik Santo Yohanes Chrisostomus (Stasi Pojok, Sendangarum, Minggir).
Kegiatan yang mengambil tema “Damai Sejahtera Kristus di Keluarga” ini menghadirkan narasumber Sr. Agnes Samosir, FCJ (Koordinator FCJ Outreach), Markus Mardius (trainer, coach, dan fasilitator), serta Rm. Paulus Erwin Sasmita, Pr (staf Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan).

C.B. Ismulyadi, S.S., M.Hum. (Penyelenggara Katolik Kemenag Kabupaten Sleman) mengucapkan terima kasih kepada Pastor Paroki Gereja Katolik Paroki Santo Petrus dan Paulus, Klepu dan Gereja Katolik Santo Yohanes Chrisostomus yang menyambut baik kemitraan ini.
“Pembinaan Keluarga Katolik yang Berwawasan Moderasi Beragama ini merupakan program tahunan. Semoga kegiatan ini memberikan ruang bagi keluarga untuk melakukan refleksi terkait relasi antarpribadi, baik dalam komunikasi personal maupun iman, serta memberikan dampak bagi pendampingan keluarga di Paroki Santo Petrus dan Paulus, Klepu dan Gereja Katolik Santo Yohanes Chrisostomus, Pojok,” papar Ismulyadi.

Rm. Adolfus Suratmo Atmomartaya, Pr (Pastor Paroki Gereja Katolik Paroki Santo Petrus dan Paulus, Klepu dan Gereja Katolik Santo Yohanes Chrisostomus) menyambut baik kegiatan ini.
“Semoga melalui kegiatan ini, para pasangan suami istri dapat semakin menyadari panggilan hidup berkeluarga, semakin teguh dan tangguh, serta mampu menjadi teladan dan penggerak keharmonisan dan kesejahteraan keluarga-keluarga Paroki Santo Petrus dan Paulus, Klepu dan Gereja Katolik Santo Yohanes Chrisostomus,” harap Rm. Ratmo.

Sementara itu Sr. Agnes dalam materi Pengantar dan Spiritualitas Keluarga menyampaikan bahwa konflik lahir secara alamiah. Perbedaan pandangan hidup, iman, pola pikir, dan perilaku adalah bagian dari pengalaman hidup sebagai manusia. Konflik itu wajar. Manusia melihat dunia masing-masing melalui kacamata masing-masing sehingga diantisipasikan ada saat-saat ketika cara melihat dunia itu tidak cocok.
“Ketika konflik itu muncul dalam keluarga, kelompok atau masyarakat, ada dua pandangan yang dapat kita ambil. Kita bisa melihat konflik itu sebagai keadaan yang menyusahkan bahkan menakutkan, membuat kita rapuh dan menderita sehingga orang mengambil kesempatan untuk menghakimi, mempermalukan, atau menyalahkan. Atau, kita bisa melihatnya sebagai kesempatan belajar, bertumbuh, membangun relasi yang lebih sejati dan harmonis,” ujar Sr. Agnes.

Selanjutnya, Rm. Erwin menyampaikan materi Perbedaan Pribadi dan Relasi dalam Keluarga. Pada awal materi, Rm. Erwin mengajak peserta untuk menghubungkan antara perbedaaan yang ada dengan mengenal beberapa tipe kepribadian. Melalui tes dengan menggunakan metode MBTI, peserta mengetahui 16 ciri kepribadian yang membuat seseorang begitu berbeda dengan orang lain.
“Salah satu pemicu konflik adalah tidak memahami perbedaan pribadi. Beberapa orang lebih terbuka daripada yang lain, sementara beberapa orang lebih pendiam. Beberapa orang merasa nyaman untuk tetap berada di belakang layar. Beberapa orang lebih analitis atau lebih kreatif, sementara yang lain lebih menyenangi kestabilan. Apa yang membuat setiap orang unik adalah kombinasi dari ciri-ciri kepribadian mereka,” tutur Rm. Erwin.

Dalam materi Komunikasi Keluarga, Markus mengajak pasangan suami istri untuk mengetahui model komunikasi tipe E/I (Ekstrovert/Introvert), S/In (Sensing/Intuition), T/F (Thinking/Feeling), P/J (Perceiveng/Judging), dan menerapkan tipe komunikasi asertif, agresif, submisif.
“Kita juga perlu mengetahui kendala komunikasi, misalnya bahasa, kepercayaan, pendidikan, budaya,” jelas Markus. “Kunci komunikasi adalah ketika kita memahami kepribadian kita, kita perlu menempatkan diri ketika berelasi dengan orang lain dan atau pasangan yang memiliki tipe kepribadian berbeda dengan diri kita.”
Pada akhir acara, para pasangan suami istri diundang untuk menulis niat/komitmen, mempersembahkan bunga mawar dan bendera Merah Putih. Proses ini menandakan semangat pembaruan diri untuk membawa damai bagi dan dalam keluarga, masyarakat, dan negara.








