Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) adalah kegiatan yang bersifat wajib bagi pengurus OSIS SMP Kanisius Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam rumusan Visi SMP Kanisius Pakem, jelas dinyatakan: sebagai komunitas pendidikan yang trasformatif dan menumbuhkan kemerdekaan berpikir demi terwujudnya sekolah yang unggul, peduli, dan melayani, sekolah mendidik siswa menjadi pemimpin pengabdi yang memiliki nilai (value) 5 K.
Nilai 5 K yaitu keunggulan, kejujuran, kepedulian, kedisiplinan, dan kemerdekaan demi kemulian Allah yang lebih besar. Sebagai sebuah sekolah Katolik yang berlindung pada Santo Petrus Kanisius, SMP Kanisius Pakem setia pada visi dan misi yang telah dicanangkan.
Sekolah Kanisius sejak awal bercita-cita mewartakan kabar gembira Yesus Kristus melalui pendidikan sebagai kepanjangan tangan dari Gereja yang memiliki lima tugas. Lima tugas tersebut adalah Pewartaan (Kerygma), Pelayanan (Diakonia), Persekutuan (Koinonia), Peribadatan (Liturgia), dan Kesaksian (Martyria). Maka, Sekolah Kanisius selalu mengoptimalkan pendidikan karakter lewat pendampingan yang diberikan.
Oleh karena itu, kegiatan LKTD OSIS ini sebagai jawaban atas konteks perkembangan zaman yang dihadapi saat ini. Mengapa demikian? Sebab, perubahan bisa terjadi jika orang-orang yang terlibat di dalamnya, yaitu pengurus OSIS, memiliki karakter pemimpin yang tangguh untuk menghadapi tantangan zaman.
Dalam konteks inilah, LKTD diberikan kepada seluruh pengurus OSIS untuk menanamkan butir-butir nilai kepemimpinan ke dalam diri siswa sejak awal. LKTD adalah sarana bagi para pengurus OSIS SMP Kanisius Pakem untuk belajar memimpin dirinya sendiri lebih dulu, terutama mengatasi kelemahan dengan makin menghayati butir-butir kepemimpinan anak muda. Setelah itu akan berkembang dan berlanjut untuk memimpin orang serta lingkungan di sekitarnya. Selanjutnya, proses dan dinamika kegiatan LKTD diawali dengan Pra-LKTD.
Kegiatan Pra-LKTD terkait dengan “mengenal diri” lewat pendekatan Jendela Johari. Jendela Johari adalah sebuah alat psikologis yang dikembangkan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham pada tahun 1955. Tujuan dari model ini adalah untuk meningkatkan pemahaman diri dan komunikasi interpersonal dengan mengidentifikasi dan mengelola informasi yang diketahui dan tidak diketahui tentang diri seseorang dalam konteks interaksi sosial.
Jendela Johari terdiri dari empat kuadran atau area yang mewakili berbagai aspek dari diri seseorang dalam hubungan sosial. Model ini menggunakan dua dimensi utama: informasi yang diketahui dan tidak diketahui oleh diri sendiri, serta informasi yang diketahui dan tidak diketahui oleh orang lain.
Ada empat pendekatan dalam Jendela Johari. Pertama, Area Terbuka (Open Area). Area ini mencakup informasi tentang diri kita yang kita ketahui dan orang lain juga ketahui. Hal ini termasuk hal-hal seperti nama kita, status kita, kebiasaan, nilai, serta kepribadian yang kita tampilkan secara terbuka.
Kedua, Area Tersembunyi (Hidden Area). Informasi yang kita ketahui tentang diri kita tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Contohnya termasuk perasaan pribadi, kekhawatiran, pengalaman masa lalu, dan rahasia pribadi.

Ketiga, Area Buta (Blind Area). Mencakup informasi yang orang lain ketahui tentang kita tetapi kita sendiri tidak menyadarinya. Misalnya, kebiasaan tertentu atau reaksi emosional yang kita tidak sadari tetapi diamati oleh orang lain.
Keempat, Area Tidak Diketahui (Unknown Area). Aspek dari diri kita yang tidak diketahui, baik oleh kita sendiri maupun oleh orang lain. Hal ini mungkin termasuk potensi tersembunyi, bakat yang belum terasah, atau bagian dari diri kita yang belum dieksplorasi.
Konsep implementasi dan manfaat dari Jendela Johari berfokus pada bagaimana model ini dapat diterapkan dalam praktik untuk meningkatkan komunikasi, hubungan interpersonal, dan pengembangan diri. Melalui pengembangan area terbuka, pengurangan area tersembunyi dan buta, serta eksplorasi area tidak diketahui, individu dan kelompok dapat mencapai pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri dan orang lain, yang pada akhirnya mendukung pertumbuhan pribadi dan professional.
Dengan demikian, seorang pemimpin akan paham tentang dirinya dengan utuh sehingga juga akan paham dengan lingkungan sekitarnya juga dengan kata lain orang hanya bisa memberi, ketika dirinya memiliki.
Berikutnya, kegiatan LKTD mencakup sejumlah dinamika, antara lain pendahuluan, orasi, visualisasi, wide games, sharing tiga putaran, peneguhan, dan refleksi.
Pendahuluan, mengenal kepemimpinan Ignatian, model kepemimpinan yang berakar pada prinsip-prinsip spiritualitas Ignatian, yang diambil dari ajaran Santo Ignatius Loyola, pendiri Serikat Yesus (Jesuit). Kepemimpinan Ignatian mengutamakan pengembangan pribadi yang utuh, berorientasi pada pelayanan kepada orang lain, dan selalu diarahkan pada pencarian kehendak Tuhan dalam segala hal.
Tujuan dari konsep ini supaya siswa memiliki kepemimpinan Ignatian yang tidak hanya menekankan pada pencapaian target dan keberhasilan material, tetapi juga pada proses transformasi diri, pelayanan kepada sesama, serta pencarian kehendak Ilahi di dalam setiap aspek kehidupan.
Pada kegiatan orasi, peserta diminta untuk merancang terkait dengan keprihatinan yang ada dalam dirinya tentang nilai 5 KANISIUS (keunggulan, kejujuran, kepedulian, kedisiplinan, dan kemerdekaan), kemudian melakukan orasi dihadapan semua peserta dan pendamping.
Visualisasi (teater mini), menampilkan hasil refleksi ataupun sharing dan pemaknaan dari sebuah pengalaman dengan melibatkan seluruh indra dari masing-masing tema orasi yang kemudian disimpulkan dalam kelompok mejadi satu tema besar.
Dinamika wide games merupakan salah satu sarana untuk menanamkan butir-butir kepemimpinan melatih kerja sama, kekompakan, dan kreativitas dalam memecahkan permasalahan. Dinamika ini dalam bentuk Komunikata, yaitu menebak kata secara berurutan terkait dengan 10 butir kepemimpinan dan pengibaran bendera merah putih dengan menggabungkan tongkat setiap kelompok yang disusun menjadi satu sebagai tiang bendera sehingga tiang bisa berdiri kukuh untuk bendera berkibar.

Sharing tiga putaran. Pengalaman rohani bisa hadir melalui pengalaman orang lain dan dalam sharing masing-masing peserta diajak untuk mencermati pengalaman rohani dan mendengarkan orang lain sebagai sarana untuk saling meneguhkan atas pengalaman praktik baik yang telah dilaksanakan.
Peneguhan. Dalam proses ini meliputi dua hal. Pertama, pengikatan makna, memberikan peneguhan lewat pengalaman yang sudah dilaksanakan atas nilai-nilai yang telah didapat dalam kegiatan, selain itu juga setiap kelompok menyampaikan sharing atas nilai/value dari dinamika yang telah dilaksanakan dalam sharing tiga putaran. Kedua, ibadat penutup, menyerahkan segala usaha dan rencana kepada Tuhan atas proses dan dinamika yang dilalui, supaya memberikan manfaat dan daya ubah yang baik untuk perkembangan karakter pengurus OSIS sehingga dapat menjadi pemimpin-pemimpin pelayanan yang tangguh.
Refleksi. Pada akhir kegiatan, seluruh siswa wajib melakukan refleksi di rumah dengan menuliskan pengalaman-pengalaman yang berkesan dan bermanfaat dalam dirinya terkait nilai atau value yang dapat dihidupi.
Harapannya, ketika semua proses pembinaan ini terlaksana, para pengurus OSIS SMP Kanisius Pakem dapat mempunyai semangat kepemimpinan yang utuh dan tangguh, yang dibangun berdasarkan kesadaran diri, ingenuitas, cinta kasih, dan heroisme.
Berikutnya, semangat kepemimpinan itu diharapkan tidak hanya sekadar menjadi sebuah “omongan”, tetapi menjadi cara hidup yang dihayati secara konsisten, supaya bisa menjadi pribadi yang dapat menjawab tantangan dunia di kemudian waktu, baik untuk pribadinya maupun orang lain.
Y. Endang Setya Handayani, S.Pd. (Kepala SMPK Kanisius Pakem)








