Tak Lagi Jadi Kampung Serani, Paroki San Juan Bangun Kesadaran Multikultur

News1269 Views

Flores Timur. Paroki San Juan Lebao Tengah, Keuskupan Larantuka menggelar kegiatan dialog lintas agama pada Sabtu, 18 Oktober 2025. Kegiatan itu menghadirkan Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Flores Timur sebagai para panelis serta Dr. Anselmus Atasoge sebagai pendamping ahli. Pesertanya, selain utusan umat paroki, juga perwakilan dari umat Islam, Protestan, dan Hindu.

Paroki San Juan terbentuk dari tujuh kampung serani pada masa lalu, yakni Gege, Lebao, Kampung Tengah, Riang Nyiur, Tabali, Kota Rowido, dan Kota Sau. Disebut kampung serani, karena sebelum bencana banjir di Larantuka pada 27 Februari 1979, ketujuh kampung itu hanya dihuni warga beragama Katolik. Lantaran demikian, teritorial itu diklaim sebagai tempat hunian umat Katolik.

Akibat bencana banjir tersebut Kantor Pemerintah, tempat pelayanan publik seperti rumah sakit maupun rumah-rumah pegawai dibangun di wilayah itu. Konsekuensinya, kampung serani beralih menjadi lima kelurahan yang multikulur, yaitu Waihali, Puken Tobi, Sarotari, Sarotari Tengah, dan Sarotari Timur.

Peralihan itu hendaknya diiikuti dengan perubahan sikap dan perilaku. Pergeseran struktur sosial berdampak pada perubahan kultur. Hal itu perlu disadari agar tidak mengalami kejutan-kejutan yang mengarah pada konflik yang mengancam kerukunan hidup antarumat beragam agama.

Semua agama mengajar umatnya untuk hidup berdampingan dengan sesama saudara yang berlainan agama dengan rukun dan damai.

Inilah yang menjadi latar belakang Dewan Pastoral Paroki San Juan Lebao Tengah menggelar kegiatan dialog lintas agama. Tujuannya agar umat Katolik San Juan menyadari bahwa wilayah tujuh kampung itu tidak lagi disebut tanah serani, mereka tidak lagi hidup sendirian sebagai orang Katolik, melainkan wilayah itu telah dihuni orang beragam, multikultur.

Dengan demikian, sikap tertutup dan menutup diri bagi kehadiran sesama yang lain atau fanatisme sempit sudah harus ditinggalkan. Kesadaran yang sama hendaknya dimiliki juga oleh para pendatang baru yang non-Katolik. Mereka juga tidak lagi membawa sikap intoleransi dari tanah asalnya yang eksklusif. Dengan demikian terbangun toleransi dan moderasi yang membuahkan kerukunan dan kedamaian hidup.

Peserta pertemuan sangat puas dengan dialog itu. Ternyata, sesungguhnya semua agama mengajar umatnya untuk hidup berdampingan dengan sesama saudara yang berlainan agama dengan rukun dan damai. Disimpulkan bahwa konflik karena perbedaan agama dipicu oleh orang yang rendah kualitas imannya atau hendak memanfaatkan agama untuk kepentingan lain, seperti politisasi, menjadikan agama sebagai media politik.

Menyadari bahwa dialog lintas agama itu penting dalam masyarakat multikultur dianjurkan agar Forum Kerukunan Umat Beragama masif melakukannya. Hal yang dialami di Paroki San Juan ini hendaknya memberi inspirasi dan motivasi untuk melakukannya dalam komunitas-komunitas berbagai agama, keiklasan membuka diri, dan membangun dialog. Tidak eksklusif dan hidup penuh curiga.

Bernardus Tukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *