Sleman. Acara puncak St. Peter Competition and Art Festival (SPECTA 2025) berlangsung meriah di Paroki Santo Petrus Warak, Minggu, 26 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi wadah bagi Orang Muda Katolik (OMK) untuk berkarya, menyalurkan potensi, dan menjalin kebersamaan lintas paroki.
Ketua panitia, Mikael Maria Anasera atau akrab disapa Wastu, menjelaskan bahwa ide SPECTA lahir dari keprihatinan terhadap banyaknya OMK yang belum memiliki ruang untuk berkembang.
“SPECTA hadir agar OMK dapat menggali dan merealisasikan potensi mereka. Kami terinspirasi dari kisah Santo Petrus, dari keterbatasan pun seseorang bisa bangkit dan menjadi berkat,” ujar Wastu.
SPECTA mencakup dua rangkaian utama, yakni kompetisi dan Ekaristi Kaum Muda (EKM) sebagai puncak acara. Lomba-lomba yang diselenggarakan antara lain Mobile Legends, melukis, dan futsal yang diikuti OMK dari berbagai paroki di Kevikepan Yogyakarta Barat selama sebulan penuh.
SPECTA yang mengusung tema “Mengenali Diri, Menyuarakan Asa, dan Melangkah Bersama” ini mengajak kaum muda untuk menemukan jati diri dan bertumbuh dalam komunitas.

“Banyak OMK menghadapi tantangan seperti perundungan dan kesepian. Melalui kegiatan ini, mereka belajar bahwa mereka tidak sendiri,” jelas Rm. Yohanes Yunuar Ismadi, Pr selaku Pastor Paroki Warak.
Rm. Yunuar menambahkan bahwa SPECTA menjadi EKM pertama setelah lama vakum dan mendapat sambutan luar biasa. “Awalnya hanya untuk satu paroki, tapi semangat OMK luar biasa. Harapannya, mereka makin solid dan sering berkumpul,” bangganya.
Pada saat homili, ia mengajak OMK menyimak film karya OMK Paroki Warak yang menggambarkan pergulatan anak muda dalam menghadapi tekanan hidup dan pencarian makna. Melalui refleksi tersebut, Rm. Yunuar mengajak umat merenungkan realitas hidup kaum muda masa kini yang sering kali “tidak baik-baik saja.”
Ia menjelaskan bahwa sejak usia SMA, banyak dari mereka hidup dalam tekanan dan tuntutan untuk berprestasi, memiliki banyak keterampilan, memilih jurusan kuliah yang tepat, lulus tepat waktu, bekerja, menikah, hingga memiliki rumah dan mobil.
Tuntutan hidup yang berlebihan ini, menurut Rm. Yunuar, membuat banyak orang muda merasa kelelahan dan kehilangan arah. Ia menyinggung kisah nyata tentang remaja yang tertekan, serta maraknya kasus pergaulan bebas yang berujung pada peristiwa tragis di masyarakat.

Homili tersebut menjadi simbol ajakan untuk mencari alternatif hidup yang lebih berpengharapan dengan mengenali diri, menyadari kasih Allah, dan melangkah bersama komunitas.
Usai Misa, kegiatan berlanjut dengan pembagian hadiah lomba dan panggung musik yang dimeriahkan oleh berbagai band serta penampilan spesial dari penyanyi dangdut. Salah satu personel band, Bagas, turut berbagi kesan setelah tampil.
“Penontonnya antusias, semua bisa bersenang-senang bersama. Kolaborasi lintas paroki seperti ini harus terus dijaga,” komentar Bagas.
Salah satu OMK Warak, Tia, turut berbagi kesannya, “Kegiatan seperti ini jarang ada di paroki kami. Ini awal yang baik untuk OMK saling mengenal dan berkarya.”
Rangkaian SPECTA 2025 ditutup dengan Ekaristi Kaum Muda dan art festival dengan penuh sukacita. Sorak gembira dan tawa para OMK menjadi bukti bahwa semangat Santo Petrus untuk bangkit dan melangkah bersama tetap hidup di hati generasi muda Gereja.
Agnes Rosemarie








