Seratus Kali Lipat

Renungan Harian1094 Views

Puncta 28 Mei 2024
Selasa Biasa VIII
Markus 10: 28-31

SEORANG anak kecil datang kepada ibunya menyerahkan surat. Ibunya menerima dan membaca tulisan anaknya.

“Mama sayang, disuruh mama menyapu lantai, upahnya sepuluh ribu. Disuruh mama mencuci piring, upahnya sepuluh ribu. Disuruh mama mencuci baju, upahnya dua puluh ribu. Disuruh mama menjaga adik, upahnya sepuluh ribu. Kalau dijumlah utang mama hari ini adalah lima puluh ribu.”

Ibunya tersenyum dan menulis balasan di balik kertas itu. Lalu dikembalikan kepada anaknya. Anak itu membaca surat balasannya.

“Sembilan bulan mama mengandungmu, cinta mama gratis. Penderitaan saat mama melahirkanmu, cintaku gratis. Tiap hari mama menyusuimu, cintaku gratis. Tiap malam mengganti popokmu, cinta mama gratis. Tiap hari mama menyiapkan makan, minum, baju dan sepatu, cinta mama kepadamu gratis. Kalau dijumlahkan semua cinta mama gratis.”

Anaknya menangis dengan air mata menetes di pipinya. Ia merasa tidak ada apa-apanya segala tindakan yang dilakukan jika dibandingkan dengan cinta mamanya.

Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau.” Kalimat itu tampaknya belum selesai. Mungkin kalimat selanjutnya adalah, “Apa yang akan kami dapat dari-Mu?”

Ada pamrih di dalam setiap tindakan kita kepada orang lain, bahkan untuk Tuhan pun juga begitu. Saya mendapat apa jika saya mengikuti Engkau dan meninggalkan segala sesuatu?

Ada hitung-hitungan untung rugi yang kita ajukan. Ini yang namanya “do ut des“.

Tuhan mengasihi kita tidak memakai hitung-hitungan. Seperti cinta seorang ibu kepada anaknya, semuanya diberikan dengan gratis alias cuma-cuma. Tuhan memberikan berlipat-lipat karena kasih-Nya kepada kita.

“Pada masa ini juga ia akan menerima seratus kali lipat, dan di masa datang ia akan menerima hidup yang kekal,” demikianlah jaminan Tuhan kepada orang yang berani mempersembahkan hidupnya.

Sayangnya, kita sering membuat perhitungan pada Tuhan. Tidak ikhlas waktu “terbuang” untuk berdoa dan beribadah pada Tuhan. Pergi ikut ekaristi di gereja dianggap sebagai buang-buang waktu dan tidak dapat apa-apa.

Kalau begitu apa yang dikatakan Yesus juga berlaku bagi kita. “Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

Kalau kita mendahulukan diri sendiri, kita akan menjadi yang terakhir. Tetapi kalau kita mendahulukan Tuhan, dan berani menempatkan diri kita di urutan yang terakhir, Tuhan akan menempatkan kita terdahulu.

Dari Bangkok menuju Pattaya,
Ada gadis cantik ternyata ngebass suaranya.
Allah hanya ingin mengasihi kita.
Cinta-Nya kekal untuk selamanya.

Don Mueang, jalan-jalan bersama
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *