Sleman. Menjelang Hari Raya Paskah, muda-mudi Katolik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sukses mementaskan tablo perdana mereka yang bertajuk Tablo Athanasius UGM 2026.
Pementasan ini dilaksanakan di Kawasan Gereja St. Athanasius UGM pada Jumat, 3 April 2026. Sejak pukul 08.00, umat mulai berdatangan. Baik remaja, dewasa, lansia, hingga anak-anak, mereka bersama-sama hadir untuk menyaksikan maupun merenungkan peristiwa Jalan Salib.
Rangkaian acara diawali dengan open gate pada pukul 08.00. Acara kemudian dibuka oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan sambutan dari Leonardus Setyo Radityatmoko selaku pimpinan produksi serta Rm. Agustinus Daryanto, SJ selaku Ketua Tim Kerja Pusat Pastoral Mahasiswa Yogyakarta.
Leonardus berharap tablo ini bisa menghadirkan peristiwa Jalan Salib yang dapat dilihat dan diresapi langsung oleh umat, khususnya pada peringatan Jumat Agung. “Dengan begitu, setiap orang yang menyaksikan dapat dituntun kepada permenungan yang lebih mendalam, yang merupakan tujuan utama dari Tablo Athanasius UGM 2026,” paparnya.
Selanjutnya, Rm. Daryanto juga berharap tablo ini bisa menjadi sarana permenungan iman para umat sekaligus menghidupkan semangat kekatolikan di tengah kemajemukan lingkungan kampus.
Usai sambutan, umat diajak untuk mendekat ke area panggung sebagai persiapan memasuki rangkaian permenungan Jalan Salib.
Di atas panggung, umat diajak menyaksikan Yesus yang tengah berdoa di Taman Getsemani dalam sunyi. Kesunyian seketika berubah menjadi gemuruh ketika Yudas Iskariot bersama para prajurit Romawi datang untuk menangkap-Nya.
Pengkhianatan tersebut membawa Yesus ke hadapan pengadilan Romawi, yang pada akhirnya menjatuhkan hukuman mati atas diri-Nya. Ia yang tidak bersalah diseret dan dianiaya, tubuh-Nya dipenuhi luka. Di sisi lain, Yudas yang diliputi penyesalan, menyerakkan koin-koin perak dari genggamannya sebelum akhirnya lenyap dari pandangan umat.
Adegan menjadi semakin intens ketika pemeran Yesus berjalan tertatih, menembus kerumunan umat sambil memanggul salib. Dengan tubuh penuh luka dan pakaian berlumur darah, ia mendekat tanpa sekat. Momen ini menegaskan bahwa sengsara yang ditampilkan bukanlah peristiwa yang jauh. Kehadiran umat di tengah derita itu menjadi suatu isyarat bahwa sengsara-Nya terjadi karena kejahatan manusia.

Tak lama kemudian, Yesus terjatuh tepat di tengah kerumunan umat. Seketika, terdengar teriakan seorang prajurit yang meminta Simon dari Kirene untuk membantu memanggul salib-Nya. Sesampainya kembali di panggung, Yesus yang kini tak lagi dibantu oleh Simon dari Kirene, ditanggalkan pakaiannya dan dibaringkan di atas kayu salib.
Di saat itu pula, bersama gema suara ketukan palu, paduan suara melantunkan Via Dolorosa yang begitu syahdu. Suasananya begitu jelas menggambarkan perjalanan penderitaan Kristus. Dia yang tidak berdosa harus menanggung hukuman, bahkan disalibkan bersama para penjahat.
Cemooh dan tangisan pemain bercampur menjadi satu, memberikan suasana yang menyayat hati, ketika umat menyaksikan bagaimana pengorbanan Kristus justru dihina dan ditertawakan. Sorak-sorai yang berpadu dengan isak tangis semakin meluap ketika salib Yesus ditegakkan.
Puncak peristiwa terjadi saat Yesus wafat di kayu salib. Seluruh umat bersimpuh dalam keheningan, tercipta suasana sakral nan penuh duka. Dalam hening itu, muncul sosok Veronika yang membawa kain bergambar wajah Yesus.
Diiringi nyanyian solo yang lirih, momen ini menjadi titik kulminasi yang menyentuh batin banyak umat. Tak sedikit yang larut dalam kesedihan, bahkan hingga menitikkan air mata.
Salah seorang umat mengungkapkan bahwa visualisasi dalam tablo ini tidak hanya memukau secara artistik, tetapi juga mampu menggugah emosi hingga membawanya pada permenungan yang lebih dalam. Resonansi yang sama juga dirasakan oleh penonton dari latar belakang non-Katolik. Salah seorang penonton yang hadir mengaku bahwa keikutsertaannya berawal dari ajakan seorang teman.
“Awalnya saya diajak oleh seorang teman, dan sejak awal sudah merasa tertarik untuk melihat. Pengalaman ini menjadi sesuatu yang baru dan berkesan bagi saya, sekaligus menghadirkan semangat toleransi dan kebersamaan di tengah perbedaan,” ujarnya.

Sementara itu menurut Gabriel Arsadarma Wirawan, salah seorang mahasiswa Sekolah Vokasi UGM yang berperan sebagai Yesus, keterlibatannya dalam tablo ini menjadi peneguhan sekaligus penyegaran iman. Selama proses persiapan, ia tidak hanya melakukan latihan fisik untuk adegan penyaliban, tetapi juga mempersiapkan diri secara spiritual dengan lebih rutin mengikuti perayaan Ekaristi.
“Melalui proses ini, saya merasakan kedekatan yang lebih personal dengan Tuhan Yesus, sekaligus semakin menyadari betapa besar kasih Kristus kepada umat manusia melalui pengorbanan-Nya. Kesadaran ini mendorong saya untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, sebagai bentuk penghargaan atas kasih dan pengorbanan Kristus,” tutur Arsa.
Secara menyeluruh, Tablo Athanasius UGM 2026 mengingatkan akan makna sengsara Kristus yang membawa keselamatan bagi umat manusia. Dalam kasih-Nya, Ia rela mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia, serta merendahkan diri-Nya dalam ketaatan sampai mati.
Seluruh pengorbanan-Nya semata-mata adalah karena kasih yang begitu besar bagi manusia. Ia rela menderita demi menyelamatkan manusia, yang bahkan karena manusia, Ia ditikam dan diremukkan.
Pengalaman iman yang dihadirkan melalui pementasan ini pun tidak berhenti pada saat pertunjukan berakhir. Tablo Athanasius UGM ini dapat terus berlanjut sebagai sarana untuk merenungkan kasih Kristus secara lebih mendalam serta sebagai upaya penerapan Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB). Terlebih, kegiatan ini juga melibatkan pemeran dari siswi-siswi SMA Santa Maria Yogyakarta dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta.
Pada akhirnya, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kasih dan pengorbanan Kristus bukan sekadar kisah untuk dikenang, melainkan juga untuk dihidupi.
Rafaela Delonix














