Sleman. Suasana perayaan penuh sukacita menyelimuti Paroki St. Petrus dan Paulus Babadan. Menandai peristiwa bersejarah Tumbuk Ageng (64 tahun) pemberkatan Gereja sejak diresmikan Rm. Justinus Darmayuwono, Pr pada 15 Agustus 1962, sekaligus memperingati 15 tahun berdirinya status paroki, umat menyajikan pergelaran seni dan budaya yang sarat makna.
Puncak perayaan budaya berupa pementasan ketoprak bertajuk “Mbangun Padhepokan Tresna Jati” siap digelar di area parkir belakang gereja pada Senin, 24 Agustus 2026 pukul 19.00.
Pementasan ketoprak ini merupakan bagian dari rangkaian panjang momentum perayaan syukur yang membalut kebersamaan umat. Sebelumnya, Paroki Babadan telah menyemarakkan peringatan ini melalui Festival Gamelan Lagu Ardas IX Keuskupan Agung Semarang (KAS) se-Kevikepan Yogyakarta Timur, Pameran Lukisan Rohani di aula gereja, serta ekspo panggilan bagi generasi muda, Perayaan Ekaristi Misa Puncak Syukur, dan diakhiri pementasan ketoprak sebagai ajang refleksi bersama.
Di tengah deretan kegiatan agung tersebut, pementasan ketoprak “Mbangun Padhepokan Tresna Jati” hadir menjadi ruang perjumpaan budaya yang inklusif dan mempererat persaudaraan lintas komunitas.
Kehangatan srawung ini kian terasa dengan hadirnya para tamu undangan dari unsur pemerintah lokal, tokoh lintas agama, serta masyarakat sekitar, di antaranya Lurah Wedomartani Teguh Budianto, jajaran Forum Kerukunan Umat Beragama Rembug Lintas Agama (FKUB-Rela) Kelurahan Wedomartani, serta warga masyarakat terdekat dari Padukuhan Dolo dan Pokoh.
Naskah pementasan yang dirakit Sambodo dan disempurnakan Ki Wardjudi Wignyosworo ini mengangkat babad nyata perjuangan para pendahulu dalam merintis Gereja Babadan. Seluruh pertunjukan dibawakan langsung oleh umat yang menyatukan diri dalam wadah Pentas Ketoprak Sembada Budaya, serta diramaikan bintang tamu seperti Ki Wahjudi Wignyosworo, Purwanti, Kasilah, serta Rm. Ignatius Fajar Kristianto, Pr dan Rm. FX. Merry Kristian Putra, Pr.
Pastor Paroki St. Petrus dan Paulus Babadan, Rm. Antonius Saptono Hadi, Pr, menyampaikan pementasan ini adalah ruang refleksi dan perjumpaan iman bersama masyarakat.
“Pementasan ketoprak maupun seluruh rangkaian festival ini bukan sekadar panggung hiburan atau perayaan seremonial belaka. Melalui lakon ‘Mbangun Padhepokan Tresna Jati’, kita diajak melihat kembali akar sejarah dan dedikasi para pendahulu yang telah berjuang meletakkan batu pertama iman serta mendirikan Gereja ini,” ungkap Rm. Saptono.
Ia menekankan pentingnya integrasi antara kebudayaan lokal, pembinaan iman, dan kerukunan kemasyarakatan.
“Harapan besar kami, rangkaian acara dari pameran, festival gamelan, hingga pementasan ketoprak ini menjadi jembatan pewarisan pengetahuan, nilai-nilai perjuangan, serta pendidikan iman bagi generasi penerus. Ini adalah wujud nyata komitmen kita untuk terus nguri-uri (melestarikan) kebudayaan Jawa sekaligus merawat tali silaturahmi dengan pemerintah, tokoh agama, dan warga sekitar Dolo serta Pokoh. Sungguh membanggakan melihat antusiasme umat—bahkan banyak yang baru pertama kali main ketoprak—tetapi mau berproses bersama melalui latihan yang mempererat rasa persaudaraan,” tuturnya.
Melalui dinamika kebersamaan ini, umat Paroki St. Petrus dan Paulus Babadan diharapkan semakin solid, menghargai warisan sejarah, serta semakin teguh melanjutkan warta kasih dan kerukunan di tengah masyarakat.








