Sleman. Pekan lalu, 25-27 Agustus 2023, Majalah BASIS kembali menyelenggarakan Sekolah BASIS dengan tema “25 Tahun Reformasi” serta semboyan domus scriptorum (rumah para penulis) di Omah Petroek Karang Klethak, Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Dalam penyelenggaraan Sekolah BASIS musim ketiga ini, Majalah BASIS bekerja sama dengan Penerbit KPG, Komunitas Utan Kayu, dan Periplus. Sekolah BASIS yang pertama kali digelar secara offline alias tatap muka ini ditujukan bagi orang-orang muda yang ingin mengasah keterampilan menulisnya serta mendalami ide-ide politik, khususnya dalam konteks peristiwa Reformasi yang terjadi di Indonesia 25 tahun silam.
Dengan mengikuti Sekolah BASIS, para peserta akan mendapatkan dua pokok pembekalan, yakni teknis menulis dan ide-ide politik.
Pelatihan menulis diberikan oleh Rm. G.P. Sindhunata SJ, Ayu Utami, Rm. A. Setyo Wibowo SJ, dan tim redaksi Majalah BASIS. Pendalaman ide-ide politik diberikan oleh Valentina Sagala, Yustinus Prabowo, Dewanto Handoko, Suci Mayang Sari, Rm. B. Hari Juliawan SJ, Rm. C. Bayu Risanto SJ, dan Rm. J. Haryatmoko SJ.
Dalam sesi Kelas Menulis, Rm. Sindhu menyebut buku legendaris Mengarang Itu Gampang karya Arswendo Atmowiloto. Namun, kata Rm. Sindhu, sebenarnya menulis itu tidak mudah. Buku itu diberi judul demikian supaya orang tertarik menulis.
Di mata Rm. Sindhu, penulis harus berada di dunia yang memang kontemplatif dan sepi. Maka, tempat-tempat yang sunyi seperti Omah Petroek sangat sesuai bagi penulis. Sebab, alam raya membantu aktivitas menulis.

“Ketika Anda bicara, menghadapi massa atau publik, Anda mendapat aplaus, tanggapan, berdialog, berdebat, tapi setelah itu selesai. Mungkin apa yang Anda ceramahkan tidak akan diingat lagi. Tapi kalau menulis, Anda harus bergulat hanya dengan komputer di depan Anda dan berpikir. Tidak ada publik yang menyoraki Anda. Itulah bedanya. Kalau menulis tidak dalam situasi hening, tidak bisa. Maka, jarang sekali orang mau menulis. Tuhan sedikit sekali memberikan penulis, padahal kita butuh sekali penulis,” tutur Rm. Sindhu di hadapan para peserta.
Rm. Sindhu pun mengaku tidak mau menyebut alm. Kuntowijoyo sebagai sastrawan, karena sebutan itu sudah menyempitkannya dalam satu bidang. “Dia itu penulis. Karena Pak Kunto ini bisa menulis sejarah dan sebagainya,” tegas Rm. Sindhu.
Demikian pula Rm. Sindhu sebagai penulis. Dengan latar belakang sebagai wartawan, Rm. Sindhu bukan spesialis pada bidang filsafat karena ia juga menulis tentang sepak bola, feature, serta karya ilmiah.
“Pekerjaan saya hanya itu, bukan dosen atau pembicara yang baik. Berbicara itu lain sekali dengan menulis. Kadang-kadang tugas (menulis) itu berat kita lakukan, sedangkan berbicara itu seperti memudahkan sesuatu,” ucap Rm. Sindhu.
Dengan berbicara, menyatakan suatu pernyataan kemudian menyadari bahwa ada yang keliru, bisa langsung mengoreksi dengan kalimat berikutnya. Namun, hal itu tidak bisa dilakukan saat menulis. Dari kata per kata harus sudah dipikirkan sebelumnya, misalnya di mana letak kata-kata dan tanda baca akan ditempatkan. “Itu harus jelas semua. Setelah satu alinea selesai, bagaimana menyambungkannya ke alinea berikutnya,” tunjuk penulis novel klasik Anak Bajang Menggiring Angin ini.
Sekarang, dengan maraknya pembicara dan kurangnya penulis, juga menjadi indikasi keprihatinan yang luar biasa bagi Rm. Sindhu. Sebab, tidak banyak orang yang mau menggali kedalaman dan kesunyian untuk menulis.
“Populer itu lebih mudah. Apalagi digoda dengan honorarium. Anda bicara satu jam dapat 1 atau 2 juta, apalagi kalau terkenal. Menulis dua sampai tiga hari, bila dimuat hanya dapat 300 ribu. Atau, satu puisi dihargai 50 ribu. Siapa yang mau?” tanya Rm. Sindhu memberi gambaran.
Bagi Rm. Sindhu, hal ini merupakan suatu keprihatinan yang luar biasa. “Makin hari kepenulisan ini makin terpojok. Maka, kalau Majalah BASIS menjadi single fighter, sendiri di dalam perjuangannya, semua sudah berguguran, itu karena tidak banyak orang yang mau menulis,” ungkapnya prihatin.
Dalam iklim akademis, orang bisa menulis, tetapi tidak mau jika disuruh menulis untuk umum karena yang diburu adalah kredit poin untuk akreditasi, jurnal, dan sebagainya. Menulis pun menjadi sekadar instrumen untuk mengejar karier, bukan untuk berekspresi diri. “Ini juga repot dalam dunia sekarang ini,” lanjut Rm. Sindhu.
Keadaan seperti ini patut menjadi keprihatinan. “Di tengah keadaan semacam ini, kita dihantam oleh arus media sosial, yang menulis paling tidak mutu pun Anda bisa. Dulu tidak mungkin, menulis itu paling tidak ya ada mutunya. Tantangannya bagi generasi Anda, betapa beratnya untuk menjadi penulis. Semoga Anda makin termotivasi untuk menulis,” harap Rm. Sindhu.

Dalam Kelas Menulis kelompok lain, Ayu Utami menyampaikan salah satu problem dalam menulis di media massa, yakni tentang panjang naskah. Sebab, setiap media menyediakan jumlah halaman atau bidang yang terbatas untuk memuat sebuah naskah. “Kita memakai lahan dari media, maka kita mengikuti peraturan mereka,” lontar penulis novel Saman ini.
Sementara itu, Rm. A. Setyo Wibowo SJ selaku Pemimpin Redaksi Majalah BASIS terkesan dengan para peserta yang latar belakangnya variatif. Di antara mereka ada yang pernah ikut Sekolah BASIS sebelumnya secara online dan ada yang tidak.
“Banyak yang tidak ikut online dan (sebelumnya) tidak kenal Sekolah BASIS. Tapi mereka termotivasi ingin latihan menulis. Ada juga yang motivasinya hanya ingin healing, karena momennya pas habis ujian. Tapi yang menyatukan, mereka ingin memperdalam sesuatu dalam hidup mereka. Ada yang sudah menulis, ada yang bikin komik, ada yang ingin mendapat perspektif baru. Saya terkesan dengan teman-teman yang dari beraneka ragam rupa ini punya motivasi untuk belajar menulis,” ungkap Rm. Setyo.
Beberapa di antara peserta ada yang merupakan dosen, bergelar S-3, mahasiswa, bahkan ada anak SD dan SMP yang ingin menimba pengalaman serta ingin tahu tentang reformasi itu.
Tema reformasi diangkat terkait dengan tahun politik. “Sebentar lagi Pemilu dan saya merasa, sebagai warga negara berkepentingan juga untuk membantu teman-teman, terutama milenial dan generasi Z, yang tidak punya pengalaman reformasi, membantu mereka punya informasi yang kurang lebih imbang dan bertanggung jawab mengenai peristiwa reformasi supaya mereka bisa ikut bertanggung jawab menjaga demokrasi kita,” terang Rm. Setyo.

Menurutnya, ada 60% lebih milenial dan generasi Z berumur di bawah 40 yang menjadi pemilih dalam Pemilu 2024. Rm. Setyo terpanggil untuk membantu mereka memberikan informasi mengenai reformasi yang imbang supaya mereka ikut merawat demokrasi.
Mereka diberi perspektif yang kurang lebih imbang. Sebab, mereka tidak mengerti banyak hal mengenai reformasi yang sifatnya historis dan faktual. “Di sekolah tidak diajarkan, hanya dengar sana-sini. Maka, saya mengundang para pembicara secara cukup imbang. Bukan politisi. Meski ada yang punya background politisi, tapi umumnya tidak, supaya mereka punya perspektif yang imbang mengenai peristiwa demokratisasi tahun 1998,” papar Rm. Setyo.
Mengapa materi tentang politik ini dikombinasikan dengan kelas menulis?
“Karena kami semua penulis,” cetus Rm. Setyo menjawab. “Saya, Rm. Sindhu, dan Mbak Ayu adalah penulis. Maka, kami memberikan apa yang menjadi kekuatan kami. Mereka (peserta-Red.) sudah punya kemampuan menulis, beberapa sudah menulis, tapi saya kira mereka membutuhkan semacam perspektif, perbandingan, supaya mereka bisa memperdalam aktivitas mereka.”
Harapan yang sangat konkret yakni ada tulisan dari mereka dikirim kepada Majalah BASIS. Meski demikian, redaksi tidak menjanjikan apa-apa, karena setiap tulisan yang masuk harus diseleksi. “Harapan saya, mereka bisa berkembang di ranah mereka masing-masing, memiliki perspektif lebih bagus ketika mereka menuliskan laporan atau apa pun dalam hidup mereka,” ucap Rm. Setyo.
Di sisi lain, Rm. Setyo melihat para peserta senang ketika bertemu dengan sesama penulis. Apalagi mereka punya perjuangan dan keresahan yang sama. “Jadi, saya kira bila antarpenulis bertemu setahun sekali itu juga untuk saling menguatkan. Itu baik,” pandang Rm. Setyo.
Oleh karena itu, dalam rencananya, Sekolah BASIS akan terus diselenggarakan dua kali dalam setahun. Pada bulan Januari diselenggarakan secara online, kemudian pada bulan Agustus secara offline. “Materi akan menyesuaikan dengan situasi. Januari tahun depan itu pasti politik,” sebut Rm. Setyo.











