Satu Abad Gereja Tua Rekas: Jejak Panjang Iman Umat Allah Lewati Banyak Musim

News1292 Views

Manggarai Barat. Puncak rangkaian kegiatan dalam rangka satu abad Gereja Paroki Sta. Maria Penghibur Orang Berdukacita Rekas, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditandai dengan Perayaan Ekaristi meriah di bangunan gereja tua pada Sabtu, 4 Oktober 2025.

Perayaan Ekaristi dipimpin Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus bersama lima puluh imam konselebran. Selain umat dari delapan stasi seluruh paroki, hadir pada acara ini para donatur yang merenovasi gereja dan lingkungannya, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, serta utusan paroki-paroki sekitar yang dimekarkan dari Paroki Rekas.

Bersama dengan perayaan syukur, dilakukan pemberkatan gedung gereja dan peresmian kembali pemakaiannya sebagai tempat ibadah, pemberkatan Gua Maria, serta merayakan syukur atas pesta perak imamat Pastor Paroki Rekas, Rm. Yeremias Bero, SVD.

Sebelumnya, sejumlah kegiatan telah dilaksanakan untuk memeriahkan perayaan seratus tahun Gereja Paroki Rekas, yaitu turnamen sepak bola, pameran dan pentas seni, bakti sosial sunatan gratis, seminar, perlombaan rohani,  tari Caci, penanaman pohon, penerimaan Sakramen Krisma, dan pelantikan Dewan Pastoral Paroki-Dewan Keuangan Paroki (DPP-DKP).

Mgr. Maksi menyatakan perayaan satu abad ini menjadi kesempatan untuk merenung lebih dalam lagi tentang hidup beriman dan kehadiran Gereja. Umat secara pribadi dan komunitas Gereja secara bersama dapat bertransformasi dari penghayatan iman yang ritual dan formal kepada pengalaman rohani dalam hidup sehari-hari.

“Hari ini kita berdiri di persimpangan sejarah. Satu abad perjalanan bukanlah sekadar angka, melainkan jejak panjang iman umat Allah yang sudah melewati banyak musim. Mulai dari masa awal pewartaan, pertumbuhan, tantangan, hingga kini memasuki era baru. Maka, tema kita sangat tepat, yakni ‘Ziarah dari Agama Menuju Spiritualitas’,” tutur Mgr. Maksi.

Gereja Rekas sudah bertahan seratus tahun bukan karena kebetulan, melainkan karena ada umat yang setia.

Artinya, sambung Mgr. Maksi, umat tidak berhenti pada bentuk lahiriah agama, bangunan, ritual, atau kebiasaan, tetapi melangkah lebih dalam dengan menjadikan iman sebagai pengalaman rohani yang mengubah hidup, membentuk karakter, dan memberi arah.

Mgr. Maksi memandang, Gereja Rekas sudah bertahan seratus tahun bukan karena kebetulan, melainkan karena ada umat yang setia. Setia menjaga iman meski sulit, setia berdoa di tengah penderitaan, setia mewariskan iman ke generasi baru.

“Kesetiaan ini harus diteruskan. Generasi sekarang dipanggil bukan sekadar mewarisi agama para leluhur, tetapi menghidupi spiritualitas yang kukuh, kreatif, dan relevan. Kita belajar dari Yesus, yaitu spiritualitas yang setia pada sabda akan bertahan dalam setiap badai zaman,” pesan Mgr. Maksi.

Usai perayaan Ekaristi dan pemberkatan Gua Maria, acara dilanjutkan dengan resepsi bersama di halaman Gereja. Resepsi ini dirancang oleh panitia dengan melibatkan delapan stasi di seluruh paroki. Setiap stasi membangun dapur masing-masing dan menyiapkan makanan untuk umat dan tamu yang hadir.

“Sembilan tenda tempat makanan disiapkan oleh panitia dan delapan stasi untuk semua yang hadir pada perayaan ini. Menu setiap tenda berbeda-beda, sesuai persiapan oleh masing-masing stasi,” jelas Yakobus Agus, Ketua Panitia Perayaan Syukur 100 tahun Gereja Paroki Rekas.

Gereja Paroki Rekas telah ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata religi oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat bersama Keuskupan Ruteng pada 2019.
Destinasi wisata religi Katolik

Gereja Paroki Rekas telah ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata religi oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat bersama Keuskupan Ruteng pada 2019. Sejak itu, penataan lingkungan mulai direncanakan dan diupayakan pelaksanaannya.

Berkat dukungan sekelompok donatur, penataan bangunan dan lingkungan telah berjalan selama satu tahun terakhir; antara lain renovasi bangunan gereja, Gua Maria, dan stasi jalan salib. Penataan fisik ini belum selesai karena masih ada sejumlah fasilitas yang diharapkan akan dibangun, seperti patung Tuhan Yesus memberkati dan museum karya misi Gereja.

Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Labuan Bajo Rm. Richardus Manggu, Pr berharap kerja sama Gereja dengan pemerintah daerah, para donatur, Badan Pelaksana Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BPOLBF), dan lembaga-lembaga lainnya terus berjalan agar penataan dan pengelolaan destinasi wisata religi situs Gereja Tua Rekas dapat terwujud.

“Kita berkomitmen untuk terus melanjutkan penataan ini. Karena itu, dukungan para donatur, pemerintah daerah dan lembaga-lembaga terkait sangat diharapkan,” kata Rm. Richard.

Vinsen Patno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *