Yogyakarta. Mengenalkan seni sejak dini bagi anak dalam banyak literatur dikatakan baik adanya. Melalui seni, anak terasah dan terbiasa dikenalkan dengan hal yang indah, menyenangkan, melatih kepekaan, tidak egoistis, rela berkorban, disiplin, serta saling menghargai sehingga tertanam budi pekerti yang baik dalam hidupnya.
Sebagai tindakan nyata untuk mewujudkan kegiatan seni tersebut, dalam kursus di Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta, diadakan lomba mewarnai dan pentas kor anak pada Sabtu malam, 7 Desember 2024. Lomba untuk menjajaki kepenuhan anak agar dapat mengembangkan bakat seninya ini baru pertama kali diselenggarakan.
Lomba mewarnai bertempat di Ruang Angklung PML dengan mengambil tema “Aku dan Kado Natalku”. Sedangkan pentas seni dengan menampilkan Vocalista Divina dilaksanakan di Auditorium Puskat Jl. Ahmad Jazuli 2 Yogyakarta.
Lomba mewarnai dan pentas Vocalista Divina dengan tajuk “Telah Lahir Juru Selamat” sama-sama diadakan untuk menyambut Natal sekaligus sebagai program tahunan dari kelas kursus vocal yang diselenggarakan oleh PML Yogyakarta. Kali ini, Vocalista Divina menampilkan enam lagu Natal, di antaranya Di Waktu Angin Ribut, Dendang Persembahan, Kisah anak yang Hilang, Selamat Tidur Yesus, Yesus di Palungan,dan ditutup lagu Adeste Fideles.
Elisabeth Twitien Sezi Colasina, pimpinan PML, menyatakan ingin memberikan ruang bagi anak untuk terlibat dalam kegiatan positif melalui bidang seni, salah satunya dengan bernyanyi. “Semoga ke depannya akan menjadi sebuah peluang anak untuk berkembang menjadi petugas musik Gereja yang andal dan profesional. Pentas natal ini adalah salah satu tempat yang ideal untuk kegiatan tersebut,” jelasnya.

Sementara itu Vivi Selvia Sembiring, guru pengampu Vocalista Divina, mengatakan pada kesempatan kali ini PML ingin mengajak anak untuk terlibat dalam suasana yang gembira dalam merayakan kedatangan Yesus melalui lagu-lagu yang dipersembahkan.
Tentang liku-liku mengampu anak dalam latihan kor kali ini, menurutnya memang tidak mudah. “Yang jelas perlu pendekatan yang berlebih dari tiap angkatan kelompok paduan suara Vocalista Divina,” akunya.
Tiap angkatan memang mempunyai ciri-ciri khusus mengenai cara pendekatan dalam mengajarnya. “Terkadang lebih cepat diterima siswa ketika mengajar kepada mereka untuk contoh lagunya. Namun, terkadang juga sulit (lama) untuk bisa membangun sebuah chemistry anak. Maka dibutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi. Nah, untuk angkatan kali ini berbeda jauh dengan angkatan yang dahulu. Jadi, harus sabar,” ungkapnya sambil tersenyum.
Sedangkan lomba mewarnai memberikan sebuah makna bagi seorang anak untuk mengekspresikan bahasa gambar. “Hal ini merupakan sebuah pengalaman atau perwujudan anak untuk melihat dan merekam apa yang sesungguhnya mereka lihat. Maka, penjurian ini pun berbeda dengan lomba untuk tingkat umum,” terang Damaskus Heri Purnomo, juri lomba mewarnai yang seorang dosen UNY.
Salah satu juri lainnya, Rosalia Ratih, menambahkan bahwa yang dinilai dari lomba kali ini ialah kerapian, pewarnaan, dan kebersihan dari gambar. “Memang, idealnya yang dinilai adalah lomba menggambar, karena itu merupakan hasil kreativitas murni anak. Sedang kalau dalam lomba mewarnai, gambarnya adalah karya orang lain yang diberikan sentuhan warna saja,” paparnya.
Pemenang lomba mewarnai tingkat TK mulai dari juara satu adalah Caroline Eleonora, Aluysius Gonzaga Dewandaru, Koleta Kiranirankara, dan harapan satu Ignatio Adril Gaudansio. Sedangkan untuk tingkat SD, urutan satu diraih Giacinta Daniela Diva Larasati, juara dua diraih Fideles Oktavia Halawa, dan juara tiga diraih oleh Benedictus Intan Pramudya.
Selain Rosa dan Heri, dewan juri lomba mewarnai diampu oleh Waspodo Lanang.













