MAGELANG– Siswa-siswi SD Kanisius Kenalan dan Wanurejo dari Yayasan Kanisius Cabang Magelang menyambut kehadiran Romo Daniel Villanueva SJ, Koordinator Umum Federasi Internasional Fe y Alegría dan Pilar Lopez Dafonte, Divisi Internasionalisasi Fe y Alegria di Asia-Pasifik dan Penasihat Fe y Alegria Kamboja dengan tampilan apik dan khas, Selasa, 25 Juni 2024.
Federasi Internasional Fe y Alegría adalah sebagai gerakan pendidikan kerakyatan dan promosi sosial yang lahir dan didorong oleh pengalaman Iman Kristiani, dalam menghadapi situasi ketidakadilan, berkomitmen pada proses historis sektor kerakyatan dalam pembangunan masyarakat yang adil dan bersaudara dan berpusat di Kolumbia.
Kunjungan keduanya yang di dampingi Direktur Yayasan Kansius Romo J. Heru Hendarto, SJ dan diterima Romo Danang Bramasti, SJ serta Kepala Cabang kanisius Yogyakarta Nur Sukapti ini adalah bersamaan Seminar Internasional JESEDU-Jogja2024 yang berlansung dari 24-28 Juni 2024 di De Britto College di Yogyakarta.

Menurut Romo Danang lebih dari seratus peserta dari enam konferensi Serikat Yesus bersama-sama merefleksikan dan mengeksplorasi, sebagai jaringan global, tanggung jawab dan metode kita untuk mendidik iman di abad ke-21.
Memasuki SD Kanisius Kenalan Romo Dani dan Pillar di sambut dengan jabat tangan siswa-siswi dengan penuh riang dan gembira. Selanjutnya diminta untuk cuci tangan dari air kendi yang bersumber dari 3 mata air di sekitar sekolah dalam radius 500 meter hingga 2 km.

Tak ketinggalan Romo Dani dan Pillar pun disambut dengan pemasangan selempang batik ecoprint karya siswa-siswi SD Kansius Kenalan dan alunan gamelan serta drama siswa-siswi SD Kanisius Kenalan dengan judul Antonius Sokariyo seorang katekis kedua setelah katekis pertama yakni Barnabas Sarikrama. Drama ini mengisahkan kisah perkembangan iman Katolik didaerah setempat.

Tiba di SD Kanisius Wanureja yang hanya berjarak 300an meter dari Candi Borobudur, siswa-siswi sekolah ini menyuguhkan sendratari bagian relief Kapijataka dengan lakon Maharaja Kapi Jataka yang mengisahkan kebaikan hati raja monyet. Dalam kunjungan ini Romo Dani dan Pillar merasa senang dan berinteraksi langsung dengan siswa-siswi dan juga saling bertanya.
Kunjungaannya melihat dan menyaksikan secara lansung dan sambutan dari siswa-siswi sekolah di bawaha Yayasan Kanisius ini Romo Dani merasa senang dan bisa belajar dari siswa-siswi bahkan tentang Indonesia.

“Sungguh, terima kasih. Saya belajar banyak tentang Anda, tentang budaya Anda, negara Anda. Jadi saya sangat, sangat berterima kasih,” itulah kesan Romo Dani dan membawa kisah dan pertanyaan-pertanyaan ini kembali ke Spanyol.
Berada di SD Kanisius Kenalan dan SD Kansius Wanurejo Romo Dani mengatakan mereka berada dalam situasi yang sangat mirip dengan sekolah-sekolah tempatnya

“Mereka berbicara dalam bahasa lain. Sama sepertimu. Sekolah-sekolah yang di Amerika Latin juga sama seperti ini kondisinya di atas gunung dengan lingkungan alam seperti ini kurang lebih mirip mirip. Ada kegiatan-kegiatan yang unik atau berbeda dari sekolah-sekolah lain. Kegiatan yang membuat mereka berbeda? Eh, sekolah lain. Oh wah, bagus sekali. Menurut saya, salah satu hal yang sangat spesifik dari sekolah adalah bahwa sekolah tersebut berbasis Komunitas. Jadi orang tua dan masyarakat terlibat sepenuhnya dengan sekolah. Jadi sebenarnya ini adalah proyek pendidikan seluruh masyarakat,” terang Romo Dani dan menambahkan bahwa mereka pemilik sekolah dan mereka sangat menginginkannya.

Menurut Romo Dani, pendidikan yang berbasis komunitas ini adalah disebutbnya sebagai pendidikan kerakyatan. Artinya, pendidikan yang mereka miliki. Mereka memberdayakan anak-anak dengan masa depan mereka sendiri. Jadi ada intensionalitas yang kuat pada pendidikan.

“Jika saya harus mengatakannya dengan kata-kata anak-anak, saya akan mengatakan bahwa kegiatannya banyak, tetapi unsur kuncinya adalah orientasinya,” pungkasnya.














