Robertus Agung Prasetyo Gandeng Ibu-Ibu PKH Produksi Wooden Kitchenware

News1011 Views

Bantul. Robertus Agung Prasetyo, owner CV Karya Wahana Sentosa (KWaS), mengupayakan pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan para ibu rumah tangga penerima Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Jetis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Hal ini disampaikan Agung di sela-sela kunjungan kerja lapangan strategis Komisi B DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ke CV KWaS, pada Kamis, 5 Maret 2026.

Kunjungan ini merupakan langkah konkret legislatif dalam memetakan potensi industri lokal yang mampu menjadi motor pemberdayaan ekonomi bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH).

Robertus Agung Prasetyo saat berbicara dengan utusan.net.

 

Para penerima bantuan sosial tersebut telah menjalani pelatihan produksi dan finishing produk kerajinan kayu ramah lingkungan sehingga memiliki keterampilan baru sekaligus tambahan penghasilan.

Agung memaparkan, perusahaannya yang beralamat di Jl. Imogiri Barat Km. 17, Bungas, Sumberagung, Jetis, Bantul ini menggunakan bahan kayu bersertifikasi FSC (Forest Stewardship Council/Dewan Pengelolaan Hutan) yang ramah lingkungan.

FSC adalah organisasi internasional nirlaba dan multistakeholder yang berdiri tahun 1993 untuk mempromosikan pengelolaan hutan dunia secara bertanggung jawab melalui sistem kayu bersertifikat.

Organisasi yang berpusat di Bonn, Jerman ini menerapkan pendekatan berbasis pasar dalam kebijakan lingkungan lintas negara.

Agung pun menceritakan, seiring menurunnya pasar ekspor untuk produk berukuran besar, CV KWaS mulai mengembangkan produk berukuran kecil seperti kitchenware (peralatan dapur) dan melibatkan masyarakat dalam proses produksinya.

“Kami mulai melibatkan masyarakat untuk ikut produksi. Dulu, supplier kami membuat barang besar, sekarang beralih ke barang kecil karena ekspor menurun. Dari situ kami juga menggandeng masyarakat, terutama penerima PKH,” tuturnya.

Perempuan bekerja di bengkel kayu milik Agung Prasetyo di Bantul.

Menurut Agung, ibu-ibu rumah tangga yang semula tidak memiliki keterampilan dilatih mulai dari proses dasar hingga finishing produk. Pelatihan mencakup kegiatan mengamplas, mewarnai, hingga memahami keseluruhan proses finishing produk kerajinan kayu.

“Mereka awalnya tidak punya skill. Maka, kami ajari mereka untuk mengamplas, mewarnai, sampai akhirnya bisa melakukan finishing keseluruhan. Tujuannya agar mereka tidak hanya di rumah, tapi juga produktif dan kreatif serta bisa menjadi contoh bagi anak-anak di rumah,” jelas Agung.

Para peserta pelatihan menjalankan kegiatan produksi secara fleksibel. Mereka biasanya bekerja sekitar empat jam setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Bahkan sebagian pekerjaan bisa dibawa pulang sehingga bisa dikerjakan pagi maupun malam hari. Dengan demikian, kegiatan ini tidak mengganggu aktivitas mereka sebagai ibu rumah tangga.

“Kami tidak memaksa jam kerja. Fleksibel saja. Yang penting mereka tetap bisa berkarya dan mendapatkan penghasilan tambahan,” ungkap Agung.

Pekerja menyelesaikan pekerjaan olahan kayu di CV KWaS Bantul.

Di Kecamatan Jetis terdapat sekitar 3.800 kepala keluarga penerima PKH. Dari jumlah tersebut, CV KWaS telah melatih sekitar 13 kelompok dengan anggota masing-masing 20–30 orang. Saat ini, tiga kelompok sudah mulai melakukan produksi secara aktif dengan pendampingan dari perusahaan.

Program pemberdayaan yang dimulai sejak Agustus 2025 ini, terus berjalan hingga kini. Agung lantas berharap, nantinya kelompok-kelompok yang sudah terampil dapat berkembang menjadi supplier bagi perusahaannya.

“Semoga nanti mereka bisa menjadi supplier ketika kualitas produksinya sudah stabil,” tegasnya.

Produk-produk yang dihasilkan CV KWaS antara lain talenan, sothil atau spatula kayu, pembersih teflon dari sabut kelapa, wadah buah, cangkir, serta berbagai perlengkapan dapur lainnya. Bahan bakunya sebagian besar berasal dari wilayah Bantul, sementara sebagian lainnya didatangkan dari Cilacap, Jawa Tengah.

Produk-produk tersebut kini telah dipasarkan di berbagai jaringan ritel nasional seperti MR DIY, Superindo, AZ.KO, Rita Pasaraya, Yogya Group, Prima Food, dan KJ Perabot. Selain pasar domestik, CV KWaS juga mengekspor produknya ke Jepang dengan brand Nusantara.

Pekerja menyemprot perlengkapan dapur di CV KWaS Bantul.

Perusahaan KWaS sendiri berdiri sejak tahun 2002 dan membangun pabrik pada 2008 setelah gempa Yogyakarta. Agung berharap model pemberdayaan masyarakat ini bisa menjadi inspirasi bagi pelaku industri lainnya.

“Kami ingin berbagi agar pola ini bisa dijalankan di tempat lain. Kami juga anggota Asmindo (Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia-Red.), maka kami berharap teman-teman industri ikut mengembangkan konsep seperti ini. Harapannya bisa menjadi kegiatan khas dan istimewa di Jogja,” pungkas Agung.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY, Danang Wahyu Broto, mengapresiasi inisiatif pemberdayaan masyarakat yang dilakukan CV KWaS. Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak menjadi kekuatan penting dalam pengembangan ekonomi daerah.

“Di sini terlihat konsep hexahelix berjalan. Ada industri, kampus, pemerintah, dan stakeholder lain yang berkumpul. Komisi B yang memiliki tugas di bidang perekonomian dan keuangan daerah tentu memberi semangat agar usaha seperti CV KWaS yang pro terhadap kesejahteraan masyarakat dapat terus berkembang dan didukung,” ujar Danang.

Sepakat dengan Danang, Sekretaris Komisi B DPRD DIY, Wildan Nafis, juga menilai program pemberdayaan tersebut memberi dampak positif bagi masyarakat sekaligus memperkuat sektor industri kreatif di daerah. “Harapan kami, pola kolaborasi tersebut dapat terus dikembangkan agar manfaatnya semakin luas,” tandas Wildan.

Robertus Agung Prasetyo saat berbicara anggota DPRD dan tamu undangan.

Dalam kesempatan ini, rombongan Komisi B DPRD DIY bersama para tamu undangan lainnya melakukan factory tour untuk melihat langsung proses produksi wooden kitchenware yang telah menembus pasar ritel nasional.

Manajemen CV KWaS menjelaskan bahwa proses manufaktur mereka dirancang agar dapat melibatkan kelompok PKH dalam rantai produksinya, mulai dari tahap persiapan hingga finishing produk.

Rangkaian acara ditutup dengan komitmen bersama untuk menjadikan model kolaborasi di CV KWaS ini sebagai percontohan (pilot project) bagi wilayah lain di DIY guna menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat melalui industri kreatif berbasis kearifan lokal.

Willy Putranta & Slamet Riyadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *