Rm. Richardus Manggu, Pr: “Merawat Bumi Sama dengan Merawat Diri Sendiri”

Aksi Ekologis Festival Golo Koe 2025

News1444 Views

Manggarai Barat. Rangkaian kegiatan aksi ekologis dalam Festival Golo Koe 2025 ditandai dengan kegiatan penanaman terumbu karang dan pohon mangrove di Pantai Binongko, Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin, 11 Agustus 2025.

Penanaman mangrove adalah kegiatan menanam kembali hutan mangrove di daerah pesisir pantai. Tujuan utamanya adalah untuk melindungi pantai dari abrasi, mencegah intrusi air laut, serta memulihkan ekosistem mangrove yang rusak. Selain itu, mangrove juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, menyerap karbondioksida, dan menjadi habitat berbagai biota laut

Kegiatan dengan slogan “Satu Pohon Mangrove untuk Sejuta Kehidupan” ini dihadiri Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus dan didampingi Rm. Richardus Manggu, Pr (Vikjen), Rm. Frans Nala, Pr (Sekjen), Rm. Martinus Wiliam, Pr (Ekonom).

Rm. Richardus mengawali kegiatan dengan ibadat sabda. “Kita diajak untuk melihat satu inspirasi dari Kitab Kejadian. Bumi dan segala isinya adalah ciptaan Allah. Setelah menciptakan semua itu, Allah melihat bahwa semuanya itu adalah baik adanya. Pertanyaanya, apakah pantai ini baik-baik saja?” renungnya dalam khotbah.

Menanamkan kesadaran bersama tentang pertumbuhan ekologis yang dimulai dengan kesadaran bersama tentang pentingnya merawat lingkungan hidup.

Menurutnya, kerusakan ekologi terjadi karena sampah dan pembangunan yang tidak taat aturan dan mengganggu ruang hidup bagi makhluk hidup yang lain termasuk juga bagi manusia. Kegiatan ekologi  tujuan utamanya adalah untuk memastikan karya ciptaan Tuhan itu sungguh terpelihara dengan baik.

Oleh karena itu Tuhan memberi tugas kepada manusia berkuasa atas bumi. Berkuasa di sini berarti mengelola bumi. “Merawat bumi sama dengan merawat diri kita sendiri. Ini panggilan berlaku untuk semua orang di dunia ini. Oleh karena itu, mari kita menanamkan kesadaran bersama tentang pertumbuhan ekologis yang dimulai dengan kesadaran bersama tentang pentingnya merawat lingkungan hidup,” ajak Rm. Richardus.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Administrasi Umum Kabupaten Manggarai Barat Aloysius Lahi mewakili pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari keberpihakan dan kepedulian untuk merawat lingkungan, khususnya di daerah pesisir pantai untuk meminimalkan terjadinya abrasi dan erosi.

Ia berharap kerja sama pemerintah daerah bersama Gereja, unsur Forkopimda, pemerhati lingkungan, dan masyarakat di Manggarai Barat dilanjutkan di masa-masa yang akan datang. “Baik melalui penanaman pohon mangrove maupun meminimalkan sampah-sampah plastik sehingga lingkungan kita tetap terjaga dengan baik dan terawat untuk anak cucu kita di masa yang akan datang,” tutur Aloysius.

Aksi ekologis sebagai simbol agar semua elemen masyarakat tetap menjaga kelestarian alam.

Selanjutnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Manggarai Barat Vinsen Gande menjelaskan bahwa kegiatan ekologis hari ini adalah bagian dari komitmen bersama antara pemerintah dan Keuskupan Labuan Bajo dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan di sekitar, termasuk kelestarian ekosistem laut.

“Labuan Bajo dikenal wisata baharinya dan mengandalkan laut sebagai kekuatan pariwisata. Itulah sebabnya kita harus banyak berbuat untuk kelestarian alam laut kita. Aksi ekologis hari ini sebagai simbol agar semua elemen masyarakat tetap menjaga kelestarian alam. Laut yang kita andalkan ini tidak sedang baik adanya,” ujar Vinsen yang mengajak seluruh masyarakat agar tidak bosan dan terus melakukan aksi ekologis ini di lingkungan sekitar.

Stefan Rafael, pemerhati lingkungan, memaparkan, tidak hanya penanaman pohon mangrove, dalam kegiatan aksi ekologis kali ini juga menanam terumbu karang dengan penggunaan batu sebagai substrat atau media tanam untuk pertumbuhan karang.

“Ini adalah salah satu cara untuk merehabilitasi terumbu karang yang rusak atau membuat terumbu karang buatan. Prosesnya melibatkan penempatan batu-batu di area yang sesuai, dan kemudian menanam fragmen karang (stek karang) pada batu-batu tersebut,” terang Stefan.

Kegiatan aksi ekologis ini ditutup dengan kegiatan pungut sampah seputaran pesisir Pantai Binongko dengan melibatkan pemerhati lingkungan hidup, peserta didik dari SMKS Stella Maris Labuan Bajo dan SMKN 3 Komodo, serta Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai Barat.

Vinsen Patno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *