Rajut Silaturahmi, Tak Hanya Doa dan Harapan

Hari Jadi ke-37 SMA Stella Duce 2 Yogyakarta

News1200 Views

Yogyakarta. SMA Stella Duce 2 Yogyakarta (Stero) merayakan puncak hari jadi ke-37 pada Kamis, 15 Januari 2026 tema “Rentak Budaya: Harmoni dalam Langkah dan Karya” dengan diawali Perayaan Ekaristi yang dipimpin Rm. Dominikus Sukristiono, Pr.

Sehari sebelumnya, sekolah mengadakan kenduri bersama warga sekitar.

Setelah Perayaan Ekaristi atau Misa, acara dilanjutkan dengan pentas seni, lomba antarkelas, serta bakti sosial yang meliputi pemeriksaan kesehatan, donor darah, dan pembagian bingkisan sembako.

Rm. Dominikus Sukristiono, Pr memberkati tumpeng dan kue tart.

Meski demikian, perayaan belum usai. Rangkaian kegiatan masih berlangsung sampai pekan depan, Jumat, 23 Januari 2026, dengan penampilan Sterorchestra dan Muserosa Choir dalam Konser Musik “Symphony of Lights and Sound”.

“Pentas ini menandai bangkitnya kembali orkestra Stero,” sebut Theresia Indriati selaku Kepala SMA Stella Duce 2 Yogyakarta.

Kegiatan orkestra ini sempat vakum karena pandemi COVID-19 sehingga siswa tidak mungkin berlatih bersama.

Namun demikian, Indri menegaskan, puncak perayaan bukan pada konsernya, melainkan kenduri dan Misa. “Ini sebagai wujud nyata syukur kepada Tuhan, atas penyertaan-Nya selama rangkaian hari jadi dan utamanya selama 37 tahun berdirinya sekolah ini. Melalui Misa, kami ungkapkan sukacita dan syukur,” papar Indri.

Theresia Indriati. Stero tidak hanya menjadi berkat bagi internal, tetapi juga menjadi berkat bagi sesama.

Sementara itu, kenduri bukan hanya untuk memanjatkan doa dan harapan, tetapi juga merajut silaturahmi dengan warga sekitar. Ini menjadi cara sekolah untuk merayakan kebersamaan, persaudaraan, dan keberagaman di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.

“Ini untuk memastikan bahwa Stero tidak hanya menjadi berkat bagi internal, tetapi juga menjadi berkat bagi sesama. Antara lain menjadi tetangga yang baik dan hangat bagi masyarakat di sekitar,” tutur Indri.

Ia lantas merefleksikan tema “Rentak Budaya: Harmoni dalam Langkah dan Karya” merupakan kerinduan dan penegasan bahwa keluarga besar SMA Stella Duce 2 Yogyakarta ingin membulatkan tekad mau memajukan sekolah bersama-sama, bersinergi dalam harmoni, kebersamaan, supaya sekolah ini makin bermanfaat.

Bakti sosial dengan pembagian paket sembako kepada warga sekitar.

Bagi Indri, angka 37 adalah usia yang matang dan produktif bagi manusia. Sekarang, sekolah ini berdiri dengan identitas baru. SMA Stella Duce 2 Yogyakarta punya sejarah panjang sebagai sekolah khusus putri. Namun, pada saat ini sudah muncul siswa putra.

“Bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bentuk tanggung jawab pada kebutuhan zaman. Tidak hanya meluluskan melati-melati Stero, tetapi juga alumna-alumna Stero yang tangguh dan humanis,” tutur Indri.

Ke depan, lanjut Indri, SMA Stella Duce 2 Yogyakarta hadir dengan identitas sebagai sekolah berasrama. “Kami ingin asrama bukan hanya tempat untuk tinggal dan tidur, tetapi tempat formatio, pembentukan karakter yang sesungguhnya. Sebagai panggilan dan tanggung jawab akan masa depan bangsa, karena 20 tahun lagi putra-putri inilah yang akan duduk di tempat pengambil keputusan, baik di komunitas kecil maupun di level yang lebih tinggi,” harapnya.

Para siswa berpartisipasi dalam kegiatan donor darah.

Di tengah-tengah persiapan pentas seni, Antonius Haryanto selaku ketua panitia menjelaskan kegiatan bakti sosial, pemeriksaan kesehatan gratis ditujukan kepada warga masyarakat sekitar sekolah dengan target 60 orang.

Sedangkan donor darah yang bekerja sama dengan PMI Kota Yogyakarta, panitia menargetkan 50 orang. “Selain masyarakat sekitar, donor darah juga diikuti oleh para guru dan karyawan, baik dari Stero maupun unit atau sekolah lain di bawah Yayasan Tarakanita Yogyakarta, juga para siswa yang sudah cukup umur dan memenuhi syarat,” urai Oni, sapaan akrabnya.

Pemeriksaan kesehatan juga diikuti oleh para guru dan karyawan.

Tujuan utama kegiatan bakti sosial adalah agar dapat semakin bersinergi atau bekerja sama dengan masyarakat. “Juga dapat menyumbangkan hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar, termasuk masyarakat Yogyakarta secara umum,” imbuh guru mata pelajaran Fisika ini.

Dengan jumlah siswa 514 orang, sekolah yang berdiri pada 16 Januari 1989 ini mulai menerima siswa laki-laki sejak Juli 2019. “Waktu itu angkatan pertama hanya 34 orang. Saat ini komposisi siswa, 40 persen putra, 60 persen putri. Hampir seimbang,” sebut Oni.

Antonius Haryanto. Dengan adanya peluang siswa putra masuk sekolah kami, tentu persaingan untuk masuk ke sekolah kami jadi lebih meningkat.

Oni lantas menerangkan pertimbangan dari sekolah homogen menjadi heterogen, yakni supaya sekolah dapat melayani calon siswa putra dari SMP, khususnya yang di bawah Yayasan Tarakanita, yang menginginkan pendidikan karakter yang berkelanjutan.

“Dampaknya, kami lebih banyak mendapatkan siswa-siswa dengan potensi akademik yang lebih baik. Dengan adanya peluang siswa putra masuk sekolah kami, tentu persaingan untuk masuk ke sekolah kami jadi lebih meningkat sehingga potensi siswa yang memiliki bibit-bibit yang baik dapat kami peroleh,” terang Oni.

Willy Putranta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *