Perkuat Iman Umat, Tingkatkan Kepedulian Sosial

Perayaan 125 Tahun Baptisan Di Mendut

News1391 Views

Magelang. Tahun ini, Gereja Santo Petrus dan Paulus Borobudur, Magelang, Jawa Tengah akan merayakan momen bersejarah, yakni Peringatan 125 Tahun Pembaptisan di Mendut.

Kegiatan ini merupakan bentuk refleksi iman dan penguatan spiritual bagi umat Katolik di wilayah Borobudur dan sekitarnya. Sejak pembaptisan pertama kali pada 15 Agustus 1899, gereja ini telah menjadi saksi perjalanan panjang perkembangan iman umat Katolik di kawasan Mendut, Borobudur, dan Muntilan.

Gereja ini juga pernah menjadi pusat pendidikan dan layanan kesehatan yang berkontribusi bagi masyarakat sekitar.

Dalam rangka memperingati 125 tahun pembaptisan, Paroki Administratif Santo Petrus Borobudur mengadakan berbagai kegiatan yang juga bertujuan untuk memperkuat iman umat serta meningkatkan kepedulian sosial.

Peringatan ini juga menjadi ajang untuk merenungkan perjalanan iman umat dan merayakan kebersamaan dalam keberagaman.

Perhelatan syukur diselenggarakan pada Jumat, 15 Agustus 2025 dengan Ekaristi Syukur Peringatan 125 Tahun Baptisan di Mendut dan Ulang Tahun ke 35 Tahun Imamat secara konselebrasi bersama sembilan imam dengan konselebran utama Vikaris Episkopal (Vikep) Kedu Rm. Antonius Dodit Haryono, Pr.

Sebelumnya, ada Sarasehan Refleksi Rintisan Sejarah Iman di Mendut yang diikuti dengan putra-putri alumni siswi Sekolah Mendut, utusan ketua lingkungan, prodiakon, pemandu warga Katolik Borobudur, Mendut, dan Deyangan, mereka yang aktif dalam karya Kerasulan di berbagai bidang di Keuskpan Agung Semarang, para edukator, serta para pegiat masyarakat di berbagai karya dan wilayah. Pada kesempatan ini juga diadakan Tirakatan Kebhinekaan Kemerdekaan HUT ke-80 Republik Indonesia.

Rangkaian kegiatan lainnya meliputi Devosi Bunda Maria Sapta Duka, aksi donor darah dan bedah rumah, serta Napak Tilas dan Ziarah Rekreasi dari Gereja St. Petrus Borobudur – Ziarah Makam Rm. J.A. Schrader, SJ di Kerkof – Kapel Bunda Maria Sapta Duka Mendut.

Suasana bagian dalam Gereja Katolik Stasi St. Maria Sapta Duka di Mendut, Magelang, Jawa Tengah. Tahun tidak diketahui. (Foto: web.facebook.com/gerejakatolik)
Segarkan pengabdian kerasulan pendidikan

Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS) 2021-2025 menyebutkan Umat Allah sebagai wajah dan karya dari Gereja Katolik, mengambil bagian dari karya semesta Gereja Katolik sedunia.

Mendiang Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’ menekankan Umat Allah agar mengambil bagian dalam pengabdian terhadap alam (planet) untuk diwariskan kepada anak cucu.

Dalam hal ini, Gereja Santo Petrus dan Paulus Borobudur tidak hanya untuk generasi saat ini, melainkan jauh lebih dibutuhkan oleh generasi selanjutnya.

Perayaan 125 Tahun Baptisan menjadi kesempatan untuk memobilisasi kembali upaya-upaya untuk membuat karya kerasulan Mendut tetap diterima dan dikerjakan bersama oleh semua pihak, di Tanah Jawa dan juga di Indonesia secara keseluruhan.

Selain itu, perayaan 125 Tahun Baptisan di Mendut juga untuk mengambil bagian dalam keprihatinan semua bangsa terhadap rusaknya alam. Keprihatinan ini direfleksikan ke dalam upaya-upaya konstruktif untuk mengambil bagian dalam pelestarian alam.

Perayaan 125 Tahun Baptisan di Mendut juga menyegarkan pengabdian Umat Allah terhadap kerasulan pendidikan yang saat ini diupayakan bukan hanya oleh para edukator di KAS, melainkan juga diupayakan oleh pegiat masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Pengabdian kerasulan pendidikan ini diarahkan baik untuk mencapai kecakapan akademik yang penting untuk kehidupan saat ini, maupun untuk mencapai keadaban manusia.

Kawasan dialog antariman

Tanah Jawa subur akan karya kerasulan Katolik. Kapel Bunda Maria Sapta Duka, yang kemudian menjadi Gereja Katolik Mendut, diresmikan pada tahun 1995 oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang kala itu, Mgr. Yulius Darmaatmadja, SJ. Bangunan Gereja Katolik ini mencerminkan warisan perjuangan Umat Allah di Tanah Jawa.

Misi Katolik di Mendut hadir melalui Rm. P. Hoovenars, SJ bersama dengan Rm. Franciscus Georgius Josephus van Lith, SJ pada tahun 1896. Gereja Katolik dan Sekolah Putri Mendut yang didirikan dan dikelola oleh suster-suster OSF mulai pada tahun 1903 menjadi titik penting bagi Umat Allah dalam karya-karya yang mulai dikenal oleh berbagai pihak di Tanah Jawa hingga di seluruh Indonesia.

Tidak sedikit dari generasi awal Mendut yang menjadi pemimpin dan pelayan dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia dengan keunikan pengabdian masing-masing. Mendut, bersama dengan Muntilan, menjadi bibit dari karya-karya keindonesiaan yang penting. Demikian pula, perhatian pada pendidikan juga tetap terjaga dan diteruskan oleh generasi pendidik terkini.

Dalam sejarahnya, Gereja Katolik Mendut menjadi bagian penting dari Gereja Petrus dan Paulus, yang didirikan pada tahun 1896, dan baptisan pertama pada tahun 1899. Saat ini, Gereja Katolik Bunda Maria Sapta Duka dan Gereja Katloik Petrus di Borobudur menandai keberlanjutan dari karya kerasulan sejak era Rm. P. Hoovenars, SJ.

Keduanya, saat ini, berada di kawasan PSN (Proyek Strategis Nasional) Borobudur-Mendut. Kawasan ini mengembangkan kawasan dialog antariman. Kawasan Vihara Mendut dulunya adalah lokasi dari gereja dan Sekolah Mendut. Terdapat pula masjid di dekat vihara, yakni Masjid Baitul Murtadlo yang berdiri 1825. Masjid ini menjadi simbol dan titik temu kebersamaan dan dialog antariman yang terus berlangsung sampai saat ini. Kawasan PSN ini tetap dicirikan sebagai kawasan dialog antariman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *