Sleman. Suasana penuh kehangatan dan semangat kebebasan kreatif menyambut para tamu dalam open house perdana SMP Eksperimental Mangunan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Sabtu, 18 Oktober 2025.
Acara yang mengusung tema besar “Go Beyond Limits” ini berhasil menjadi panggung spektakuler bagi para siswa (akrab disapa Sahabat Mangun) mendemonstrasikan bagaimana mereka melampaui batas-batas konvensional pembelajaran melalui filosofi pendidikan Nguripi Urip atau menghayati hidup.
Tema “Go Beyond Limits” menemukan makna sejatinya dalam konteks orientasi unit sekolah ini. Nguripi Urip bukan sekadar moto, melainkan sebuah komitmen untuk menghidupkan dan menghayati kehidupan dalam setiap proses belajar.
Dalam open house ini, semangat tersebut memampukan setiap anak untuk melampaui batas (go beyond limits), yang mereka kenal, yakni rasa takut, berpikir linier, dan antara teori di kelas dengan aplikasi nyata.
Acara ini menjadi bukti nyata dari penerapan filosofi pendidikan EKI (Eksploratif, Kreatif, Integral) yang menjadi jiwa dari Kurikulum Mangunwijaya. EKI merupakan kerangka pengembangan tujuh modal dasar anak (karakter, bahasa, orientasi diri, logika kualitatif, dunia piranti, kerja sama, olahraga).
Sepanjang hari, sekolah yang bernuansa tradisional Jawa ini menyuguhkan ruang pamer multidimensi dan dipadati oleh orang tua, calon wali murid, serta praktisi pendidikan yang takjub menyaksikan berbagai karya dan pertunjukan siswa.
Di SMP Eksperimental Mangunan, spirit EKI menjadi napas pembelajaran. Eksploratif mendorong siswa menjelajahi ilmu bahasa, matematika, dan berbagai bidang lain dengan rasa ingin tahu yang tinggi untuk menemukan ide.
Kreatif mengasah karakter melalui NgGiwar, yakni berpikir lateral untuk menciptakan solusi yang adaptif dan inovatif dalam mengujicobakan ide tersebut.
Sementara Iintegral memadukan semuanya, yakni kerja sama, orientasi diri, olahraga, dan dunia peranti dalam konteks nyata sehingga Sahabat Mangun dapat semakin memaknai proses belajar mereka.
Ketiganya bersinergi membangun tujuh modal dasar anak secara holistik, membentuk pribadi yang tidak hanya cerdas akademis, tetapi juga berkarakter kuat dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Filosofi Pohon Kurikulum Mangunwijaya mencakup konsep 3A. Pertama, anak diibaratkan sebagai pohon yang diharapkan tumbuh berkembang dengan subur, yang ditandai dengan daun, bunga dan buah dari hasil perkembangannya.
Kedua, alam adalah guru, orang tua, dan orang dewasa yang hadir di sekitar anak, termasuk juga masyarakat, perlu menjadi iklim yang baik untuk memberi ruang pada anak untuk tumbuh berkembang dengan subur.
Ketiga, alat diwujudkan dalam kurikulum dan semua perangkat pembelajaran (strategi, metode, alur kegiatan, materi, sumber belajar, dan media belajar) yang digunakan dengan tujuan akan membantu tumbuh kembang anak sehingga menjadi anak yang berkembang secara utuh (holistik).
Proses pendidikan didukung oleh pola pendampingan dialogis guru kepada anak yang berciri ajrih asih dan cura personalis, dengan beberapa pembelajaran khas yang hadir melengkapi pembelajaran reguler untuk menjamin terciptanya iklim yang memampukan anak menjadi anak yang berkembang secara utuh, yaitu Kotak Pertanyaan (KoPer), Membaca Buku Bagus (MBB), Komunikasi Iman, Retorika, Musik Pendidikan, dan Hasta Karya.
“Kesan pertama saya begitu masuk ke lingkungan SMP Eksperimental ini merasa homey banget dari segi bangunan, nyaman, dan sangat ramah anak,” komentar Yeyen, salah satu orang tua peserta lomba melukis asal SD Kanisius Condongcatur, Sleman.
Setiap stan dan pertunjukan menceritakan sebuah proses pembelajaran yang eksploratif, kreatif, dan integral, yang berakar pada semangat “Nguripi Urip”. Pengunjung dapat melihat bagaimana sebuah tema seperti Laudato Si’ tidak hanya dipelajari, tetapi dihayati; dieksplorasi hingga ke akar masalah, dikreasi menjadi solusi nyata, dan diintegrasikan dengan nilai-nilai religiusitas.
“Tema ‘Go Beyond Limits’ adalah buah alami dari komitmen kami pada ‘Nguripi Urip’,” tutur Maria Noviana Sari, M. Pd. selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas.
Ia pun melanjutkan, “Ketika kita memberikan kepercayaan dan pendampingan yang tulus (cura personalis), kita sedang menghidupkan potensi terdalam mereka. Ketika kehidupan itu sudah menyala, tidak ada lagi batas yang mampu membendung semangat belajar dan berkarya mereka. Apa yang mereka pamerkan ini bukanlah akhir, tetapi sebuah pertanda dari perjalanan panjang untuk terus melampaui batas diri.”
Open House perdana ini berhasil menjadi jendela bagi masyarakat untuk memahami visi-misi SMP Eksperimental Mangunan yang progresif. Keberhasilan acara ini tidak diukur dari jumlah pengunjung semata, tetapi dari terpancarnya kebanggaan dan keyakinan diri setiap Sahabat Mangun untuk tumbuh memekarkan diri dan senantiasa “Nguripi Urip”, mendorong setiap penghuninya sebagai komunitas pemelajar.
A. Chandra Swastika Buana








