Sleman. Pembukaan Sidang Umum dan Konferensi Tahunan ASEACCU ke-32 (The 32nd ASEACCU General Assembly & Conference 2026) berlangsung di Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Mengusung tema “Education, Hope, and Human Flourishing: Fostering Intercultural Encounter and Dialogue” (Pendidikan, Harapan, dan Perkembangan Manusia: Membangun Pertemuan dan Dialog Antarbudaya), acara yang akan ditutup pada Jumat, 21 Agustus 2026 ini dikelola bersama oleh Universitas Sanata Dharma (USD) dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) sekaligus sebagai tuan rumah.
Agenda utama dan kegiatan ini yakni sidang umum dan dialog pendidikan tinggi Katolik se-Asia Tenggara dan Asia Timur, pertemuan dan diskusi panel antarbudaya, serta kunjungan budaya termasuk menyaksikan pertunjukan Tari Ramayana di Candi Prambanan dan tur singkat ke Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran.
ASEACCU (Association of Southeast and East Asian Catholic Colleges and Universities/Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Asia Tenggara dan Asia Timur) adalah sebuah organisasi regional yang mewakili lembaga-lembaga pendidikan tinggi Katolik di wilayah Asia Tenggara dan Asia Timur.

Organisasi ini beranggotakan universitas-universitas Katolik dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Filipina, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Taiwan, India, Makau, Hongkong, Kamboja, Vietnam, Timor-Leste, maupun Australia yang juga turut hadir dalam Sidang Umum dan Konferensi Tahunan ASEACCU ke-32 ini.
Rm. Albertus Bagus Laksana, SJ selaku Rektor USD menyatakan jumlah peserta mencapai 257 orang. “Ini merupakan suatu kehormatan besar bagi kami, khususnya bagi Universitas Sanata Dharma untuk menjadi tuan rumah bersama Universitas Atma Jaya Yogyakarta sebagai co-host,” ungkapnya.
Rm. Bagus mengutarakan, pendidikan tinggi Katolik tengah menghadapi sejumlah tantangan serius. Tahun 2024, di Australian Catholic University (ACU) Sydney, ASEACCU merefleksikan berbagai tantangan yang berkaitan dengan identitas Katolik. Tahun lalu di Providence University, Taiwan, ASEACCU merefleksikan misi bagi perkembangan spiritual dan kesejahteraan kaum muda.
“Sekarang, kita sedang mencari cara-cara baru untuk berkontribusi terhadap perkembangan dan kesejahteraan manusia, sebagaimana tercermin dalam tema. Kita melihat melemahnya pendidikan manusia yang integral seiring dengan meningkatnya model pendidikan tinggi neoliberal secara global. Model ini menyeret universitas menjauh dari peran pentingnya dalam membentuk warga negara bagi masyarakat demokratis dan lebih mengarah pada pembentukan konsumen dalam sistem kapitalis,” papar Rm. Bagus.

Ia juga menyoroti banyaknya mahasiswa Indonesia yang turun ke jalan untuk menuntut politik yang lebih baik dan kebijakan yang lebih demokratis. “Kami mendukung gerakan mahasiswa ini. Kami juga menyatakan solidaritas kepada institusi pendidikan tinggi dan para mahasiswa yang terdampak oleh gempa bumi baru-baru ini di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia,” lontar Rm. Bagus.
Di tengah dunia yang saling terhubung sekaligus terpecah, tegas Rm. Bagus, penyelenggaraan pendidikan tinggi perlu memberikan perhatian pada dialog antarbudaya sebagai sarana bagi orang-orang dari berbagai latar belakang untuk berjumpa satu sama lain pada tingkat yang lebih mendalam serta memperkuat ikatan persaudaraan dan solidaritas.
“Kita perlu memanfaatkan ruang antarbudaya bagi perkembangan manusia, baik di institusi kita maupun dalam masyarakat secara luas. Sebagai universitas Katolik, kita dapat memperkuat budaya solidaritas, keberlanjutan, dan keadilan global demi misi pengembangan manusia dalam tugas pendidikan kita,” gagas Rm. Bagus.
Sementara itu, Álvaro Barbosa selaku Wakil Rektor University of Saint Joseph (USJ) Makau hadir mewakili Rm. Stephen David Morgan selaku Rektor USJ sekaligus Sekretaris Eksekutif ASEACCU.

Menurut Barbosa, konferensi ini merupakan sebuah tonggak penting. “Kita mencatat jumlah peserta tertinggi dalam sejarah ASEACCU. Meskipun peningkatannya mungkin hanya satu peserta, tetap saja kita terus bertumbuh. Setiap tahun semakin banyak minat dan keterlibatan,” ucapnya bangga.
Selain itu, konferensi ini untuk pertama kalinya diselenggarakan secara kolaboratif oleh dua universitas yang sangat sukses di Indonesia. “Saya kira hal ini juga merupakan sesuatu yang patut kita rayakan. Universitas perlu semakin banyak berkolaborasi. Ini merupakan salah satu topik utama yang akan banyak kita bicarakan selama dua hari ini,” imbuh Barbosa.
Untuk pertama kalinya pula, dalam konferensi tahun ini, ASEACCU menerima universitas-universitas yang berada di luar lingkup Asia-Pasifik. “Yang saya maksud tentu saja teman-teman dan kolega kita dari universitas-universitas di India,” sebut Barbosa.
Tidak hanya mengikuti konferensi, mereka bergabung sebagai anggota pengamat ASEACCU. Bagi Barbosa, ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menjalin hubungan dengan universitas-universitas unggulan dari India yang hadir.

Selanjutnya, Caecilia Tutyandari, Ph.D. selaku Wakil Rektor IV USD sekaligus Ketua Panitia menyebutkan, menjelaskan tema konferensi ini diusulkan oleh USD sebagai tuan rumah. “Tahun lalu kami diminta untuk mengusulkan satu tema. Memang, tahun lalu itu kami, di institusi ini, sedang banyak bergulat dengan banyak hal, terutama soal well-being (kesejahteraan). Dalam beberapa kali event, kami memang membahas human flourishing yang saat itu memang menjadi topik yang sering kami diskusikan. Mental health juga jadi salah satu isu,” terang Ndari.
Ketika tema ini disodorkan kepada dewan di ASEACCU, tidak ada yang keberatan karena memang ada keprihatinan mengenai hal-hal tersebut. “Kita tidak fokus pada masalahnya, tetapi juga memandang masih ada harapan ke depannya. Karena kami di perguruan tinggi, education menjadi satu komponen atau pilar penting bersama hope dan human flourishing itu tadi. Harapannya, ketiga komponen itu bisa fostering intercultural encounter and dialogue,” papar Ndari menjelaskan makna tema konferensi.
Tentang kerja sama USD dan UAJY dalam penyelenggaraan konferensi ini, Ndari mengatakan sebenarnya USD yang ditunjuk sebagai tuan rumah. Namun, Rm. Bagus mempunyai pemikiran untuk mengajak UAJY sebagai sesama perguruan tinggi Katolik di Yogyakarta sekaligus anggota Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK).
Willy Putranta








