Ada sekolah yang memperkenalkan gedung, tata tertib, dan jadwal pelajaran kepada siswa barunya. Namun, ada pula sekolah yang memilih memperkenalkan sebuah cara hidup. Itulah yang dialami 284 siswa baru SMA Kolese De Britto Yogyakarta selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 yang berlangsung pada 13–17 Juli 2026.
Mengusung tema “Bertekun, Berpikir, Bertindak Benar”, MPLS tahun ini tidak hanya dirancang sebagai serangkaian kegiatan seremonial, akan tetapi untuk mencecap-cecap nilai (value) yang didasari pada semangat Spiritualitas Ignasian.
Selama lima hari, para siswa diajak memasuki perjalanan awal menjadi bagian dari komunitas pendidikan Jesuit yang menempatkan pembentukan karakter, intelektualitas, spiritualitas, dan kepemimpinan sebagai satu kesatuan yang utuh.
Tema tersebut dipilih sebagai fondasi pembentukan profil siswa De Britto, yakni Leader of Service dengan nilai 1L yang 5C: Leadership, Competence, Conscience, Compassion, Commitment, dan Consistency.
Para siswa baru berasal dari 161 SMP di 66 kabupaten/kota dan 21 provinsi di Indonesia. Kepercayaan masyarakat terhadap SMA Kolese De Britto tercermin dari keberagaman para siswa baru. Mereka datang dengan latar belakang budaya, bahasa, dan pengalaman yang berbeda-beda.
Dari sisi agama, terdapat 225 siswa beragama Katolik, 36 siswa Kristen, 15 siswa Islam, 4 siswa Buddha, dan 4 siswa Hindu. Maka, SMA De Britto bisa dikatakan “miniatur Indonesia atau Indonesia mini”.

Keragaman ini menjadi wajah nyata komunitas belajar yang menghidupi semangat saling menghargai, berdialog, dan bertumbuh bersama dalam nilai-nilai kemanusiaan. Keragaman latar belakang budaya, agama, dan pengalaman menjadi kekayaan yang akan bertumbuh dalam semangat persaudaraan, saling menghargai, dan hidup bersama sebagai satu komunitas belajar.
Konsep MPLS ini dapat dijelaskan bahwa bertekun bukan sekadar rajin atau pantang menyerah. Bertekun berarti memiliki keteguhan hati dalam memperjuangkan hal-hal yang baik, tetap setia pada proses, dan tidak mudah teralihkan oleh berbagai godaan yang menjauhkan seseorang dari tujuan hidupnya.
Ketekunan menjadi dasar bagi seorang pemimpin yang mampu menjaga komitmen dan konsistensi dalam setiap pilihan hidupnya. Sementara berpikir mengajak siswa menggunakan akal budi secara mendalam, kritis, dan reflektif, bukan sekadar memahami sesuatu di permukaan.
Adapun bertindak benar menjadi kompas utama, yakni keberanian memilih tindakan yang benar demi kebaikan bersama, sekalipun pilihan itu tidak selalu mudah, semangat itulah yang mewarnai seluruh dinamika MPLS.
Hari pertama menjadi momentum bagi para siswa untuk mengenal identitas Kolese De Britto. Mereka diajak memahami sejarah panjang sekolah, spiritualitas Santo Ignatius Loyola, teladan Santo Yohanes De Britto, serta visi pendidikan Jesuit yang bertujuan membentuk pribadi utuh.
Melalui sesi Interactive Campus Tour, siswa tidak hanya mengenal ruang-ruang belajar, tetapi juga memahami makna setiap tempat sebagai ruang bertumbuh. Bersama wali kelas, mereka mulai membangun relasi, saling mengenal, serta menyusun komitmen bersama sebagai komunitas belajar yang saling mendukung.

Hari kedua membawa para siswa masuk lebih dalam pada makna ketekunan. Mereka dikenalkan pada sistem pembelajaran di De Britto, kurikulum sekolah, dan berbagai tantangan belajar yang akan dihadapi selama tiga tahun ke depan.
Melalui sesi berbagi pengalaman bersama alumni, siswa memperoleh gambaran bahwa keberhasilan tidak pernah lahir dari jalan pintas, melainkan dari proses panjang yang dijalani dengan disiplin, keberanian, dan daya juang.
Refleksi diri bersama wali kelas kemudian mengajak setiap siswa melihat kembali konteks hidupnya masing-masing; siapa dirinya, apa harapannya, dan bagaimana ia ingin bertumbuh di Kolese De Britto.
Berbagai permainan kolaboratif tentang konsistensi dan daya juang semakin menegaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin selalu berawal dari kemampuannya memimpin dirinya sendiri.
Memasuki hari ketiga, fokus pembelajaran bergeser pada kemampuan berpikir kritis dan berdiskresi. Para siswa mendapatkan pembekalan mengenai sistem kepamongan, tata tertib sekolah, budaya akademik, hingga literasi digital.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), maraknya judi online, serta derasnya arus informasi media sosial, para siswa diajak memahami bahwa teknologi harus digunakan secara bertanggung jawab.
Lebih dari sekadar memahami aturan, mereka diajak mendiskusikan berbagai studi kasus nyata bersama wali kelas. Dalam suasana dialogis khas pedagogi Ignatian, siswa belajar mempertimbangkan berbagai pilihan sebelum mengambil keputusan.
Kemampuan membedakan mana yang baik, mana yang lebih baik, dan mana yang paling tepat menjadi latihan awal membangun hati nurani yang dewasa.
Treasure Hunt yang menjadi penutup dinamika hari ketiga bukan sekadar permainan mencari petunjuk. Aktivitas tersebut melatih kemampuan bekerja sama, berpikir strategis, berkomunikasi, sekaligus mengambil keputusan bersama dalam situasi nyata.
Hari keempat semakin memperluas pengalaman para siswa sebagai bagian dari komunitas De Britto. Mereka dikenalkan pada Presidium, Campus Ministry, berbagai ekstrakurikuler, hingga program-program kehumasan sekolah. Para siswa juga memperoleh pemahaman mengenai proyek sosial berkelanjutan yang menjadi bagian penting pendidikan Jesuit.
Melalui berbagai sesi tersebut, siswa diajak menyadari bahwa belajar di De Britto tidak berhenti pada pencapaian akademik. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan pribadi yang memiliki kepedulian sosial, mampu membaca realitas masyarakat, serta berani terlibat menghadirkan perubahan bagi sesama. Semangat menjadi manusia bagi dan bersama orang lain (man for and with others) menjadi nafas yang terus dihidupi dalam setiap program sekolah.

Hari terakhir MPLS menjadi puncak perjalanan lima hari tersebut. Para siswa diajak membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai melalui materi safeguarding, kepedulian terhadap fasilitas sekolah, serta refleksi bersama wali kelas. Kesadaran bahwa setiap warga sekolah memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang sehat menjadi bagian dari pembentukan karakter sejak awal.
Sebagai penutup, seluruh siswa angkatan 2026 menampilkan Proyek Ekspresi Formasi Angkatan, sebuah karya kolaboratif yang menjadi simbol perjalanan awal mereka memasuki keluarga besar Kolese De Britto. Melalui berbagai bentuk kreativitas, mereka mengekspresikan pemahaman tentang nilai-nilai yang telah dipelajari selama MPLS: ketekunan, kemampuan berpikir, serta keberanian bertindak benar.
Lebih dari sekadar mengenalkan lingkungan sekolah, MPLS SMA Kolese De Britto menjadi ruang pembentukan kesadaran. Pendidikan di Kolese De Britto berpijak pada keyakinan bahwa kebebasan bukan berarti melakukan apa saja, melainkan kemampuan memilih yang baik secara sadar dan bertanggung jawab.
Karena itu, pendidikan bebas yang menjadi ciri khas De Britto bukanlah pendidikan tanpa aturan, melainkan pendidikan yang menumbuhkan pribadi merdeka, mampu berpikir, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab.
Selama lima hari, para siswa memang belajar mengenal sekolah. Namun, yang jauh lebih penting, para siswa mulai belajar mengenal dirinya sendiri. Sebab, di Kolese De Britto, pendidikan tidak berhenti pada pencapaian nilai, melainkan mengantar setiap siswa bertumbuh menjadi pribadi yang cakap, berhati nurani benar, berbela rasa, berkomitmen, dan konsisten sebagai pemimpin yang melayani.
MPLS 2026 pun menjadi langkah pertama bagi 284 siswa baru yang datang dari seluruh penjuru Nusantara ini, untuk memulai perjalanan panjang itu. Sebuah perjalanan yang dimulai dengan ketekunan, diperdalam melalui cara berpikir yang jernih, dan diwujudkan dalam keberanian untuk selalu bertindak benar demi kemuliaan Allah yang lebih besar (AMDG).
Chr. Danang Wahyu Prasetio Humas SMA Kolese De Britto Yogyakarta














