Pencerahan bagi Gereja tentang Musik Inkulturasi

Kongres Nasional Musik Liturgi Inkulturasi 2025

News1627 Views

Yogyakarta. Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta telah mencapai usia 54 tahun. Untuk merayakannya, PML menggelar berbagai agenda kegiatan sejak 22 Maret 2025 dan akan ditutup dengan Misa syukur pada 11 Juli 2025.

Selama tiga hari menjelang puncak perayaan, Rabu – Jumat, 9 – 11 Juli 2025, PML menyelenggarakan Kongres Nasional Musik Liturgi Inkulturasi 2025 di Auditorium PML Yogyakarta. Peserta kongres merupakan utusan dari keuskupan-keuskupan di Indonesia serta sejumlah peserta mandiri.

Kongres menghadirkan narasumber Rm. Fransiskus Yance Sengga, Pr (Pengurus Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia/KWI), Elisabeth Twitien Sezi Colasina (Pimpinan PML), Prof. Dr. Djohan Salim, M.Si. (dosen Pascasarjana Institut Seni Indonesia/ISI Yogyakarta), serta para praktisi dan akademisi, yakni Patrick J.D. Wijnhamer, B.Mus., M.Mus.Ed., Mikael Ferino Suharsa, Gregorius Gerald Pratomo, dan Fero Aldiansyah Stefanus.

Rm. Carolus Putranto, SJ memukul gong tanda pembukaan kongres didampingi Elisabeth Twitien Sezi Colasina.

Elis sebagai Pimpinan PML mengungkapkan beberapa tahun lalu kongres ini digagas alm. Rm. Karl Edmund Prier, SJ. Kongres terakhir diselenggarakan tahun 1986. “Maka, kita perlu me-refresh kembali ingatan dan hati kita akan musik liturgi, terutama inkulturasi yang digagas PML sejak puluhan tahun lalu,” tegas Elis.

Kongres ini mengangkat tema “Masihkah Kita Peduli dengan Budaya Sendiri?” Inkulturasi yang menjadi ciri khas Gereja Indonesia yang berakar dari budaya sendiri, pandang Elis, masih kurang dipahami oleh umat.

“Melalui kongres ini, kita dapat saling berbagi, berdinamika, sharing, diskusi, dan dialog. Agar budaya Indonesia yang beragam itu tidak menjadi sesuatu yang asing, melainkan kekayaan yang dapat menjadi kebanggaan kita bersama,” lanjut Elis.

Elisabeth Twitien Sezi Colasina. Inkulturasi yang menjadi ciri khas Gereja Indonesia yang berakar dari budaya sendiri masih kurang dipahami oleh umat.

Dengan demikian, kongres ini membawa peserta terlibat dalam menjadikan warna-warni yang meriah dalam Gereja Indonesia. “Semoga menjadi jembatan bagi saudara-saudari kita yang samar pemahamannya tentang inkulturasi. Apa yang kita lakukan dalam dinamika ini boleh menjadi pencerahan bagi Gereja kita,” harap Elis.

PML merupakan salah satu karya Serikat Jesus. Pada kesempatan ini, Rm. Carolus Putranto, SJ yang hadir mewakili Provinsial SJ menyatakan bahwa Serikat Jesus sejak Konsili Vatikan II berkomitmen mengembangkan penghayatan iman yang muncul dari ranah budaya setempat.

“Indonesia bukan hanya besar, tapi juga beragam. Ini belum menggerakkan hati kita selama kemajemukan itu kita dalami dan resapkan keunikannya,” tutur Rm. Putranto.

Rm. Carolus Putranto, SJ. Gereja Katolik dapat memanfaatkan dan mendalami kekayaan budaya untuk meletakkannya dalam ibadat atau liturgi.

Ia pun menyatakan, semua orang Indonesia mestinya tergerak untuk mengangkat budaya lokal ini. Gereja Katolik juga dapat memanfaatkan dan mendalami kekayaan budaya ini untuk meletakkannya dalam ibadat atau liturgi. Upaya ini membutuhkan dialog karena tidak bisa bergerak sendiri.

“Dari kongres ini, kita diharapkan terus berdialog dan berinteraksi agar kekayaan budaya dari berbagai etnis ini bisa menjadi harta kekayaan Gereja,” ujar Rm. Putranto.

Willy Putranta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *