Manggarai Barat. Menjelang penahbisan Mgr. Maksimus Regus sebagai Uskup Labuan Bajo, para uskup dan kardinal yang telah hadir diterima secara resmi oleh Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat serta Mgr. Maksi sendiri pada Kamis, 31 Oktober 2025 di Katedral Roh Kudus Labuan Bajo.
Kedatangan para uskup ini diiringi tari-tarian, seremonial budaya, dan adat istiadat Manggarai. Para uskup pun dikalungi dengan selendang Manggarai.
Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo, dengan tulus mengucapkan terima kasih atas penerimaan yang luar biasa ini. “Kami sangat menghargai simbolik-sibolik yang diungkapkan di dalam pertemuan ini. Simbolik-simbolik ini mungkin bagi kami yang datang dari luar, belum paham dan mengerti, tapi sekarang sudah mengerti apa makna dan artinya,” ucapnya.
Ia berharap, upacara penahbisan Mgr. Maksi yang dilaksanakan pada Jumat 1 November 2024 sungguh-sungguh berjalan dengan lancar sekaligus menjadi peristiwa iman yang agung di keuskupan ke-38 di Indonesia ini.
Kardinal Suharyo mengajak umat agar semua bersatu hati. Para bapa uskup yang datang dari segala penjuru di Indonesia merupakan tanda dukungan mereka untuk meresmikan keuskupan yang baru ini. Ia juga berharap, setelah ditahbiskan, Mgr. Maksi bisa menjalankan pelayanan kepemimpinan bagi umat.
“Semoga semboyan Bapa Uskup agar semua orang diselamatkan sungguh-sunguh menjadi kenyataan di Keuskupan Labuan Bajo yang baru ini. Mari kita satu hati dalam doa Vesper untuk mendukung pentahbisan Mgr. Maksimus Regus,” ajak Kardinal Suharyo.

Vesper adalah salah satu bagian dari ibadat harian dalam Gereja Katolik. Ibadat harian berarti doa Gereja yang didoakan setiap hari. Vesper disebut juga ibadat sore. Dalam Vesper Agung ini, Uskup Terpilih Keuskupan Labuan Bajo akan mengucapkan pengakuan iman dan sumpah kesetiaannya. Upacara Vesper Agung ini dipimpin Uskup Denpasar Mgr. Silvester Tung Kiem San.
Mgr. San menyampaikan bacaan singkat pada ibadat sore menjelang Hari Raya Semua Orang Kudus dan Salve Agung menjelang tahbisan Uskup Labuan Bajo diambil dari Surat kepada Orang Ibrani yang berbicara tentang imamat Perjanjian Baru yang menyempurnakan imamat Perjanjian Lama.
“Imam Perjanjian Baru adalah seorang beriman yang setia dalam hubungan dengan Tuhan sekaligus seorang yang berbelas kasih,” tutur Mgr. San. “Dalam hubungan dengan sesama manusia. Dia harus mampu memahami orang-orang jahat tersesat dan berdosa karena ia sendiri penuh dengan kelemahan. Tentang kekhasan imamat ini perlu diperhatikan, khususnya oleh kaum klerus yang ditahbiskan, untuk memiliki iman yang tangguh dan membantu umatnya supaya beriman tangguh.”
Demikian juga para uskup dan para imam, lanjut Mgr. San, perlu menghayati belas kasih kepada sesama yang menderita, miskin, dan tertindas, serta memampukan umatnya rela berbagi kasih dalam kehidupan bersama, dalam mengereja dan masyarakat.
Dalam konteks menghayati hidup sebagai imam yang beriman dan berbelas kasih, seorang imam dan uskup memikul tanggung jawab atau salib dengan melaksanakan tritugas pelayanan, yaitu mengajar, menguduskan, dan menggembala.
“Saya kira ini menjadi perhatian dan tanggung jawab dari Mgr. Maksimus Regus yang belum lama menjadi rektor Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng lalu kini telah terpilih dan akan ditahbiskan menjadi uskup pertama Keuskupan Labuan Bajo. Mgr. Maksimus Regus tentu telah menghayati kekhasan imamat perjanjian baru,” simpul Mgr. San.
Sebagai uskup, Mgr. Maksi tentu akan mengalami berbagai tantangan pastoral di Keuskupan Labuan Bajo karena perkembangan pariwisata super premium yang pesat di wilayah ini. Labuan Bajo kerap disebut “Firdaus kecil” yang turun ke bumi, menemani Pulau Bali sebagai “Firdaus besarnya”.

Perkembangan pariwisata yang pesat di “Firdaus kecil” ini selain membawa dampak positif tetapi juga menimbulkan dampak negatif dan berbagai bidang kehidupan, termasuk kehidupan iman.
Dalam konteks ini, uskup terpilih dan tim pastoralnya kelak diharapkan dapat membantu umat, terutama orang muda, dan keluarga-keluarga yang berhadapan dengan gaya hidup serta budaya baru yang muncul dengan cepat karena perkembangan pariwisata yang luar biasa. Dengan demikian, mereka tidak mengalami kebingungan dan kemerosatan iman.
Setelah pengakuan iman dan sumpah kesetiaan, Vesper Agung dilanjutkan dengan pemberkatan tanda-tanda lahiriah yang akan digunakan oleh seorang uskup. Mgr. San sebagai pemimpin Vesper Agung memberkati tongkat gembala, mitra, solideo, cincin, serta busana-busana yang akan dikenakan oleh Uskup Terpilih Labuan Bajo.
Tanda-tanda lahiriah ini melambangkan gembala utama yang bersinarkan kesucian dan berhiaskan kemuliaan. Dengan tanda-tanda ini, Mgr. Maksi akan selalu membimbing dan mencintai Gereja serta mengantar semua orang pada Allah.














