Musik Indonesia Ternyata Asyik

News1497 Views

Yogyakarta. Mila Nurazizah, salah satu mahasiswa semester pertama jurusan musik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Yogyakarta, terpana bahkan terheran-heran ketika melihat secara langsung bahkan ikut merasakan musik-musik Nusantara.

“Wah seru … dan sungguh keren, musik Indonesia itu ternyata asyik, ya? Baru pertama kali ini saya melihat bahkan merasakan bermain musik Nias secara langsung. Wah, keren …,” komentarnya riang.

Itulah sekelumit peristiwa ketika remaja diminta pendapat sehabis workshop musik di Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta. Workshop kali ini diadakan oleh UNY yang diadakan bekerja sama dengan PML Yogyakarta, Kamis 13 November 2025 di Aula Puskat, Jl. Ahmad Jazuli 2 Yogyakarta yang bertajuk “Workshop Sejarah Musik Perkembangan Organ dan Inkulturasi Musik di Indonesia”.

Prof. Emanuele Cardi dari Conservatorio Statale Di Musica “Stanislao Giacomantonio” Di Cozenca Itali, yang juga sebagai dosen tamu di UNY, menjadi pembicara dalam workshop ini.

Sedangkan pembicara dari PML dengan materi musik Inkulturasi disampaikan pimpinan PML, Elisabet Twitien Sezi Colasina, dengan dibantu tim PML.

Workshop ini merupakan kerja sama antara UNY dengan PML yang ditandatangani Dr. Fu’adi, M.A. selaku Kepala Departemen Pendidikan Seni Musik, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) UNY dan Elisabet dari PML untuk ke depan dapat bekerja sama dengan civitas mahasiswa, terutama dalam Pengembangan SDM, Penelitian serta Pengabdian Masyarakat, dan Praktik Magang Kerja Luar Kampus. Acara penandatanganan memorandum of understanding (MoU) disaksikan 79 peserta workshop yang terdiri dari mahasiswa seni jurusan musik UNY beserta para dosen yang menyertai.

Dalam ksempatan sesi pertama, workshop diisi Prof. Emanuele Cardi yang membahas tentang perkembangan organ pipa, sejak dari sejarah, perkembangan, hingga sekarang. “Musik organ pipa pertama kali menirukan suara flute yang masih sederhana. Organ pipa juga mengalami perkembangan sesuai dengan berjalannya waktu dalam proses pembuatannya. Hal ini merupakan wujud dari diterimanya organ dalam Gereja hingga banyak digunakan dalam gereja pada abad ke-17 hingga abad ke-20,” paparnya.

Mahasiswa UNY berkesempatan bermain gamelan secara bersama-sama di PML.

Ia pun menyebut, organ pipa mengalami banyak perkembangan mengenai pilihan nada ataupun bentuk organ pipa yang ada, dari pertama kali dikenalkan, hingga sekarang.

Sementara dalam sesi lain, Elisabet menjelaskan ciri-ciri musik inkulturasi. “Musik di tiap daerah itu mempunyai ciri musik sendiri-sendiri, dari alat musiknya, cara memainkannya, lagunya, hingga tehnik menyanyikan semuanya berbeda. Itulah kekayaan musik Nusantara. Namun, justru itulah keunikan dari musik kita, musik Nusantara, yang telah merasuk ke Gereja. Tentu saja dengan digarap dan diramu, sesuai dengan roh musik asli, hingga lahirlah musik inkulturasi,” lanjutnya.

Dalam kesempatan ini para peserta juga merasakan untuk menyanyikan lagu inkulturasi dengan iringan organ-plus (organ ditambah alat musik asli sesuai daerahnya) dengan menggunakan buku Madah Bakti (MB) di antaranya Satukanlah Umatmu (MB 790) gaya Batak Toba dengan iringan tataganing dan gong, Cintailah Sesamamu (MB 775) gaya Nias iringan faritia dan gondra (bedug), Kasih Persaudaraan (MB 786) gaya Flores dengan iringan angklung dan bas bambu, Dari Hembusan Sabdamu (MB 633) gaya Tionghoa dengan iringan erhu, tok-tok, dan cen-ceng, Cahaya Suci (MB 220) gaya Sunda dengan iringan suling dan kecapi, Bawalah Persembahan (MB 228) gaya keroncong, Sewaka Bakti (MB 165) gaya Jawa dengan iringan suling, dan lagu Dayung di Arus (MB 221) gaya Melayu dengan iringan rebana dan giring-giring.

Di bagian lain, panitia yang juga dosen musik dari UNY, Melania Septian Desti Saraswati, merasa cukup puas dengan acara workshop kali ini. Desti berharap kerja sama ini dapat terus dilanjutkan.

“Acara ini tentu dapat menambah ilmu, terutama tentang sejarah musik organ pipa yang disampaikan langsung oleh pakarnya, Prof. Emanuele Cardi. Bahkan, para mahasiswa melihat sendiri dan dapat praktik langsung organ pipa di kapel Puskat. Tentu ini pengalaman berharga sehingga menambah wawasan dan pengetahuan mereka,” ungkap Desti.

Menurutnya, workshop ini cocok dengan para mahasiswanya, terutama dalam mata kuliah sejarah musik. Selain itu, mahasiswa juga dapat belajar bahkan tahu, juga merasakan, praktik musik Nusantara yang menjadi koleksi PML.

Harapnya tentu agar mereka makin mencintai dalam menggeluti studi musik yang menjadi pilihannya. “Mereka juga harus mampu meningkatkan rasa cinta terhadap musik Nusantara untuk dapat menjunjung musik negeri sendiri.” tutup Desti.

Danan Murdyantoro 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *