Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC: Jangan Takut Buat Tanda Salib

Sesi Edukasi 1 Jambore Nasional Sekami 2023

News1545 Views

Magelang. Bersahabat, terlibat, dan menjadi berkat adalah sebuah komitmen bagi peserta Jambore Nasional Sekami 2023. Melihat keseruan hari pertama, para peserta yang terbagi menjadi tiga medan semakin mengenal keluarga dan teman baru guna mempererat persaudaraan.

Sebagai sarana pembentukan iman dan semangat misioner, Rabu, 5 Juli 2023, para peserta Jamnas Sekami mengikuti sesi Edukasi 1 yang mengusung tema “Aku bangga menjadi Anak Katolik.” Kegiatan ini berpusat di GOR Laudato Si, Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang. Tentunya masih diikuti oleh 35 keuskupan yang ada di Indonesia.

SD Kanisius Wanurejo, Borobudur memberi kejutan dengan pertunjukan yang mengawali sesi edukasi 1 berupa drama pendek yang dikemas menarik dengan tarian dan musik karawitan yang dirancang Kepala Sekolah SD Kanisius Boro, Paulus Damar Sandibrata. Drama ini diperankan oleh 45 orang siswa dibantu para guru, orang tua, dan relasi sekolah.

“Isi dari pertunjukan ini sesuai dengan tema, yaitu ‘Aku Bangga Menjadi Anak Katolik’ dan terkait bagaimana sikap-sikap mereka dalam kehidupan sehari-hari sebagai anak-anak Katolik. Ada yang bangga, percaya diri, malu, bahkan malas berkegiatan. Maka, poin mendasar ini menjadi sebuah permasalahan yang diusung,” ungkap Damar yang juga ikut tampil.

Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC (Uskup Keuskupan Bandung) hadir sebagai narasumber pada sesi edukasi ini. “Mengapa kita bangga menjadi anak Katolik?” itulah sebuah pertanyaan yang ditujukan pada semua peserta Jamnas Sekami 2023.

“Banggalah menjadi Katolik karena setelah dibaptis, kita sudah diangkat menjadi anak-anak Allah. Sekali dibaptis menjadi Katolik, jadi anak Katolik sampai mati,” tutur Mgr. Anton memberi sebuah peneguhan batin.

Selanjutnya, Mgr. Anton menjelaskan bagaimana jika ada pertanyaan mengapa mau menjadi Katolik. “Jawablah dengan yakin, ‘Ajaran kami sama, tapi satu yang berbeda. Katolik itu sistemnya satu, pimpinan satu, sakramen di mana-mana satu.’ Itulah yang membuat kita bangga,” pesannya.

“Bagaimana tanggapan Bapa Uskup dengan orang Katolik yang belum percaya bahwa Hosti Kudus adalah Tubuh dan Darah Kristus?” tanya Anastasia peserta Sekami dari Keuskupan Agung Medan.

Mendengar pertanyaan ini, Mgr. Anton terkejut dan menjawab, “Kasihan sekali. Justru Perayaan Ekaristi itulah sumber dan puncak iman Katolik. Kalau sumbernya saja kita tidak percaya, bagaimana? Kasihan sekali. Percaya atau tidak percaya, Tubuh Kristus adalah tetap Tubuh Kristus. Tubuh Kristus tidak dipengaruhi kepercayaan seseorang. Begitu dikonsekrasikan oleh imam, maka hosti berubah menjadi Tubuh Kristus.”

Senada dengan pertanyaan pertama, Moses Ofando, Sekami dari Keuskupan Agung Merauke, bertanya mengapa anak Katolik membuat tanda salib takut-takut.

Mgr. Anton memberikan solusi terbaik serta mengajak seluruh peserta untuk tidak takut lagi dalam membuat tanda salib sebagai tanda kemenangan Kristus. “Jangan pernah takut, mintalah berkat kepada Tuhan, Tuhan tahu jalan,” tegasnya.

Berbeda dengan dua pertanyaan sebelumnya, Cledy, seorang peserta Sekami dari Keuskupan Amboina yang bercita-cita menjadi pastor, memberikan pertanyaan unik kepada Bapa Uskup, “Monsinyur, bagaimana sih caranya untuk menjadi seorang pastor?”

Seketika sorak sorai bahagia bersama tepuk tangan memenuhi ruangan. Bangga dengan pertanyaan Cledy, Mgr. Anton menjawab, “Mau jadi pastor? Luar biasa! Banyak berdoa sejak saat ini, ya, dan rendah hati.”

Peneguhan iman disampaikan pula oleh Mgr. Anton bahwa jikalau mau jadi pastor atau apa pun, pertama-tama adalah menjadi seorang Katolik yang bangga.

Sebagai bentuk apresiasi, peserta yang bertanya mendapatkan hadiah berupa salib yang diberikan langsung oleh Mgr. Anton. Hadiah ini menjadi pengingat bagi mereka untuk selalu ingat akan Tuhan dan bangga menjadi anak Katolik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *