Merawat Lansia, Bentuk Cinta Kembali

Pelatihan Caregiver RS Santa Elisabeth Ganjuran di Paroki St. Yakobus Bantul

News1516 Views

Bantul. Dalam rangka perayaan hari jadi ke-95 pada 8 April 2025 mendatang, RS Santa Elisabeth, Ganjuran, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengadakan beberapa kegiatan yang berhubungan dengan tema “Melayani dalam Harapan, Berbuah Kasih”.

Salah satunya adalah kegiatan pelatihan caregiver bertajuk “Lansia Berdaya, Keluarga Bahagia” yang berkolaborasi dengan Paroki St. Yakobus, Klodran, Bantul pada Minggu, 23 Desember 2025 di aula Gereja St. Yakobus.

Sekitar 20 peserta hadir dalam pelatihan yang terdiri dari pemaparan dua materi awal mengenai penanganan kasus kegawatdaruratan pada lansia serta materi kesehatan, kebersihan, dan perawatan diri pada lansia. Pada akhir kegiatan, seluruh peserta melakukan praktik dan roleplay dari pemaparan materi sebelumnya.

Direktur Rs Santa Elisabeth dr. Tandean Arif Wibowo, M.P.H. mengatakan kegiatan ini adalah langkah awal RS Santa Elisabeth berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan terkhusus kepada lansia.

Dr. Tandean Arif Wibowo, M.P.H. “Menciptakan awam-awam terlatih, yang berkarya dan berjasa bagi sesama, itu adalah mimpi saya.”

“Seturut dengan layanan unggulan (center of excellent) RS Santa Elisabeth, kami berharap menjadi Rumah Sakit Rujukan dan Klinik Geriatri Terpadu yang ramah terhadap lansia di area Yogyakarta Selatan,” ungkap dr. Tandean.

Meningkatnya demografi lansia di Indonesia setiap tahunnya menjadi latar belakang dari diusungnya kegiatan tersebut. Berdasarkan data yang diunggah Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2023 persentase penduduk lansia berada di angka 11,75 % dengan tingkat rasio ketergantungan 17 % yang artinya setiap 17 orang lansia bergantung pada 100 orang usia produktif. Selain itu, DIY menjadi provinsi dengan persentase penduduk lansia paling tinggi, yakni sebesar 16,02 %.

Keprihatinan terhadap bonus demografi lansia setiap tahunnya, menjadikan kapabilitas dalam merawat dan menjaga lansia menjadi kemampuan dasar yang diperlukan. Brigitta Efida, salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut membuka materi dengan mengatakan, “Merawat lansia adalah bentuk cinta kembali.”

Efida menjelaskan cara mengetahui kondisi kegawatdaruratan pada lansia yang dapat diukur lewat tekanan darah, nadi, laju napas, suhu, saturasi oksigen, dan cara berkomunikasi lansia.

Brigitta Efida. Kondisi kegawatdaruratan pada lansia yang dapat diukur lewat tekanan darah, nadi, laju napas, suhu, saturasi oksigen, dan cara berkomunikasi lansia.

Selain itu, beberapa kondisi gawat darurat yang mungkin terjadi pada lansia antara lain tersedak, serangan jantung, henti napas, stroke, sesak napas, luka bakar atau sayat, serta patah tulang. Dari beberapa kondisi kegawatdaruratan tersebut peserta diberi pengetahuan bagaimana memberikan pertolongan pertama dalam menilai dan mengevaluasi kondisi pasien.

Selain memiliki kemampuan pertolongan pertama kondisi kegawatdaruratan, peserta juga memiliki kemampuan perawatan harian bagi lansia. Perawatan ini meliputi pola makan sehat, anjuran aktivitas fisik, pemantauan kesehatan, ajuran istirahat cukup, dukungan psikologis serta sosial, kebersihan lansia, dan peran utama keluarga sebagai pendamping emosional bagi lansia.

Tujuan dari perawatan lansia adalah memberikan jaminan kesehatan mental maupun fisik. Lansia diharapkan memiliki kualitas hidup yang baik, terutama kemampuan untuk hidup secara mandiri serta terhindar dari penyakit dan infeksi.

Dr. Tandean mengatakan, output dari pelatihan caregiver tersebut diharapkan peserta mampu memiliki kemampuan dan keterampilan dasar yang bisa dibagikan kepada lingkungan sekitar perihal menjaga dan merawat lansia.

Saverius Vanny Noviandri. Kegiatan ini bisa dibilang jarang dan langka namun jelas-jelas dibutuhkan.

“Semoga pelatihan ini bisa menjadi inspirasi, dan inspirasi itu tidak hanya terhenti di sini, tetapi menjadi utusan bagi sesama,” harap dr. Tandean.

Widodo, salah satu peserta yang memiliki pengalaman merawat empat lansia sebelumnya, mengatakan pengetahuan caregiver tidak terbatas dilakukan untuk lansia saja, melainkan menjadi dasar praktik untuk merawat siapa pun dalam kondisi kegawatdaruratan.

“Walaupun saya sudah tidak punya lansia, tapi saya berjanji bila ada tetangga atau kenalan yang memerlukan bantuan, saya akan bersedia membantunya, karena bila ada salah penanganan itu bisa fatal akibatnya,” cerita Widodo.

Bagi pihak Paroki St. Yakobus Klodran, adanya kegiatan ini diharapkan memiliki kesinambungan dan menjangkau lebih banyak umat yang lainnya. Saverius Vanny Noviandri selaku Wakil Ketua II Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Yakobus Bantul mengatakan, “Karena kegiatan ini bisa dibilang jarang dan langka namun jelas-jelas dibutuhkan, kami (paroki) berharap ini bukan menjadi yang pertama dan terakhir, namun bisa terus berkesinambungan.”

Metode RJP (Resusitasi Jantung Paru) untuk pasien yang mengalami henti jantung dan napas.

Pelatihan awam Caregiver adalah sebuah tahap awal dari rencana pelatihan RS Santa Elisabeth. Ke depannya, bagi umat yang tertarik dengan praktik caregiver,dapat menjalani tahap pelatihan awam dasar dan lanjutan guna memiliki kapasitas caregiver yang tersertifikasi.

Dr. Tandean mengatakan, visinya adalah membentuk awam yang terampil dan tersertifikasi. Ini dapat menjadi sarana bagi awam untuk berkarya dan berjasa dengan kemampuan yang lebih spesifik dan komprehensif perihal caregiver. Oleh sebab itu, RS Santa Elisabeth terbuka terhadap kerja sama seluruh pihak dalam pelatihan caregiver dasar maupun lanjutan.

“Menciptakan awam-awam terlatih, yang berkarya dan berjasa bagi sesama, itu adalah mimpi saya,” dr. Tandean mengakhiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *