Menyemai Benih Panggilan di Tengah Umat

Promosi Panggilan Paroki Santo Petrus Warak 2026

News671 Views

Sleman. Ada sesuatu yang berbeda di Paroki Santo Petrus Warak pada awal Mei 2026 ini. Bukan perayaan besar, bukan dekorasi yang mencolok. Yang berbeda adalah kehadiran — kehadiran para frater, bruder, suster, romo, dan diakon yang bukan sekadar datang untuk bicara tentang panggilan, melainkan sungguh tinggal di tengah umat. Selama tiga hari, 8 hingga 10 Mei 2026, para promotor Promosi Panggilan (Prompang) 2026 yang datang di Paroki Santo Petrus Warak menghadirkan perjumpaan yang pelan-pelan mengubah cara kita memahami apa artinya dipanggil.

Biarawan-Biarawati sedang live in di rumah umat (Foto: Paroki Warak)
Tinggal, Bukan Sekadar Berkunjung

Agenda utama Prompang tahun ini adalah live in — para peserta dari berbagai kongregasi dan tarekat religius tinggal di rumah-rumah umat, bukan di penginapan atau di kompleks gereja. Menurut Marcellino Iskin Endarwanto, yang akrab disapa Mas Lino, program ini dirancang agar perjumpaan antara para religius dan umat benar-benar terjadi, bukan hanya di permukaan.

“Live in ini menjadi ruang perjumpaan yang sangat hidup. Para frater, bruder, suster, romo, dan diakon bisa mengenal kehidupan umat secara langsung,” ungkapnya.

Tahun ini, Prompang diikuti oleh banyak kongregasi dan tarekat: Suster CB, ADM, OSU, SND, PIJ, komunitas Anging Mammiri, Serikat Jesus (SJ), Bruder MTB, Bruder Karitas FC, serta CSsR, CMF, SCY, MSF, dan SVD. Keberagaman ini sendiri sudah menjadi pesan: bahwa Gereja adalah rumah yang luas, dengan banyak jalan, banyak cara untuk melayani, dan banyak bentuk panggilan yang bisa dihayati.

Kebersamaan Salah satu Biarawan dengan Anak-anak (Foto: Paroki Warak)
Pelajaran dari Sawah

Di antara sekian banyak kisah yang lahir dari live in ini, ada satu yang terasa sederhana namun membekas. Bruder Valensius Ngardi, yang biasa disapa Bruder Flavi, diajak umat pergi ke sawah. Bagi seorang religius dari Manggarai, Flores, pengalaman bercocok tanam di tanah Jawa adalah sesuatu yang baru dan mengejutkan.

“Banyak ilmu dan pengalaman baru yang saya dapatkan. Saya merasa diterima sebagai bagian dari keluarga,” tutur Bruder Flavi.

Ia juga diajak mengunjungi umat dari rumah ke rumah, bercengkerama dengan anak-anak dan remaja, serta bergabung bersama Orang Muda Katolik. Ada sesi memancing bersama warga yang membuat suasana semakin hangat dan cair. Dari semua itu, Bruder Flavi melihat sesuatu yang dalam: bahwa panggilan tidak tumbuh di tempat yang jauh dari kehidupan. Ia justru lahir dan diperkuat di tengah keseharian yang biasa — di dapur, di pematang sawah, di sudut rumah yang penuh cerita.

Kisah Bruder Flavi menjadi cerminan dari apa yang ingin dicapai Prompang tahun ini: bahwa promosi panggilan yang paling efektif bukan ceramah tentang kehidupan religius, melainkan keberanian untuk benar-benar hadir dan tinggal bersama.

Salah satu suster ketika live in di rumah Umat (Foto: Paroki Warak)
Minggu Pagi yang Penuh Warna

Puncak kegiatan berlangsung pada Minggu, 10 Mei 2026. Sebelum expo dimulai, umat berkumpul untuk merayakan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Yohanes Doni, ditemani empat Diakon SVD dan satu Diakon dari Serikat Jesus. Misa terasa berbeda dari biasanya — bukan karena ada hal teknis yang luar biasa, melainkan karena di dalam ruangan itu hadir sebuah kesadaran bersama: bahwa setiap orang yang duduk di bangku gereja hari itu adalah bagian dari Gereja yang sedang merawat benih-benih panggilannya.

Seusai Misa, area parkir belakang gereja menjelma menjadi ruang perjumpaan lintas generasi. Expo Panggilan dan Karya Pendidikan berlangsung pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Stan demi stan dibuka oleh masing-masing kongregasi dan komunitas religius, menampilkan ciri khas spiritualitas dan karya pelayanan mereka. Ada yang menyajikan permainan untuk anak-anak, ada yang menyeduh kopi dan membuka ruang berbagi cerita, ada yang membagikan merchandise khas kongregasi. Suasana yang tercipta bukan suasana pameran formal, melainkan seperti pekan raya keluarga besar Gereja.

Kebersamaan bersama umat (Foto: Paroki Warak)
Axel dan Cita-cita yang Polos

Di antara keramaian expo itu, tampak seorang anak bernama Axel yang melangkah penuh semangat dari satu stan ke stan berikutnya. Axel masih duduk di kelas 4 SD dan sedang mempersiapkan diri menyambut Komuni Pertama. Dengan polos dan tanpa beban, ia mendatangi para biarawan dan biarawati, mengajak foto bersama,  berjoget bersama, bertanya-tanya, dan mendengarkan.

Setelah berkeliling, Axel mengungkapkan sesuatu yang membuat banyak orang tersenyum terharu: ia ingin menjadi romo. Bahkan, setelah mengunjungi stan Serikat Jesus, ia menambahkan keinginannya secara spesifik — ingin menjadi romo Jesuit.

Tentu saja, cita-cita seorang anak kelas 4 SD bisa berubah seiring waktu. Itu hal yang wajar. Namun bukan pada kepastian cita-cita itu kita perlu terpaku. Yang menyentuh adalah proses terbentuknya cita-cita itu: dari perjumpaan langsung, dari melihat wajah-wajah para religius yang ramah, dari mendengar cerita tentang kehidupan yang dipersembahkan untuk Tuhan dan sesama. Axel tidak membaca brosur. Ia berjumpa dengan orang-orang nyata yang menghayati panggilannya.

Panggilan yang Lahir dari Perjumpaan

Promosi Panggilan sering kali dipahami sebagai upaya Gereja untuk “merekrut” calon imam, bruder, atau suster. Pandangan itu tidak salah sepenuhnya, tetapi kurang menangkap sesuatu yang lebih dalam. Prompang yang baik bukan pertama-tama soal kuantitas — berapa banyak yang akhirnya masuk biara atau seminari. Prompang yang baik adalah yang menghadirkan Gereja sebagai persekutuan yang hidup, yang mau tinggal bersama umat, mendengar cerita mereka, dan menjadi bagian dari keseharian mereka.

Bruder Flavi yang pergi ke sawah, para suster yang berbagi kopi sambil bercerita tentang karya pendidikan mereka, para diakon yang berdiri di altar pada Minggu pagi itu — semua menjadi wajah-wajah konkret dari apa artinya menyerahkan hidup untuk Tuhan. Dan ketika wajah-wajah itu hadir bukan di atas panggung, melainkan di tengah rumah dan halaman umat, sesuatu yang berbeda mulai terjadi.

Benih panggilan mulai tumbuh

Sebab demikianlah cara panggilan bekerja sejak dulu kala. Bukan tiba-tiba jatuh dari langit dalam bentuk visi yang megah. Ia datang lewat perjumpaan yang tampaknya biasa: seorang anak yang melihat bruder tersenyum padanya di expo, seorang remaja yang mendengar cerita suster tentang karya di pelosok desa, seorang pemuda yang tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang berdenyut di dadanya ketika menyaksikan para diakon melayankan sabda Tuhan.

Paroki Santo Petrus Warak telah merawat tanah itu selama tiga hari di awal Mei ini. Kini, kita hanya perlu menunggu — dan terus menyirami — benih yang mulai disemaikan.

 

Hans Salvatore

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *