Mendampingi Anak yang Argumentatif

Parenting390 Views

Dalam relasi orang tua dengan anak sejak balita hingga remaja, tidak jarang orang tua dibuat bingung menghadapi anak yang argumentatif atau dengan kata lain dianggap banyak “membantah” ketika diminta melakukan sesuatu.

Anak yang argumentatif adalah anak yang suka mengungkapkan berbagai alasan dengan tujuan menghindar dari perilaku yang harus dilakukannya atau mendebat kata-kata orang tua.

Jika tidak disikapi dengan bijaksana, kondisi ini sering kali membuat orang tua merasa terpancing emosi negatifnya sehingga menjadikan relasi orang tua dengan anak cenderung tidak baik. Untuk itu, diperlukan strategi mengatasi yang efektif, dengan terlebih dulu memahami alasan anak berargumentasi.

Selain terkait dengan tahapan perkembangan kognitif dan bahasa anak yang terus meningkat, pada dasarnya anak punya kecenderungan alami untuk melakukan uji coba terhadap aturan yang ada di sekitarnya. Secara kognitif, kemampuan anak dalam berpikir abstrak terus meningkat. Dengan dukungan kemampuan bahasa yang juga meningkat, maka anak lebih terampil mengungkapkan berbagai gagasan yang ada dalam pikirannya.

Kondisi alami ini membuat pada usia tertentu anak akan terlihat terampil berargumen yang cenderung dirasakan membantah orang tua. Selain kondisi alami tersebut, perilaku membantah pada anak juga dapat muncul sebagai ekspresi dari rasa marah, frustrasi, takut, atau perasaan tersakiti. Dalam hal ini, perilaku membantah bertujuan untuk meminta perhatian dari orang tua.

Untuk menghadapi anak yang argumentatif secara alami, maka pertama-tama orang tua perlu mengetahui alasan di balik perilaku tersebut. Orang tua bisa langsung menanyakan kepada anak apakah ada ketidakpuasan terhadap kata-kata/aturan yang ditetapkan orang tua atau karena terinspirasi pada orang lain.

Tentunya pertanyaan harus dilakukan dalam dialog dengan nada yang tenang sehingga tidak ada kesan tekanan yang membuat anak berpotensi makin defensif atau merasa harus membela dirinya melawan orang tua.

Ada kalanya, anak membantah hanya sekadar ikut-ikutan teman atau melihat figur di media sosial tertentu. Jika ini yang terjadi, maka kemungkinan anak tidak memiliki intensi membantah yang kuat sehingga cara penanganannya akan berbeda dengan anak yang memang punya keinginan melawan kata-kata dan nasihat orang tua karena memiliki argumen kuat atau merasa tertekan dengan aturan yang ada.

Ketika anak menunjukkan perilaku argumentatif karena memang ingin melawan kata-kata orang tua, maka orang tua perlu membuka diskusi lebih panjang tentang argumen yang disampaikan anak. Orang tua perlu lebih lengkap memberikan penjelasan mengapa anak harus melakukan sesuatu dan tidak boleh melanggarnya.

Ketika anak keberatan dengan aturan yang ada, anak perlu didorong untuk menyampaikan argumennya. Tentu orang tua perlu memiliki kesabaran untuk mendengarkan penjelasan dari anak dan siap memberikan respons yang tepat dengan tetap menghargai pendapat anak.

Jika orang tua dan anak tetap tidak memperoleh kata sepakat, maka orang tua perlu mengajak anak bernegosiasi untuk mencari jalan tengah. Tentu, orang tua juga perlu memiliki kebesaran hati untuk memberi toleransi jika aturan yang ditetapkan sedikit bergeser sebagai hasil negosiasi bersama.

Jika anak suka membantah kata-kata orang tua karena mengikuti figur tertentu, orang tua perlu mengetahui siapa figur tersebut. Jika figur yang diidolakan anak cenderung memiliki pengaruh buruk bagi perkembangan anak, maka orang tua perlu membatasi pergaulan anak dengan figur tersebut. Anak perlu diberi tahu alasan mengapa dia tidak boleh banyak berelasi dengan figur tertentu. Alasan harus disampaikan dengan argumentasi yang kuat dan dengan nada yang baik pula.

Akhirnya, orang tua perlu menjadi contoh dan model dalam berperilaku terhadap aturan atau harapan orang lain. Bagaimana pun, banyak perilaku anak yang merupakan hasil dari mengamati dan meniru perilaku orang tuanya. Untuk itu, apa yang kita harap dilakukan anak, sebaiknya sudah kita lakukan terlebih dahulu.

Titik Kristiyani

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *