Membangun Kembali Persaudaraan Sesama Murid Kristus

Ibadat Ekumene Pekan Doa Sedunia 2025

News2020 Views

Bantul. Ibadat Ekumene Pekan Doa Sedunia 2025 dengan tema “Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh. 11:26) digelar di Gereja St. Yakobus Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Senin, 20 Januari 2025.

Pastor Kepala Paroki St. Yakobus Bantul Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr memimpin ibadat bersama delapan pendeta Kristen Protestan dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) serta dihadiri umat Katolik dan Kristen Protestan.

Para pendeta tersebut yakni Pdt. Gracianatita Antera Puspa (GKJ Patalan), Pdt. Saryanto (GKJ Sumberagung), Pdt. Harjono (GKJ Jodhog), Pdt. Djoeniawan Santoso (GKJ Patalan), Pdt. Yafet Kristian Hadi (GKJ Pundong), Pdt. Triyono (GKJ Bantul), Pdt. Korvinus Wahyu Nugroho (GKJ Sidomulyo), dan Pdt. Saryanto (GKJ Madukismo).

Usai ibadat, kepada UTUSAN, Rm. Merdi menjelaskan dari tahun ke tahun Pekan Doa Sedunia menjadi sarana untuk menyatukan murid-murid Kristus yang pada masa lampau, mau tidak mau, harus diakui sempat ada simpangan dan perpecahan sampai banyak cabang.

“Seperti yang didoakan Yesus sendiri, memang tujuannya supaya mereka semua itu bersatu, ut omnes unum sint. Sudah diawali beberapa tahun yang lalu, dalam Pekan Doa Sedunia pasti diadakan ibadat ekumene. Ini menjadi bentuk kerja sama, bergandengan tangan antara Gereja Katolik bersama Gereja-gereja Kristen Protestan, dan Gereja Kristen yang lain dari aneka macam denominasi,” tutur Rm. Merdi.

Ia menambahkan, “Dengan demikian, akan terbangun kembali kerja sama dan persaudaraan yang barangkali dulu pernah bersimpangan karena beda teologi dan sebagainya.”

Pada tahun ini, upaya membangun kerja sama dan kebersamaan tersebut ditandai dengan kembali pada satu pokok iman yang sama, yaitu percaya kepada Tuhan Yesus. Tema yang diangkat mengajak umat untuk merenungkan pengakuan Martha yang ditanya oleh Tuhan Yesus, “Percayakah engkau akan hal ini?”

Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr (jubah putih). Para pendeta dan para romo mengarahkan seluruh umat kepada satu pokok iman yang sama, lalu kembali kepada Tuhan. (Foto: Willy Putranta)

“Percaya itu merujuk pada pribadi Yesus sendiri yang diimani atau diyakini sebagai Tuhan dan juru selamat,” tegas Rm. Merdi. “Semuanya sama. Para pendeta juga para romo tentu mengarahkan seluruh umat dan jemaat kepada satu pokok iman yang sama, lalu kembali kepada Tuhan.”

Lokasi penyelenggaraan ibadat ekumene ini, menurut kesepakatan para romo serta para pendeta, diadakan bergantian. “Kalau tahun ini di gereja Katolik, tahun depan di gereja Kristen mana. Tahun selanjutnya kembali ke gereja Katolik, begitu seterusnya. Dengan selang-seling menjadi bentuk dari saling mengunjungi dan meneguhkan. Setidaknya romo, pendeta, dan jemaat yang hadir saling mengenal dan tahu lokasi gereja-gereja Kristen dan Katolik,” terang Rm. Merdi.

Dimulai dari saling mengenal, akhirnya bisa membangun kedekatan, seiman dan seamin, yang menurut hemat Rm. Merdi bisa diwujudkan ketika ada acara atau ibadat yang saling mengunjungi.

“Kesatuan itu kadang kala seperti ini. Tetapi, yang juga baru dimulai tahun lalu, ada paskahan bareng pendeta dengan romo se-Bantul dengan suasana santai. Seperti open house tetapi makan di luar sambil nyanyi-nyanyi sebagai ungkapan syukur, kegembiraan, paskahan. Leluasa pokoknya,” kisah Rm. Merdi.

Wujudnya tidak hanya ibadat ekumene, tetapi juga diharapkan bisa bersatu dalam acara dan kegiatan nonformal.

“Pertemuan resminya tidak ada, tapi kami punya grup romo dan pendeta serta kegiatan informal seperti itu. Berbagi informasi, tetapi lebih banyak cerita, membangun kisah melalui cara hidup tertentu karena pendeta dan romo punya cara hidup yang berbeda. Saling berbagi ini meneguhkan menurut cara masing-masing,” pungkas Rm. Merdi.

Kebersamaan antarjemaat juga makin tampak dalam acara ramah tamah di halaman gereja dengan menikmati makanan ringan sambil berbincang-bincang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *