Malaikat Tak Bernama

Renungan Harian1011 Views

Puncta 23.07.24
Selasa Biasa XVI
Matius 12: 46-50

KETIKA bertugas di Ketapang, saya sering lewat jalur Pelang untuk urusan-urusan ke Keuskupan. Jalur itu lebih singkat daripada jalur Siduk. Tetapi jalannya buruk. Banyak lubang-lubang yang dalam karena sering dilewati truk-truk pengangkut sawit.

Suatu kali saya pulang ke Nanga Tayap naik sepeda motor. Setelah Warung Pak Kacong, saya terjatuh karena lubang di tengah jalan. Tangki motor pecah sampai bensin tumpah semua. Motor tidak bisa dihidupkan.

Beberapa mobil lewat tapi tidak bisa membantu. Lalu seorang bapak naik sepeda motor butut berhenti dan menolong saya. Dia baru pulang dari ladangnya. Kami bertegur sapa dan saling memperkenalkan diri.

Dengan motornya dia mendorong motor saya kembali ke Ketapang yang jaraknya 65 km lebih. Di tengah jalan kami ngobrol dengan enak. Dia adalah seorang Gusdurian. Dia banyak cerita tentang Gusdur dan Romo Mangunwijaya yang jadi sahabat karib.

Saya merasa menemukan saudara di perantauan. Dia menjadi penolong saya, seorang malaikat tanpa nama yang menyelamatkan saya. Pengalaman ini persis seperti sabda Yesus hari ini.

Yesus berkata kepada orang banyak, “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?”
Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Saudara bagi Yesus adalah siapapun juga yang melaksanakan kehendak Bapa di sorga. Kehendak Tuhan adalah agar kita saling mengasihi, tolong menolong dan menghormati sesamanya.

Saudara bukan hanya mereka yang mempunyai pertalian darah dengan kita. Saudara adalah mereka yang hidup dalam satu udara, satu nafas dengan kita. Kata “Saudara” berasal dari kata satu dan udara, atau nafas.

Dalam tradisi Muslim ada istilah “Ukhuwah” artinya persaudaraan. Persaudaraan antar sesama Muslim, Persaudaraan antar warga bangsa dan persaudaraan insaniah, antar semua makhluk hidup.

Santo Fransiskus Asissi juga menyebut alam semesta ini sebagai saudara kita. Ia menyebut Matahari sebagai saudara, bulan sebagai saudari. Alam semesta atau lingkungan hidup kita ini juga saudara kita.

Dalam filosofi Jawa ada istilah “Sedulur Papat Lima Pancer” adalah simbol kearifan lokal yang mengajarkan nilai-nilai universal tentang persaudaraan, solidaritas, keseimbangan relasi, dan kebijaksanaan bertindak.

Dalam hidup bersama kita membutuhkan persaudaraan dan kesatuan. Kebijaksanaan ini sangat diperlukan untuk mencapai kehidupan yang lebih bermakna dan harmonis.

“dudu sanak dudu kadang,
Yen mati melu kelangan.”
Bukan sanak bukan saudara,
Kalau mati ikut kehilangan.

Cawas, kita semua bersaudara
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *