Lukisan Rohani yang Dijiwai oleh Roh Kudus

Pameran Lukisan Rohani Pertama Keuskupan Agung Semarang Digelar di Babadan

News791 Views

Sleman. Iman tidak hanya diungkapkan melalui kata-kata dan doa, tetapi juga dapat hadir melalui keindahan. Melalui goresan kuas, permainan warna, dan ekspresi artistik, pengalaman iman diterjemahkan menjadi karya yang mengajak manusia berhenti sejenak, merenung, dan menemukan kedalaman makna kehidupan.

Semangat itulah yang dihadirkan dalam Pameran Lukisan Rohani pertama di Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang diselenggarakan Paroki St. Petrus dan Paulus Babadan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pameran ini berlangsung pada Minggu, 2 – 9 Agustus 2026, sebagai bagian dari rangkaian Tumbuk Agung 64 Tahun Pemberkatan Gereja St. Petrus dan Paulus Babadan.

Sebanyak 177 lukisan rohani yang indah karya umat dan imam/pastor dari berbagai kota seperti Solo, Ambarawa, dan Yogyakarta, dipamerkan di aula gereja yang beralamat di Jalan Raya Tajem, Dolo, Pucanganom, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.

Pameran lukisan rohani yang dibuka setiap hari pada jam kerja selama satu minggu ini, selain untuk memeriahkan perayaan Tumbuk Ageng, juga sebagai salah satu upaya penggalangan dana pembelian lahan parkir yang berada di belakang gereja seluas lebih dari 1.000 meter persegi.

Pastor Paroki St. Petrus dan Paulus Babadan Rm. Antonius Saptana Hadi, Pr mengatakan, pameran lukisan rohani yang pertama kali diadakan di wilayah Keuskupan Agung Semarang ini sebagai momen untuk mengungkapkan iman dan spiritualitas lewat karya seni lukis. Para pelukis, baik yang amatir maupun profesional, mewujudkan talenta seni lewat karya lukisan yang indah.

“Pameran seni lukis ini menjadi momen istimewa bagi Gereja Babadan karena memberi ruang ekspresi iman, bakat seni, dan kepedulian untuk berbagi berjalan bersama,” terang Rm. Sapto.

Oleh karena itu, pameran ini juga menjadi ruang perjumpaan antara seni dan spiritualitas. Melalui karya-karya yang ditampilkan, para seniman mengajak pengunjung untuk melihat kembali pengalaman iman, kisah Kitab Suci, pergulatan manusia, serta kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Sejumlah seniman ikut ambil bagian dalam pameran ini. Dari kalangan imam hadir Rm. Antonius Padua Danang Bramasti, SJ dari Muntilan, Rm. Ignatius Andita Triayanto, MSF dari Parakan, Rm. Antonius Saptana Hadi, Pr dari Babadan, Rm. Heribertus Budi Purwantoro, Pr dari Ungaran, dan Rm. Yustinus Slamet Witokaryono, Pr dari Sukoharjo.

Sementara dari kalangan umat dan seniman awam, pameran ini menghadirkan karya MM. Nanik Sri Gunarni dari Solo, Arwan Akik dari Solo, pasangan Ratih dan Susyanto dari Kumetiran, serta Albertoes Papiek dari Gunung Sempu/Pugeran. Para peserta kegiatan Babadan Melukis 1, 2, dan 3 juga turut mempersembahkan karya mereka.

Rm. Antonius Saptana Hadi, Pr membuka pameran dengan memukul gong.

Dalam penyelenggaraan pameran ini, aspek artistik mendapatkan perhatian khusus. Antonius Subianto dari Bonum Art, Granting, Jogonalan, Klaten, dan Hermanu (Master of Lawasan) pengelola senior Bentara Budaya Yogyakarta berperan sebagai konsultan seni sekaligus penata artistik yang membantu menghadirkan konsep visual dan tata ruang pameran agar karya-karya yang ditampilkan dapat dinikmati secara lebih mendalam.

Sementara itu, proses kurasi karya dipercayakan kepada Petrus Agus Herdjaka sebagai kurator pameran. Melalui proses kurasi, setiap karya dipilih dan ditata agar mampu membangun sebuah narasi artistik yang menghubungkan pengalaman seni dengan refleksi iman.

Herdjaka yang lebih suka disebut komentator mengatakan, secara umum lukisan rohani menggambarkan tokoh atau figur dari penggalan Kitab Suci atau cerita-cerita suci yang dihadirkan dengan kekuatan religiusitas. Artinya, lukisan tersebut bersifat religius, seperti lukisan Wisnu, lukisan Brahma dan Siwa, lukisan Bunda Maria, Tuhan Yesus dan lukisan-lukisan tokoh-tokoh rohani lainnya.

Sementara secara khusus, lukisan rohani ada hubungan dengan pelukisnya. Artinya, lukisan rohani sebagai ekspresi dari kehidupan iman yang berhubungan dengan religiusitas maupun spiritualitas pelukis.

Dalam hal ini, pelukis memunculkan kehidupan rohaninya dalam bentuk lukisan dengan kekuatan spiritualitasnya. Artinya, yang lebih menonjol adalah kekuatan spiritualitas si pelukis, bukan sifat religiusitasnya.

Dalam konteks ini, menurut Herdjaka, karya lukis bersifat umum tanpa menonjolkan garis denominasi si pelukis sehingga bisa dipamerkan di mana pun. Dengan demikian, tidak mengharuskan lukisan-lukisan Bunda Maria atau Tuhan Yesus, tetapi bisa diwujudkan apa saja dengan tema-tema Kristiani dengan latar spiritual pelukis. “Bisa muncul dengan inspirasi, ekspresi, penghayatan iman yang dijiwai oleh Roh Kudus itu sendiri,” tegasnya.

Herdjaka menyebut Bapak Seni Rupa S. Sudjojono yang mendirikan PERSAGI (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia) tahun 1937 mempunyai prinsip bahwa lukisan itu ada “jiwa ketok”, menjadi jiwa yang ketok (tampak).

“Bagaimana kita memperlihatkan jiwa kita. Rohani dari roh, dari jiwa yang diperlihatkan pada karya-karya lukisan. Maka, ketika  menerjemahkan lukisan rohani, kita memperlihatkan jiwa kita, roh kita,” kata Herdjaka.

Ia berharap, melalui pameran ini para pelukis bisa mengembangkan lukisan rohani yang dijiwai oleh Roh Kudus, tetapi diberi penekanan semangat spiritual yang bisa menjadi inklusi sehingga semua orang bisa menikmati lukisan rohani yang dipamerkan yang memancarkan keindahan, menembus berbagai sekat yang ada di masyarakat.

Suasana area pameran di aula Gereja Babadan.

Menanggapi karya seni lukis yang dipamerkan ini, Rm. Martinus Joko Lelono, Pr yang baru saja bertugas di Gereja St. Petrus dan Paulus Babadan mengatakan bahwa iman tidak hanya diungkapkan melalui kata-kata dan doa, tetapi juga dapat hadir melalui keindahan.

Melalui goresan kuas, permainan warna, dan ekspresi artistik, pengalaman iman diterjemahkan menjadi karya yang mengajak manusia berhenti sejenak, merenung dan menemukan kedalaman makna kehidupan.

Menurut Rm. Joko, pameran ini menjadi ruang perjumpaan antara seni dan spiritualitas. Melalui karya-karya yang ditampilkan, para seniman mengajak pengunjung untuk melihat kembali pengalaman iman, kisah Kitab Suci, pergulatan manusia dan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya menjadi ruang untuk melihat karya seni, pameran ini juga mengajak pengunjung untuk terlibat secara langsung dalam proses kreatif. Sebagai bentuk partisipasi bersama, pengunjung diberi kesempatan untuk memberikan warna pada sebuah sketsa lukisan yang telah disiapkan.

Melalui sentuhan banyak tangan, sketsa tersebut secara perlahan akan berkembang menjadi sebuah karya lukisan rohani bersama. Inisiatif ini menjadi simbol bahwa pengalaman iman dan kehidupan Gereja dibangun melalui keterlibatan banyak orang, yakni setiap pribadi memiliki bagian untuk memperindah karya bersama.

Pembukaan pameran dilaksanakan bersamaan dengan Perayaan Ekaristi Minggu, 2 Agustus 2026 pukul 09.00 di Gereja Katolik St. Petrus dan Paulus Babadan. Setelah itu, masyarakat dapat menikmati karya-karya yang dipajang hingga Minggu, 9 Agustus 2026. Jam kunjungan pameran berlangsung setiap hari selama masa pameran, yaitu pukul 09.00–12.00 WIB dan 16.00–21.00 WIB.

Selain menjadi kesempatan untuk menikmati karya seni rohani, pameran ini juga menjadi bentuk kebersamaan dan kepedulian. Umat dan masyarakat yang hadir diajak untuk berpartisipasi melalui donasi bagi pelayanan pastoral paroki, khususnya untuk pembelian tanah bagi kebutuhan parkir dan berbagai kegiatan pastoral lainnya.

Pengunjung yang tertarik juga dapat membeli karya lukisan yang dipamerkan sebagai bentuk dukungan terhadap pelayanan Gereja.

Melalui pameran ini, Paroki St. Petrus dan Paulus Babadan ingin menunjukkan bahwa seni memiliki tempat penting dalam perjalanan iman. Keindahan karya manusia dapat menjadi jalan untuk menghadirkan pengalaman akan keindahan Allah, menggerakkan hati, dan memperkaya kehidupan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *