Ketoprak Kridha Budaya Yakobani Persatukan Umat Paroki St. Yakobus Bantul

News1824 Views

Bantul. Sebagai rangkaian acara hari jadi ke-90 berdirinya Paroki St. Yakobus Klodran Bantul, dipentaskan sebuah seni tradisional ketoprak dengan tajuk Ratu Wicaksono, dengan sutradara Andreas Aneng Kiswantara pada Sabtu, 27 Juli 2024 di sisi selatan depan kompleks gereja dan terbuka untuk umum.

“Kita bersyukur dapat mementaskan seni tradisional ketoprak sebagai ajang ekspresinya. Ini adalah berkat yang berlimpah, karena kita mempunyai talenta seni yang membanggakan sebagai wujud kebersamaan dalam persatuan umat di Paroki St. Yakobus Bantul. Kita bisa menyatu dan menyalurkan segala bentuk bantuan dan kekuatan dalam wujud apa saja, bahu-membahu sehingga dapat terlibat di dalam peristiwa kali ini,” tutur Rm. Augustinus Toto Supriyanto, Pr.

Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr berperan sebagai Bapa Murdyantara.

Sementara itu Yulianto, Dukuh Bantul Warung, menyatakan turut berbahagia dan bangga  atas hari jadi ke-90 Paroki St. Yakobus Bantul. Usia 90 tahun bukan usia yang singkat, layaknya orang yang sudah dewasa sehingga dipandang bijaksana dalam wawasan dan tutur kata.

“Saya mewakili masyarakat Kalurahan Bantul, terutama warga Padukuhan Bantul Warung, ikut mendoakan. Semoga keberadaan Gereja Paroki St. Yakobus Bantul makin mempererat persaudaraan antara umat dengan masyarakat sekitar sehingga guyub rukun makin tampak,” harap Yulianto sembari menekankan, sebagai saudara hendaknya saling asih dan asuh, hormat-menghormati di antara para warga.   

Ia pun mendukung diselenggarakannya pentas ketoprak oleh Paroki St. Yakobus Bantul dengan para pemain dari kalangan umat sendiri dengan wadah Kridha Budaya Yakobani. “Pada tahun-tahun mendatang, silakan diadakan lagi. Itu sangat baik. Mari kita lestarikan budaya adiluhung ini sehingga anak cucu kita tertarik untuk meneruskannya,” dukung Yulianto.

Penampilan bintang tamu Ilaria Meloni, Aldo Iwak Kebo, dan Novi Kalur Marwoto.

Kisah pentas ketoprak ini diangkat dari Kitab Ester. Diceritakan situasi sebuah kerajaan bernama Parsinangling (Persia) dengan raja bergelar Prabu Ahastawijaya (Ahasyweros) yang dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja memiliki seorang ratu bernama Dewi Wasito (Ratu Wasti) dan seorang selir bernama Dewi Estyanwati (Ester).

Di Kerajaan Parsinangling terdapat sekelompok rakyat yang berasal dari Suku Yakobani (Suku Benyamin, keturunan Benyamin, putra Yakub), yang merupakan suku buangan dan sering dianggap sebelah mata oleh kelompok lain. Seorang tokoh yang muncul dari suku Yakobani ini bernama Murdyantara (Mordekhai) yang juga merupakan orang tua angkat dari Dewi Estyanwati.

Keinginan Prabu Ahastawijaya untuk mengangkat Dewi Estyanwati menjadi ratu menggantikan Dewi Wasito di Kerajaan Parsinangling mendapatkan reaksi keras dari kelompok-kelompok yang mendukung Dewi Wasito sehingga timbul pergolakan di dalam kerajaan. Namun, Sang Raja Ahastawijaya mampu mengatasi konflik dan menunjukkan wibawa serta kebijaksanaanya sehingga Kerajaan Parsinangling kembali aman sentosa.

Persembahan tari Topeng Edan oleh MaPIA Bramin.

Secara istimewa, Pastor Kepala Paroki St. Yakobus Bantul, Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr, turut ambil bagian sebagai pemain, yakni Bapa Murdyantara. Ia melakukan perannya dengan begitu apik dan penuh penghayatan sehingga banyak mendapat aplaus dari penonton.

Pentas ketoprak diselingi dengan dagelan dari bintang tamu Novi Kalur Marwoto dan Aldo Iwak Kebo. Bersama mereka, tampil pula Ilaria Meloni, pesinden asal Italia, yang membawakan lagu Aja Lamis dan Prau Layar. Tari-tarian dibawakan trio Lourent, Arin, Tasya yang membawakan tari Pundi Bata serta MaPIA Bramin dengan tari Topeng Edan.

Dari segi latihan, Florentius Pranawa selaku pemeran Prabu Ahastawijaya menjabarkan, “Kami latihan sebanyak dua belas kali, sudah termasuk latihan membaca teks ketoprak, sampai hafal dan lepas teks.

Umat Wilayah Maria Tak Bernoda (MTB) ini mengakui, kesulitan yang sungguh terasa dialami selama latihan ketoprak adalah ketika harus nembang (menyanyi) dalam adegan gandrung (romantis) dengan Dewi Estyanwati, yang diperankan Indrawati, istrinya. “Agak sulit membidik nadanya. Mungkin karena belum terbiasa,” jelasnya.

Maka, Pranawa mengakalinya dengan mendengarkan tembang di YouTube melalui ponsel untuk membantu agar bisa nembang.

Paguyuban Kridha Budaya Yakobani memberikan warna yang indah untuk Paroki St. Yakobus Bantul.

Pengalaman serupa juga dialami tim pengrawit, seperti dikatakan Robertus Danurdana, pengurus pengrawit Santya Laras Gereja Klodran Bantul, yang juga ikut terlibat sebagai pengiring ketoprak. Danur mengaku agak kelabakan karena jumlah pemain gamelan sudah makin berkurang. Oleh karena itu, pengrawit Paroki St. Yakobus Bantul memang sudah butuh peremajaan.

Latihan karawitan untuk mengiringi pentas ketoprak ini hanya sekitar empat kali. “Itu pun masih tambal sulam pemainnya. Namun, berkat pengalaman dan jam terbang dari tiap individunya, puji Tuhan, iringan ketoprak kali ini dapat berjalan lancar dan sukses,” jelas Danur bangga.

Usai pentas, Rm. Merdi mengucapkan terima kasih atas keterlibatan dan dukungan seluruh umat di Paroki St. Yakobus.

Selanjutnya Maria Layung Sari, asisten sutradara, mengapresiasi dukungan semua pihak pada pentas ketoprak ini. “Proficiat kepada para pemain yang berhasil mementaskan ketoprak dengan sangat baik. Umat yang datang dari berbagi penjuru paroki bahkan warga sekitar gereja pun dibuat terpesona dan takjub. Semoga paguyuban Kridha Budaya Yakobani akan tetap mampu berkreasi ke depannya, memberikan warna yang indah untuk Paroki St. Yakobus Bantul,” ucap Maria.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *