Kesadaran Berliterasi Umat Tinggi dengan Lomba Menulis Surat kepada Santa Helena

News1030 Views

Bantul. Kesadaran berliterasi dan bermedia umat Lingkungan Santa Helena Paroki Gereja Santo Yakobus Bantul DIY cukup tinggi dengan diadakannya Lomba Menulis Surat kepada Santa Helena berkenaan Pesta Nama Santa Helena 18 Agustus.

“Saya turut bergembira dan mengapresiasi kegiatan seperti ini. Dalam koridor Gerakan Literasi Masyarakat, lomba menulis surat ini merupakan aksi nyata untuk mendorong umat melek literasi atau melek media. Semoga kegiatan ini dapat dilaksanakan secara kontinyu dalam berbagai bentuk dan platform,” kata pegiat literasi Y.B. Margantoro berkenaan dengan diselenggarakannya Lomba Menulis Surat kepada Santa Helena di Lingkungan Santa Helena, Paroki Gereja Santo Yakobus Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Juri lomba menulis Anindya Barata mengemukakan, lomba menulis dalam format surat untuk Santa Helena itu penting dan memberdayakan. Bukan saja dalam mengembangkan kemampuan menulis, tetapi meneguhkan sosok Santa Helena sebagai bagian dari pengembangan iman pribadi dan lingkungan.

“Lewat menulis surat, umat menggali perasaan dan pikiran pribadinya yang dalam terhadap Santa Helena, baik berupa curahan hati, penghargaan, maupun permohonan. Format surat sifatnya personal sehingga pengungkapannya bisa lebih jujur, terbuka, dan menyentuh. Pada akhirnya, secara psikologis ini akan mendekatkan dan mengakrabkan jarak Santa Helena dalam diri umat,” kata pria yang akrab disapa Totok ini di kediamannya, Perum Green Mutiara Java Regency, Guwosari, Pajangan, Bantul pada Minggu, 10 Agustus 2025.

Menurut dia, lomba menulis surat kepada Santa Helena ini diadakan oleh Lingkungan Santa Helena melalui Tim Kerja Komunikasi Sosial (Timja Komsos) lingkungan, Buletin “Tinta Helena”, dan Helena Menulis.

“Tulisan para peserta lomba sebagian besar sudah bagus dan sistematis, dengan kekhasannya masing-masing. Mereka menggambarkan Santa Helena sebagai sosok yang patut diteladani. Sebagian mengungkapkan masalah-masalah yang dihadapi, baik dalam konteks pribadi maupun umat lingkungan. Beberapa peserta menonjol dalam gaya bahasa dan pengungkapan suara pribadinya dengan penuh penghayatan sehingga terasa sangat menyentuh. Pembaca bisa ikut merasakan, bukan sekadar memahami, apa yang diekspresikannya,” komentar Totok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *