Guru, Lahan Subur Anak-anak untuk Bertumbuh

Jelajah Edukasi Dasar #3 - 2025

News1797 Views

Sleman. Jelajah Edukasi Dasar (JED) adalah forum belajar bersama bagi para guru jenjang TK-SD-SMP yang diselenggarakan oleh Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED). Selain sebagai forum belajar bersama, forum ini juga menjadi ajang proses diseminasi konsep pembelajaran dengan Kurikulum Mangunwijaya yang telah mengakomodasi konsep Sekolah Merdeka maupun deep learning yang menjadi fokus dari Departemen Pendidikan Republik Indonesia.

Dalam forum ini, para guru TK-SD-SMP Eksperimental Mangunan mempresentasikan hasil action research mereka selama melakukan pendampingan siswa. Karena bahan diskusinya merupakan hasil dari sebuah action research, maka forum ini sangat positif dan produktif untuk menjadi ajang saling belajar dan memperkaya baik untuk narasumber maupun seluruh peserta.

Dalam forum ini, kegiatan yang diselenggarakan meliputi gelar wicara (talkshow) yang menghadirkan pakar pendidikan Rm. Bernardus Singgih Guritno, Pr (Pendamping Bidang Pendidikan Yayasan DED) dan Dr. Eny Winarti (Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar/PGSD Universitas Sanata Dharma Yogyakarta), seminar pendidikan yang menampilkan para guru dan tenaga kependidikan dengan action research-nya, workshop pendidikan yang juga menampilkan hasil action research guru dan tenaga kependidikan, serta pameran karya hasil kreativitas guru dalam melakukan kegiatan belajar-mengajar.

Selain untuk para guru, forum ini juga terbuka bagi pemerhati pendidikan, dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, bahkan juga untuk para orang tua dan anggota masyarakat lainnya.

Melalui forum yang tahun ini mengambil tema “Menjadi Guru yang Membumi dan Menyuburkan: Guru yang Selalu Belajar, Berefleksi, dan Berbagi untuk Mencapai Profil Anak Sesuai Konteks Zaman”, diharapkan dapat memberikan inside yang berharga bagi para guru dan para pemerhati pendidikan agar dapat memberikan pendampingan yang baik demi mengembangkan potensi anak secara optimal.

Forum ini juga menjadi sarana untuk saling belajar dan berbagi serta memperkaya referensi yang dibutuhkan dalam pendampingan anak.

Para guru TK-SD-SMP Eksperimental Mangunan mempresentasikan hasil action research mereka selama melakukan pendampingan siswa. (Foto: UTUSAN/Willy Putranta)

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan DED bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman. JED untuk tahun 2025, yang sudah memasuki putaran ketiga, diselenggarakan pada Kamis-Jumat, 28-29 Agustus 2025 di kompleks Sekolah Eksperimental Mangunan, Cupuwatu, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Forum ini menjadi kesempatan yang sangat baik bagi para guru di manapun berada, dari jenjang TK-SD-SMP, untuk belajar bersama mengembangkan diri menghadapi tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks saat ini.

Pada hari kedua, Jumat, 29 Agustus 2025, gelar wicara menghadirkan narasumber Dr. Eny Winarti dengan moderator Rm. Albertus Hesta Hana Wijayanto, Pr yang merupakan Direktur Yayasan DED.

Eny mengajak para peserta gelar wicara untuk menyamakan persepsi tentang makna belajar. “Belajar adalah suatu proses untuk menjadikan manusia semakin manusia. Manusia yang mengaktifkan atau mengoptimalkan akal dan budinya,” tutur Eny sembari menyatakan bahwa setiap manusia berada di dunia dengan misi tertentu.

“Kita mempunyai tugas sebagai lahan yang subur bagi anak-anak kita,” sambung Eny. “Maka kita perlu bersama-sama untuk selalu merefleksikan pengalaman-pengalaman yang kita hadapi. Benturan-benturan yang terjadi pada kita adalah sentilan-sentilan kecil bahwa kita perlu belajar di bagian itu yang selama ini kita blok. Ketika kita membuka blok itu, secara bersama-sama kita berkembang dan anak-anak juga berkembang.”

Dari pengalaman-pengalaman yang ada, Eny memandang bahwa menjadi lahan yang subur adalah menjadi tempat yang harapannya membantu anak-anak untuk tumbuh sebagaimana yang direncanakan Sang Pencipta. “Misi yang diberikan kepada setiap individu adalah misi yang baik. Tugasnya untuk menjadikan dunia lebih baik. Seburuk apa pun di depan kacamata kita, mereka mempunyai misi untuk menjadikan dunia lebih,” ujar Eny menegaskan.

Pameran karya hasil kreativitas guru dalam melakukan kegiatan belajar-mengajar. (Foto: Dok. Yayasan DED)

Dalam mencapainya, setiap guru perlu bekerja sama dengan orang tua siswa untuk menciptakan iklim yang baik. Eny pun menutup paparannya dengan mengatakan, dalam proses belajar, ketika mengajar juga sekaligus belajar.

“Menyiangi dan mengenali diri kita itu siapa. Kita bersama-sama dengan bibit yang seperti apa. Dengan demikian, ketika kita sebagai guru, kita bisa membumikan atau grounded. Kita bukan seseorang yang bisa semuanya sehingga kita juga bisa belajar dari teman-teman kecil (siswa-Red.) kita. Pertanyaan-pertanyaan mereka membuat kita belajar. Karena kita tidak mengambil alih atau mendikte mereka, kita mencoba hidup bersama mereka. Ketika kita subur, teman-teman kecil ini juga menjadi subur,” pungkas Eny.

Warisan yang tak ternilai

Rm. Y.B. Mangunwijaya, Pr atau Rm. Mangun dikenal sebagai sosok yang multitalenta. Setiap karya yang dihasilkan selalu mendapatkan apresiasi bahkan penghargaan dari berbagai pihak dan Lembaga, bukan hanya level nasional, tetapi juga internasional.

Selain dikenal sebagai seorang pastor, Rm. Mangun juga banyak diapresiasi sebagai seorang arsitek, novelis, kolumnis, pegiat aksi sosial, budayawan, dan pakar pendidikan. Ia membawa nilai-nilai Kristiani dalam bingkai pluralisme sehingga karya-karyanya dapat dinikmati dan menyasar pada semua kalangan.

Persahabatannya dengan banyak tokoh lintas iman dan lintas etnis sudah menunjukkan hal tersebut. Lebih-lebih perhatiannya kepada kaum lemah, miskin, dan tersingkir semakin memantabkan positioning-nya sebagai pembela kaum kecil dalam segala aspek kehidupan mereka.

Khusus di bidang pendidikan, warisan tak ternilai yang ditinggalkannya adalah keberadaan Sekolah Eksperimental Mangunan yang masih eksis sampai sekarang. Mengusung metode pembelajaran yang memberi ruang seluas-luasnya kepada anak untuk berekspresi dan berkreasi sesuai dengan potensinya masing-masing menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan.

Siswa SD Eksperimental Mangunan Kerten menampilkan Tari “Gugur Gunung”. (Foto: Dok. Yayasan DED)

Semua berawal dari keprihatinanya terhadap sistem pendidikan di Indonesia beberapa dekade lalu yang tidak memihak kepada anak dan kaum miskin serta hanya bersifat top down. Hal ini secara konkret ditemuinya pada anak-anak di bantaran Kali Code, Yogyakarta yang kebanyakan tidak dapat mengenyam bangku pendidikan karena mahalnya biaya dan minimnya akses bagi mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Bekerja sama dengan Yayasan Kanisius Pendidikan dan direstui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu, Wardiman Joyonegoro, temannya saat menempuh pendidika di Jerman, Rm. Mangun mengambil alih kelola SD Kanisius Mangunan di Kecamatan Berbah sebagai instusi pendidikan formal untuk menampung anak-anak Code dan dusun Mangunan sehingga mendapatkan pendidikan yang layak. Untuk itulah ia mendirikan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED) yang menaungi SD Kanisius Mangunan tersebut.

Menurut Rm. Mangun, salah satu aspek yang menentukan kualitas pendidikan adalah tingkat kompetensi guru. Oleh karena itulah Rm. Mangun kemudian memberikan pendampingan secara khusus kepada para guru agar memiliki kualifikasi yang memadai untuk dapat mendampingi, menggali, serta mengembangkan potensi dominan dari setiap anak.

Metode pembelajaran yang digagasnya ini kemudian dituangkan dalam sebuah struktur kurikulum yang mengambil simbol pohon, yang selanjutnya lebih dikenal dengan Pohon Kurikulum Mangunwijaya.

Warisan Rm. Mangun inilah yang saat ini dilanjutkan dan dikembangkan oleh Yayasan DED dan diterapkan di sekolah yang dikelola, yaitu TK Eksperimental Mangunan Cupuwatu, SD Eksperimental Mangunan Cupuwatu, SD Eksperimental Mangunan Go, SD Eksperimental Mangunan Kerten, SMP Eksperimental Mangunan Cupuwatu, dan SMP Kebangsaan Bharata Jumapolo.

Model pendampingan kepada para guru yang sudah dimulai oleh Rm. Mangun saat ini makin dikembangkan. Salah satu hal yang wajib dilakukan oleh para guru saat ini adalah menuangkan proses pembelajaran yang dilakukannya kepada para siswa dalam sebuah action research. Hasil dari action research inilah yang menjadi harta berharga dan baik untuk dibagikan kepada para guru lain yang ingin terus saling belajar dan mengembangkan diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *