Guru Jadi Teladan Literasi Para Murid

Sarasehan Literasi di SD Pangudi Luhur Yogyakarta

News1617 Views

Yogyakarta. Literasi adalah hal penting dan tidak terpisahkan dalam kehidupan setiap orang di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Literasi bukan hanya dapat membantu para pembelajar dari segi pengetahuan dan wawasan, tetapi juga karakter, sikap kritis, keterampilan, kebersamaan sesama manusia, dan juga peradaban.

Berbagai pihak selama ini sudah melakukan kegiatan atau gerakan untuk menumbuhkan kesadaran dan pelaksanaan literasi. Hal yang harus dijaga adalah koordinasi antarpihak, konsistensi, inovasi, kreasi, dan aspek dampaknya. Dengan demikian, semua insan di posisi mana pun mau dan mampu melaksanakan kegiatan literasi yang berguna bagi diri sendiri, kehidupan, dan masa depan.

Sekolah Dasar (SD) Pangudi Luhur Yogyakarta mengadakan sarasehan Literasi Pendidikan di aula sekolah, Jalan P. Senopati Nomor 18 Yogyakarta pada Kamis, 19 Februari 2026.

Kegiatan yang menghadirkan narasumber pegiat literasi Y.B. Margantoro ini diikuti sejumlah guru dan kepala sekolah. Peserta sarasehan mengikuti acara ini dengan antusias dan sebagian di antara mereka sepakat membentuk komunitas penulis guru.

Kepala SD Pangudi Luhur II Yogyakarta Antonius Tonny Budisantoso, S.Pd. mengemukakan, guru di sekolah ini harus menjadi teladan literasi bagi para murid. Literasi di sekolah menjadi salah satu branding yang sudah di-launching pada awal Tahun Pelajaran 2025/2026. Branding ini diharapkan mampu mendorong para guru dan murid untuk dapat memulai dan menggiatkan kegiatan literasi di sekolah ini.

Menurut dia, literasi tidak hanya menulis sesaat. Tetapi dengan konsepnya diharapkan dapat menumbuhkan semangat dan aktivitas yang berkesinambungan bagi seluruh warga sekolah.

Program yang sudah dilakukan di sekolah adalah dengan menyusun timeline kegiatan yang akan dilaksanakan, memulai agenda yang sudah disusun, diskusi proses yang berjalan, serta mengevaluasi kegiatan yang sudah dilaksanakan.

“Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan antara lain membuat pojok baca di kelas dan beberapa sudut sekolah, membersihkan secara berkala ruang perpustakaan, menambah koleksi buku sekolah, men-sharing-kan jurnal-jurnal pembelajaran, diseminasi pembelajaran oleh guru. Oleh sebab itu, kami berharap branding sekolah tahun 2026 menjadi bekal yang baik untuk meningkatkan literasi yang kuat untuk masa depan. Saya pribadi setuju dan mendukung untuk adanya komunitas menulis di sekolah ini,” kata Tonny.

Narasumber, kepala sekolah, dan para guru SD Pangudi Luhur Yogyakarta peserta sarasehan Literasi Pendidikan.

Narasumber Y.B. Margantoro mengajak warga SD Pangudi Luhur Yogyakarta untuk terus melaksanakan kegiatan literasi sekolah dengan semangat dan cerdas. Di keluarga dan di masyarakat, warga sekolah juga agar ikut menggiatkan gerakan literasi dengan baik.

Dalam sesi penulisan langsung sebelum sarasehan berakhir, Guru Kelas 1 Theresia Murniati, S.Ag. berpendapat, keluarga adalah pendidikan yang pertama dan utama. Karakter anak-anak terbentuk dari keluarga. Keluarga yang memiliki karakter yang baik, karena dibiasakan oleh orang tua atau ayah dan ibu.

Orang tua sebagai model bagi anak-anaknya. Anak-anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Maka, orang tua yang baik akan membantu anak-anak dalam pembentukan karakter tersebut.

“Jika orang tua suka membaca, maka kemungkinan besar anak-anak pun suka membaca. Dalam keluarga kami belum memiliki kebiasaan membaca, karena kami sebagai orang tua juga jarang membaca di depan anak-anak. Tipe kami belajar waktu masih sekolah adalah mendengarkan dan melihat. Maka, pada waktu itu kami belajar dengan mendengarkan teman-teman belajar. Demikian juga dengan anak-anak, mereka memiliki tipe mendengarkan. Jika kami meminta anak-anak membaca buku, mereka mengatakan sudah, meski hanya lima menit,” ungkap Murniati.

Melihat hal yang demikian, Murniati meminta anak-anak untuk membaca di internet tentang apa saja. Selain itu mereka juga menonton YouTube untuk menambah pengetahuan atau mencari jawaban soal-soal yang tidak dapat dikerjakan.

“Pengetahuan juga mereka baca dan lihat. Segala sesuatu yang tidak mereka mengerti, kami diskusikan bersama. Kami mengambil waktu untuk dapat berkumpul bersama. Dalam diskusi ini banyak hal yang diungkapkan anak-anak. Jika saya tidak bisa memberi pemahaman, maka salah satu dari mereka memberi pemahaman tentang hal tersebut. Dengan demikian, mereka tidak salah memahami artikel atau apa yang mereka baca dan mereka lihat,” urai Murniati.

“Sebagai orang tua,” sambungnya, “saya selalu mendorong mereka untuk memperluas wawasan. Tetapi juga harus peka terhadap apa yang dibaca atau dilihat. Mereka harus punya filter untuk hal-hal yang mereka baca atau lihat. Karena kami keluarga Katolik, maka kami sarankan kepada mereka sebagai filter utama adalah Tuhan Yesus. Untuk mengimbangi mereka, maka saya berusaha ikut membaca hal-hal yang baru. Agar apa yang mereka tanyakan atau diskusikan setidaknya saya bisa memahami.”

Murniati menegaskan, literasi sungguh sangat membantu keluarganya dalam menambah wawasan. Ia pun berharap semakin lama banyak keluarga yang mengutamakan literasi keluarga.

Anto Margono
Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *