Dialog Lintas Agama di Kelubagolit: “Jangan Bilang Kafir!”

News1396 Views

Flores Timur. Kecamatan Kelubagolit yang berada di wilayah Kabupaten Flores Timur terdiri dari 12 desa dengan komposisi penduduk 9.892 jiwa beragama Katolik, 3.267 jiwa beragama Islam, 20 jiwa beragama Kristen Protestan, dan 1 jiwa beragama Hindu.

“Tiga tahun lalu, Desa Horinara di kecamatan ini ditetapkan sebagai desa rukun,” terang Lambertus Ulin Tokan, SE selaku Camat Kelubagolit ketika membuka kegiatan Dialog Lintas Agama satu pekan lalu.

Lebih lanjut ia menegaskan, “Peran kepala desa sangat penting. Kerukunan harus lahir dari hati penuh kasih. Kerukunan mulai dari rumah. Generasi muda harus diberi ruang untuk mencintai dan rasa memiliki Indonesia, Flores Timur, dan Kelubagolit.”

Dialog dengan metode brainstorming itu telah memberi ruang bagi peserta untuk dengan antusias berbagi pengalaman tentang kerukunan dalam keseharian hidup mereka.

Karolus Lamapaha, utusan dari Paroki St. Martinus Hinga dengan tegas mengatakan, “Jangan bilang umat beragama lain itu kafir.” Pernyataannya disambut baik oleh semua peserta tanpa mempersoalkannya.

Lain lagi pendapat Fajar Tokan dari Kantor Urusan Agama (KUA). “Kita tidak hanya bicara soal toleransi antarumat berlainan agama. Internal umat seagama pun toleransinya mulai tergerus. Buktinya, ketika sesama umat sedang beribadat, yang lain asyik main kartu dan membuat keributan,” ujarnya sembari mengajak peserta dialog untuk kembali ke dalam kelompok agama masing-masing dan menghormati orang yang sedang beribadat.

Donatus dari Desa Horinara berkisah tentang adanya akronim INATABA, yakni Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru. Singkatan ini mau mengatakan bahwa perayaan hari besar agama merupakan perayaan bersama dengan peran yang berbeda.

Ketika umat Katolik merayakan Misa Natal, kaum Muslim sibuk mengurus konsumsi untuk dinikmati bersama. Demikian juga pada perayaan Idul Fitri. Ketika umat Islam beribadat, umat Katolik mengurus hal-hal yang perlu untuk perayaan itu.

Peserta dialog pada hari itu mengakui bahwa mereka hidup rukun dan saling menerima sebagai saudara. Hal ini menurut Lambertus Roma, Kepala Desa Lamapaha, disebabkan oleh masyarakat telah dipersatukan dalam kepercayaan asli, hubungan kawin-mawin, dan peran tokoh adat yang menyatukan semua warga dengan beragam perbedaan.

Semua peserta dialog menyatakan puas dengan dialog itu, karena mereka dapat mengungkapkan dengan jujur fakta keseharian hidup dan harapan mereka. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Flores Timur mengapresiasi pola brainstorming yang memberi banyak peluang bagi peserta untuk mengungkapkan pengalaman kerukunan, tantangan, dan harapan.

Bernadus Tukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *