Dari “Kecelakaan” Jadi Kesadaran untuk Menabur Berkah

Perayaan Ekaristi Akbar Lustrum XV SMA Kolese De Britto Yogyakarta

News1319 Views

Sleman. Perayaan Ekaristi Akbar Lustrum XV SMA Kolese De Britto Yogyakarta berlangsung meriah pada Sabtu, 19 Agustus 2023 di lapangan sekolah. Misa yang dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang (Vikjen KAS) Rm. Y.R. Edy Purwanto, Pr ini dihadiri kurang lebih 3.300 orang yang terdiri dari para siswa, guru, karyawan, alumni, serta mengundang para siswa dari sekolah-sekolah di sekitar Yogyakarta.

Rm. Cyprianus Kuntoro Adi, SJ selaku pengurus Yayasan De Britto menyebutkan para imam konselebran adalah para romo yang pernah menjadi rektor kolese, alumni, serta yang sedang maupun pernah bertugas di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Ada pula seorang imam yang baru saja ditahbiskan, yakni Rm. Mateus Seto Dwiadityo, Pr.

Sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, ditayangkan sambutan virtual Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko.

Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Anugerah yang pantas disyukuri sekaligus mendorong para siswa untuk terus-menerus mengembangkan diri.

Mgr. Rubi menyatakan, banyak alumni SMA Kolese De Britto yang telah menjadi orang-orang penting di tengah masyarakat dan Gereja. Ini merupakan anugerah yang pantas disyukuri sekaligus mendorong para siswa untuk terus-menerus mengembangkan diri, membekali diri, dan berbagai macam hal yang dibutuhkan untuk kehidupan mereka lebih lanjut.

“Kiranya bukan hanya soal intelektualitas yang kita butuhkan, tetapi juga keterampilan dalam menyiasati kehidupan, terlibat di tengah masyarakat. Karena itu, kiranya proses pendidikan kita perlu diperkaya dengan berbagai macam hal yang sekiranya bisa menjawab kebutuhan zaman yang semakin menantang ini,” ujar Mgr. Rubi.

Ia memandang para siswa tentu sangat bersyukur karena memiliki kesempatan belajar di kolese yang dikenal sangat mumpuni dalam membentuk kepribadian. “Mari manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Belajar sekuat tenaga, membekali diri dengan segala hal yang dibutuhkan, yang berguna, baik untuk diri sendiri, maupun nantinya untuk Gereja dan masyarakat,” ajak Mgr. Rubi yang juga mengapresiasi para guru dan karyawan karena senantiasa mendampingi serta menyiapkan para siswa untuk lebih banyak berkiprah dalam kehidupan bersama.

“Terima kasih pula atas kepercayaan masyarakat pada kolese kita ini, yang dari waktu ke waktu semakin banyak diminati. Ini menunjukkan kualitas dan tawaran yang memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita. Maka, mari kita syukuri kepercayaan masyarakat ini sekaligus kita pertanggungjawabkan dengan memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita, orang muda kita, keluarga, dan masyarakat yang kita layani,” pungkas Mgr. Rubi.

Karya terpenting Serikat Jesus

Sementara itu, Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia Rm. Benedictus Hari Juliawan, SJ merasakan Lustrum XV SMA Kolese De Britto sebagai pesta yang. “Tapi, kalau kita mundur jauh ke belakang, yaitu awal mula karya pendidikan di dalam Serikat Jesus, kita bisa mengatakan bahwa pendidikan sebenarnya adalah ‘kecelakaan’ bagi Serikat Jesus,” cetusnya.

Rm. Benedictus Hari Juliawan, SJ. Karya pendidikan menjadi salah satu karya terpenting di dalam Serikat Jesus.

Rm. Beni lantas menjelaskan, St. Ignatius Loyola tidak pernah bercita-cita mendirikan sekolah atau kolese. Ideal seorang Jesuit adalah orang yang selalu bergerak, berada di jalan. Namun, St. Ignatius dan rekan-rekannya kemudian menyadari pentingnya pendidikan. “Meskipun awal mulanya kecelakaan, akan tetapi karya pendidikan kemudian menjadi salah satu karya terpenting di dalam Serikat Jesus,” sebut Rm. Beni mantap.

Saat ini di Indonesia, papar Rm. Beni, Serikat Jesus mengelola delapan kolese setingkat SMA, salah satunya Kolese De Britto. Serikat Jesus juga mengelola empat perguruan tinggi di Indonesia. Ada pula rangkaian sekolah di bawah Yayasan Kanisius di bawah Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang berjumlah 187 sekolah. Di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ada Perkumpulan Strada yang memiliki 75 sekolah.

“Kalau semuanya ini ditotal, kira-kira ada 63 ribu mahasiswa dan siswa yang berada di dalam lingkungan lembaga pendidikan Serikat Jesus. Di dalamnya ada 1.500 orang guru dan dosen plus sekitar 500 orang staf pendidik. Ada begitu banyak orang yang berada di dalam ruang pendidikan kita ini,” urai Rm. Beni sembari mengajak untuk bersama-sama merayakan sebuah usaha penting dalam mewartakan Kerajaan Allah di dunia.

Rm. Y.R. Edy Purwanto, Pr (depan, tengah). “Kecelakaan” bisa menjadi berkah atau titik kesadaran untuk berubah.

Rm. Edy pun menanggapi bahwa peristiwa “kecelakaan” yang disebut Rm. Beni bisa menjadi berkah atau titik kesadaran untuk berubah.

“Itulah yang telah dilakukan oleh para imam Serikat Jesus. Dari peristiwa kecelakaan menjadi kesadaran untuk menabur berkah. Salah satu wujudnya adalah yang kita nikmati, lihat, dan rasakan kehadirannya melalui dunia pendidikan, terlebih dalam peristiwa agung Lustrum XV Kolese De Britto,” tutur Rm. Edy.

Dalam kesempatan memberikan homili, Rm. Fransiskus Xaverius Alip Suwito, Pr sebagai alumnus 1999 mengatakan, semangat man for others, man with others, bukan hanya sebagai identitas, tetapi menjadi spiritualitas. “Jadikanlah itu menjadi milik diri kita, di mana pun kita berada. Kita tidak menjadi pribadi yang menambah masalah untuk orang lain, tetapi menambah satu kebaikan demi kebaikan untuk orang-orang di sekitar kita,” pesannya.

“Hal kedua yang paling penting,” sambung Rm. Alip, “selain menjadikan man for others, man with others sebagai spiritualitas hidup kita, sebagai kadang manuk (saudara burung, simbol siswa SMA Kolese De Britto hanya laki-laki-Red) ketika menyanyikan mars De Britto dikatakan, ‘Dialah De Britto contohmu.’ Jadikanlah secuil perjuangan De Britto pada waktu itu yang dijadikan sebagai founding father atau istilahnya kekuatan santo yang menjadi pelindung bagi kita di mana pun berada. Dialah De Britto contohmu.”

Rm. Fransiskus Xaverius Alip Suwito, Pr. Menambah satu kebaikan demi kebaikan untuk orang-orang di sekitar.

Rm. Alip pun mengajak seluruh umat untuk menjadi teladan di mana pun berada. “Teladan bukan berarti telat mangan edan (kalau terlambat makan jadi gila-Red), tetapi menjadi contoh,” tegasnya.

Dari kegelapan menjadi baik

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Lustrum XV SMA Kolese De Britto FX. Agus Hariyanto, S.E., M.Pd. menjabarkan tema “Fiat Lux: Jadilah Terang” dipilih salah satunya berdasarkan pada peristiwa pandemi Covid-19 yang telah berlalu. “Setelah pandemi ada terang. Dari kegelapan menjadi baik. Terang itu untuk siapa? Tentu untuk diri sendiri, siswa, guru, karyawan, masyarakat sekitar, dan dunia pendidikan,” jelas guru mata pelajaran ekonomi ini.

Karena terang itulah maka civitas academica SMA Kolese De Britto mensyukuri bahwa pada Lustrum XV atau hari ulang tahun (HUT) ke-75, sekolah masih berdiri. “Perayaan Ekaristi ini adalah wujud syukur itu,” tunjuk Hari.

Perayaan Ekaristi Akbar ini melibatkan banyak pihak atau kolaborasi, yakni para petugas merupakan para siswa yang berasal dari berbagai jenjang sekolah—SD, SMP, SMA swasta Katolik. “Kami mengajak jejaring sekolah-sekolah Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta. Anak-anak itu juga tampil dalam pentas seni sehingga kami tahu potensi daerah,” jelas Hari sembari menambahkan bahwa anak-anak ini juga diharapkan kelak belajar di SMA Kolese De Britto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *