Saking Peteng Tumeko Pepadhang: Dari Gelap Hadirlah Terang 

News801 Views

Sela, seorang remaja perempuan berjalan perlahan sambil membawa lilin kecil. Cahaya lilin itu menerangi wajahnya—dan seakan juga menerangi hatinya. “Saking petang tumeko pepadhang,” dari gelap hadirlah terang.

Adegan tersebut menjadi pembuka sebuah drama musikal berbahasa Jawa yang sarat makna. Dalam kisah itu, digambarkan pula seorang anak yang merasa kesepian di rumah. Orang tuanya sibuk bekerja, sementara ia menghabiskan waktu dengan bermain game. Di tengah keramaian dunia, ia justru merasakan kehampaan. Hidup terasa berat, gelap, dan penuh tanda tanya: apa arti semua ini?

Chinara dalam cerita Paskahan Saking Pepeteng Tumeka Pepadang.

Gambaran tersebut mencerminkan realitas kehidupan banyak orang. Setiap pribadi—baik anak-anak, remaja, hingga orang tua—memiliki pergulatan hidup masing-masing, termasuk dalam kehidupan keluarga.

Kisah itu menjadi bagian dari perayaan Paskah yang diselenggarakan oleh Lingkungan Santo Yohanes Rasul dan Lingkungan Santa Faustina 2, Paroki Santo Ignatius Ketandan Klaten, pada Kamis, 20 April 2026 yang lalu. Kegiatan yang berlangsung di Balai Perumda Gergunung ini dihadiri sekitar 200 umat, mengusung tema “Saking Petang Tumeko Pepadhang” (Dari Gelap Hadirlah Terang).

Umat yang hadir berbahagia bersama dalam Paskahan di Klaten.

Perayaan ini dihadiri berbagai unsur, mulai dari Dewan Harian Paroki, aktivis gereja, umat, anak-anak, Komsos, hingga tokoh masyarakat seperti ketua RT dan RW setempat. Kebersamaan lintas elemen ini memperkuat semangat persaudaraan dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Romo Robertus Yuni Tri Wibowo, Pr memberikan peneguhan kepada umat. Ia mengajak seluruh umat untuk hidup dalam kebenaran serta menyadari bahwa Tuhan senantiasa hadir menyertai dengan terang-Nya.

“Mari kita hidup secara benar. Kita mesti selalu menyadari Tuhan pasti menyertai dengan terang-Nya. Seperti ungkapan tandur pari. Tandur pari (menanam padi) sebagai sebutan semangat untuk Ketandan bangun sedulur (saudara) kanthi (dengan) happy (bahagia),” kata Romo Bowo, Pr.

Pesan tersebut menjadi ajakan bagi umat untuk terus hidup rukun, saling mendukung, dan penuh sukacita, baik dalam kehidupan beriman, keluarga, maupun di tengah masyarakat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *