Bregada Satria Puger Awali Prosesi Hari Jadi Gereja Pugeran

News686 Views

Yogyakarta. Perayaan hari jadi ke-92 Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Pugeran, Yogyakarta diwarnai dengan penampilan Bregada Satria Puger.

Tanggal pemberkatan gedung gereja yang berlokasi di Jl. Bantul ini yakni 8 Juli 1934. Tahun ini, perayaan hari jadi digelar pada Minggu, 12 Juli 2026 pukul 17.00.

Misa Konselebrasi dipimpin Rm. F.X. Sukendar Wignyasumarta, Pr, Rm. Antonius Invarien Alpha Andrianto, Pr, Rm. Stefanus Arief Gunawan, Pr, Rm. Emanuel Pranawa Dhatu Martasujita, Pr, Rm. Yustinus Joko Wahyu Yuniarto, Pr, Rm. F.X. Merry Christian Putra, Pr, dan Rm. Yohanes Berchmans Heru Prakosa, SJ.

Perayaan Ekaristi diawali dengan paraliturgi berupa prosesi awal di Mandala Tyas Dalem, yaitu pelataran depan gereja. Bregada Satria Puger berperan menjadi cucuk lampah mengawal perarakan petugas liturgi.

Penampilan Bregada Satria Puger dalam rampak musik dan derap langkah yang gagah dan kompak, menjadi pengawal prosesi agung hari jadi 92 tahun Gereja HKTY Pugeran.

Bersama aroma ratus, cendana dan dupa, tangan misdinar mengguncangkan wiruk agar bara api terus menyala. Sama halnya upaya bagaimana generasi mudanya memaknai kembali inkulturasi budaya Jawa agar tetap terjaga.

Hingga saat ini, Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Paroki Pugeran tetap hidup, bertumbuh, dan menjadi salah satu pilar iman Katolik yang mengakar kuat pada tradisi budaya Jawa di Yogyakarta.

Perayaan hari jadi Paroki Gereja HKTY Pugeran juga disertai dengan pemberian hadiah untuk para pemenang Lomba Parade Memberikan Renungan Antarprodiakon dan Parade Kidung Pujian Antarwilayah, kemudian diakhiri dengan Pemberkatan Air Perwitasari oleh Rm. Sukendar yang selanjutnya dibagi-bagikan kepada umat

Usai Misa, Bregada Satria Puger melaksanakan penjemputan dan perarakan nasi tumpeng sebagai simbol rasa syukur umat setempat dalam suatu formasi Tombak Pora. Pada kesempatan ini, juga dibagikan kepada umat berupa nasi berkat yang diterima dengan sangat antusias sebagai ngalap berkah (mencari atau mengharapkan keberkahan).

Acara dilanjutkan dengan pesta umat dengan menampilkan beberapa pentas seni yang menampilkan potensi umat berupa Tari Bedayan Karahayon Jati, Tari Kenes Gandhes, Tari Kasetyan, musik angklung, dan suguhan lain dari kaum muda.

Misa Konselebrasi dipimpin Rm. F.X. Sukendar Wignyasumarta, Pr, Rm. Antonius Invarien Alpha Andrianto, Pr, Rm. Stefanus Arief Gunawan, Pr, Rm. Emanuel Pranawa Dhatu Martasujita, Pr, Rm. Yustinus Joko Wahyu Yuniarto, Pr, Rm. F.X. Merry Christian Putra, Pr, dan Rm. Yohanes Berchmans Heru Prakosa, SJ.
Budaya Jawa Mewarnai Tradisi Gereja

Komunitas Bregada Satria Puger berasal dari berbagai latar belakang status dan profesi, antara lain seniman, pensiunan, guru, abdi dalem, wiraswasta, mahasiswa, tokoh masyarakat, juga aktivis Gereja.

Bregada Satria Puger adalah sebuah komunitas prajurit rakyat dalam lingkup Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran yang bernaung di bawah Bidang Paguyuban Dewan Paroki. Penamaan Bregada Satria Puger bukan tanpa makna, tetapi memiliki arti dan tujuan yang melatarbelakanginya.

“Bregada” merujuk pada satuan prajurit dari unsur musik, bendera, dan panji-panji, serta pasukan tombak dan senapan, dengan Panji Parentah dan Panji Aba-aba. “Satria” bermakna pemuda yang memiliki jiwa ksatria, berani membela kebenaran, jujur, dan bertanggung jawab.

Sementara “Puger” merupakan akronim Paguyuban Umat Katolik Gereja Pugeran yang ingin memelihara budaya dan seni keprajuritan, bertujuan untuk mengawal acara prosesi yang berhubungan dengan perayaan Gereja Pugeran.

Penamaan Puger juga merujuk pada satuan prajurit ini berasal, yaitu Kampung Pugeran. Penamaan wilayah ini diambil dari nama salah satu pangeran keraton yang tinggal di kawasan tersebut, yakni G.P.H. Puger (putra Sri Sultan Hamengku Buwono VI), dan kawasan permukiman bangsawan, serta abdi dalem Keraton Yogyakarta di luar Benteng Baluwarti, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ndalem Pugeran. Area sekitarnya hingga kini dikenal sebagai Kampung Pugeran, Kalurahan Suryodiningratan, Kemantren Mantrijeron.

Terkait budaya Jawa yang hidup dan mewarnai tradisi Gereja, Gereja HKTY Pugeran tidak hanya hidup melalui bangunan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya, dekat dengan Kraton Ngayogyakarta sebagai pusat budaya Jawa, atau keberadaan komunitas-komunitas yang hidup di sekitar sebagai ekosistem penopangnya.

Gereja ini juga bernapas dari tradisi yg diwariskan turun-temurun antargenerasi. Penggunaan bahasa Jawa (krama inggil) dalam tata perayaan liturgi Gereja dengan iringan musik gamelan pada perayaan tertentu, telah menjadi ciri khas yang terus dipelihara.

Ada lantunan tembang macapat dalam Misa Jumat Pertama Nawabrata, ada tetabuhan gamelan oleh komunitas Swara Lare dan Jaran Dolan, ada lagu pujian oleh Kidung Tyas Dalem, atau alunan musik seruling, terompet, dodog, kecer, dan snardrum dalam rampak baris oleh Bregada Satria Puger serta komunitas lain di lingkup Gereja yang menjadi penerus inkulturasi (perpaduan iman Katolik dengan budaya lokal).

Bersama gerak pewartaan yang menghidupi pertumbuhan iman berjenjang berkelanjutan dengan merangkul umat usia dini, anak, remaja, kaum muda, dewasa hingga adiyuswa (lansia), dan falsafah hidup terus dijaga dalam keseharian, hingga cara umat merawat hubungan dengan sesama dan alam semesta.

F.X. Riyanto & Edi S. Miko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *