Sleman. Enam orang laki-laki berpakaian bregada Mataram bersiap di depan Gereja Santo Aloysius Gonzaga Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Minggu, 30 Juli 2023. Tak hanya itu, beberapa orang lainnya yang bertugas sebagai tata tertib terlihat gagah dan anggun mengenakan pakaian adat Jawa dalam Perayaan Ekaristi pagi itu.
Perayaan Ekaristi pagi itu begitu istimewa karena bertepatan dengan penutupan Bulan Syukur Paroki Mlati ke-87. Setelah satu bulan diisi dengan rangkaian kegiatan yang turut diikuti oleh umat Paroki Mlati, maka Perayaan Ekaristi pada Minggu pagi tersebut menjadi acara pamungkas.

Rm. Lorensius Tata Priyana, Pr hadir selaku Pastor Paroki dan selebran utama dalam Perayaan Ekaristi bersama Rm. Yulius Sukardi, Pr dan Rm. Johanes Heru Hendarto, SJ sebagai konselebran.
Dengan diikuti oleh lebih dari 650 umat yang hadir, Perayaan Ekaristi berjalan dengan apik dan meriah. Dalam homilinya, Rm. Tata menceritakan sejarah singkat berdirinya Gereja Mlati dan perkembangannya hingga saat ini.
Menurut sejarahnya, cikal bakal berdirinya Gereja Mlati berasal dari sebuah kapel di Desa Duwet, sebelah utara Gereja Mlati saat ini circa 1930 -1931. Pada 1936, setelah pindah lokasi dari Desa Duwet ke jalan utama Yogyakarta – Magelang dan berdekatan dengan kapanewon (kecamatan), maka pada Minggu Pahing, 26 Juli 1936, Gereja Mlati diberkati oleh Mgr. P. Willekens, SJ didampingi oleh Rm. Van Baal, SJ dan Rm. Strater, SJ. “Di ulang tahun paroki ke-87, diharapkan Paroki Mlati terus bertumbuh dan berkembang dalam iman dan cinta,” ucap Rm. Tata dalam homilinya.
Pemandangan menarik terlihat saat prosesi persembahan. Perarakan diawali dengan cucuk lampah yang dibawakan oleh empat anak dari PIA Paroki. Selanjutnya diikuti oleh enam orang pembawa persembahan dengan mengenakan busana bregada (prajurit) Mataram dan barisan di belakangnya adalah pembawa persembahan wilayah.

V. Basuki Nugroho, Wakil Ketua Dewan Paroki Mlati, dalam sambutan penutupnya mengucapkan apresiasi atas peran para ketua wilayah dan ketua lingkungan yang bertugas menjadi panitia dalam rangkaian Bulan Syukur Paroki Mlati ke-87. “Tema Gelem Ngalah ben Kabeh Bungah (Berani Mengalah Agar Semua Bahagia-Red) mengajak kita untuk selalu mengedepankan kepentingan bersama,” ungkap Basuki.














