Berbagi Praktik Baik ala SMA Kolese De Britto

News1715 Views

Visi dan misi yang dijadikan sebagai arah tujuan dari SMA Kolese De Britto jelas, yakni ingin membantu, mendidik, dan membimbing generasi penerus bangsa ini menjadi pribadi-pribadi yang utuh, baik secara ilmu pengetahuan maupun sprilitualitas atau kalau disingkat 1L + 5 C (leadership, competence, connscience, compassion, commitment, consistency) dalam kehidupan.

Tentunya untuk mencapai hal tersebut tidak bisa adanya penekanan, pembatasan, ataupun keterpihakan terhadap individu-individu. Maka dari itu, SMA Kolese De Britto memberanikan diri untuk merumuskan suatu pola pendidikan lain daripada yang lain, yaitu “pendidikan bebas bertanggung jawab”.

Pendidikan bebas bertanggung jawab ini tidak membiarkan begitu saja individu-individu untuk berbuat semaunya, akan tetapi memberikan kekebasan yang mutlak kepada individu-individu untuk mengembangkan pengetahuan dan kreativitas yang berkualitas dengan adanya kesadaran dan tanggung jawab yang sepenuhnya. Hal tersebut sesuai dengan spirit Santo Ignatius Loyola sebagai pendiri Serikat Yesus (Yesuit) serta ajaran santo pelindung sekolah, Santo Yohanes De Britto.

Bertolak dari pernyataan di atas, sekolah Katolik yang berada di bawah Serikat Yesus berusaha untuk mengembangkan pengetahuan dan kreativitas siswa secara optimal dan tidak dibatasi. Sebab, dengan adanya batasan-batasan tidak akan bisa mencerminkan kemampuan seseorang yang sesungguhnya untuk mengekspresikan kemampuan yang ada pada dirinya secara maksimal.

Bisa dikatakan, pengetahuan dan kreativitas butuh dimerdekakan, artinya bebas dari aturan-aturan yang mengikat seseorang untuk tunduk pada suatu peraturan yang bisa mematikan daya kreativitas seseorang.

SMA Kolese De Britto, sebagai lembaga pendidikan yang menampung anak-anak muda sebagai generasi penerus bangsa, memberikan fasilitas-fasilitas itu sebagai dukungan, motivasi, dan dorongan kepada anak-anak muda untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada dirinya dengan merangkulnya dalam pola pendidikan yang bebas dan bertanggung jawab.

Kita bisa melihat, mendengar, membaca, dan sebagainya bahwa pemerintah menerapkan dan melaksanakan pendidikan karakter di tingkat satuan pendidikan. Di SMA Kolese De Britto, itu semua sudah menjadi sesuatu yang hakiki (mutlak). Artinya, semua itu sudah dijalankan sekolah ini sejak berdiri hingga sekarang.

Di SMA Kolese De Britto, pendidikan karakter adalah sesuatu yang harus dihayati dan dijalankan oleh pribadi-pribadi yang ada di dalamnya. Para siswa yang sedang dalam masa perkembangan pengetahuan dan spiritual, ditekankan untuk dapat mamahaminya dan melaksanakannya secara konkret di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Dengan adanya visi dan misi yang dijadikan sebagai arah tujuan dan pedoman di SMA Kolese De Britto, pola dan proses pendidikan yang bebas dan bertanggung jawab akan dapat membawa seseorang pada kedewasaan ilmu pengetahuan dan spiritualitas yang nyata dalam masyarakat luas pada nantinya. Sebab, dasar utama yang dibentuk dan diwujudkan oleh masing-masing individu adalah kesadaran, bukan tekanan atau paksaan semata.

Kegiatan di SMP Kanisius Sleman. Agar dapat menjadi pemimpin, pertama-tama siswa harus mampu memimpin dirinya sendiri.

Sinode Pendidikan yang telah dilaksanakan di Keuskupan Agung Semarang (KAS) mendapatkan hasil sebagai berikut.

Pertama, sekolah-sekolah Katolik mesti menempatkan proses pertumbuhan disiplin sebagai karakter hidup yang mesti terus-menerus dihidupi oleh seluruh anggota komunitas.

Kedua, sekolah Katolik, komunitas, keluarga, dan pribadi-pribadi diundang saling bergandengan tangan untuk berjejaring, saling mendukung, dan bersama-sama memberikan kontribusi atau sumbangsih untuk mengembangkan pendidikan dalam semangat kolegialitas (kerja sama) dan solidaritas (belarasa).

Ketiga, para orang tua, guru, dan tenaga kependidikan sudah seharusnya berani dan siap untuk terus belajar serta setia mengembangkan diri dalam terang nilai-nilai Kristiani melalui kesaksian hidup yang inspiratif bagi anak dan peserta didik.

Mengacu dari hasil sinode tersebut, sangat penting untuk menjadi perhatian bersama dalam menindaklanjuti Sinode Pendidikan terutama di komunitas sekolah dan terkhusus di keluarga.

Hal ini menuntut kesadaran akan pentingnya buah-buah sinode ini, dengan perlu terus menggelorakan dan memperhatikan dua hal mendasar berikut. Pertama, kontribusi dalam berbagi dan kesaksian hidup bagi anak-anak di sekolah dari umat, imam, suster, bruder, dan lain-lain.

Kedua, seluruh yayasan dan lembaga penyelenggara pendidikan Katolik di KAS berpartisipasi aktif dalam gerak keuskupan menyelenggarakan formasi iman berjenjang dan berkelanjutan di tingkat sekolah masing-masing. Oleh karena itu diperlukan memiliki keterbukaan hati, sabar, dan teliti serta keterbukaan pikiran untuk merespons serta menindaklanjuti segala sesuatu yang ada dengan kolaborasi dan kerja sama antarlembaga pendidikan.

Melihat akan pentingnya hasil sinode di KAS, SMA Kolese De Britto menjawabnya dengan mencoba untuk membagikan praktik baik yang sudah dilaksanakan kepada sekolah-sekolah di sekitar Yogyakarta dengan cara memberikan pelatihan pada siswa di sekolah-sekolah tersebut dengan latihan kepemimpinan diri.

Mengapa hal ini dirasa penting harus diberikan kepada remaja (generasi Z)?

Sebab, generasi Z masih cenderung memiliki kelemahan dalam kepemimpinan diri terkait bagaimana harus memanajemen diri, seperti memiliki prinsip hidup, tujuan, dan cita-cita dengan tegas, lugas, dan jelas.

Berbagi praktik baik dari SMA Kolese De Britto dengan memberikan pelatihan kepada beberapa sekolah untuk peningkatan karakter para siswa terkait dengan kepemimpinan diri dimaksudkan supaya bisa memberikan inspirasi bagi sekolah tersebut, baik bagi para guru maupun siswa untuk berkembang secara utuh dengan memiliki keseimbangan antara olah pikir, olah rasa, dan olah kehendak.

Harapannya, dengan meningkatnya kualitas sumber daya manusia (SDM) maupun karakter di sekolah tersebut, akan bisa membantu mengembangkan sekolah lebih dipercaya dan diminati masyarakat luas untuk memiliki peran dan partisipasi aktif dalam pendidikan kaum muda yang lebih berkualitas.

Kegiatan di SMP Aloysius Turi Sleman. Kepemimpinan diri tidak hanya menjadi pemimpin yang baik, tetapi harapannya juga bisa menjadi pemimpin pribadi yang inspiratif.

Pelaksanaan berbagi praktik baik dari SMA Kolese De Britto ini bekerja sama dan berkolaborasi dengan tiga SMP, yaitu SMP Kanisius Sleman (Rabu, 11 Juni 2025), SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta (Selasa, 17 Juni 2025), dan SMP Aloysius Turi Sleman (Rabu, 18 Juni 2025).

Pelatihan kepemimpinan diri yang dilaksanakan pada siswa ini memiliki maksud dan tujuan untuk mengembangkan kepribadian siswa yang berkarakter.

Para siswa sering mendengar kata-kata “setiap orang adalah pemimpin”. Akan tetapi, seperti apakah pemimpin yang sebenarnya itu? Berdasarkan konteks para siswa, kepemimpinan saat ini yaitu kepemimpinan yang memberikan daya ubah untuk perubahan yang lebih baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Mengacu dari buku Heroic Leadership (Chris Lowney) yang disesuaikan dengan konteks siswa remaja, dalam pelatihan kepemimpinan diri disampaikan ada empat unsur pokok yang harus dimiliki oleh seorang pribadi supaya dapat memimpin diri sendiri dan orang lain secara utuh, antara lain sebagai berikut.

Pertama, kesadaran diri. Bagaimana aku dapat memahami kekuatan, kelemahan, nilai-nilai, dan pandangan hidup.

Kedua, komunikasi. Bagaimana aku memiliki kemampuan untuk berinovasi dan beradaptasi dengan penuh keyakinan terhadap dunia yang terus berubah.

Ketiga, cinta kasih. Bagaimana aku memiliki kesediaan untuk terlibat dan melibatkan orang lain dengan sikap positif yang memungkinkan perkembangan potensi dan bakat terpendam yang dimiliki.

Keempat, optimistis. Bagaimana aku dapat menyemangati diri sendiri dan orang lain dengan motivasi serta semangat untuk melakukan segala sesuatu secara optimal.

Berkaitan dengan teori tersebut, agar dapat menjadi pemimpin, pertama-tama seorang siswa harus mampu memimpin dirinya sendiri, barulah kemudian dia akan mampu memimpin orang lain.

Untuk mampu memimpin dirinya sendiri, seseorang perlu mengenali dirinya sendiri, misalnya mengenali bakat, keutamaan-keutamaan diri, dan kelemahan diri.

Seorang calon pemimpin tidak cukup jika hanya memiliki kecerdasan, kesehatan, atau kepekaan hati saja, karena jiwa kepemimpinan seorang calon pemimpin tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa dikondisikan. Dia harus mendapatkan tempaan dan gemblengan olah kepemimpinan yang harus diikuti dan dilaksanakannya.

Maka dari itu, membuat perubahan melalui pendidikan dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan formasi siswa untuk menanamkan butir-butir nilai kepemimpinan ke dalam diri para siswa sejak dini adalah suatu nilai yang selalu diperjuangkan untuk pendidikan iman berjenjang.

Melalui kegiatan formasi siswa, harapannya para siswa kelak mampu menjadi pemimpin yang berkepribadian unggul, tangguh, mandiri, optimal, utuh, rendah hati, peduli, bersedia mengakui kesalahan, berjiwa besar, serta terbuka untuk belajar.

Menjadi pemimpin berarti sebagai pribadi yang makin berkembang dan mampu melakukan perubahan yang selaras dengan situasi zaman tanpa meninggalkan identitas diri sebagai pribadi yang utuh (kesimbangan antara olah pikir, olah rasa, dan olah kehendak).

Berkaitan dengan kepemimpinan diri tidak hanya menjadi pemimpin yang baik, tetapi harapannya juga bisa menjadi pemimpin pribadi yang inspiratif. Pemimpin yang inspiratif adalah yang melayani dan dapat menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya dengan berperan aktif melakukan perbuatan nyata secara langsung.

Hal ini dapat dilihat dari memiliki kesatuan antara apa yang dikatakan dan dilakukan sehingga mampu menginspirasi dan memotivasi orang lain di sekitarnya.

Semoga berbagi praktik baik yang dilaksanakan oleh SMA Kolese De Britto bekerja sama dan berkolaborasi dengan tiga sekolah, yaitu SMP Kanisius Sleman, SMP Maria Immaculata Marsudirini Yogyakarta, dan SMP Aloysius Turi Sleman ini merupakan jawaban wujud konkret dari hasil Sinode Pendidikan di KAS yang bisa menginspirasi sekolah-sekolah Katolik lain untuk saling meningkatkan kerja sama dan kolaborasinya untuk berkembang serta maju bersama demi kemuliaan Allah yang lebih besar (AMDG).

Chr. Danang Wahyu Prasetio (Guru SMA Kolese De Britto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *