Belajar Memuliakan Ciptaan, Sadar Dampak Bertindak bagi Lingkungan

John De Britto Festival (JB Fest) 2026

News1357 Views

Sleman. SMA Kolese De Britto Yogyakarta menyelenggarakan “John De Britto Festival” (JB Fest) pada Jumat–Sabtu, 6–7 Februari 2026. Dengan tema “Perjuangan Penuh Pengorbanan, Kesetiaan yang Menerangi Dunia”, kegiatan ini menghadirkan pameran karya ilmiah, pameran studi ekskursi, serta pementasan teater sebagai ruang refleksi, ekspresi, dan pewartaan nilai-nilai kemanusiaan.

Thomas Dannar Sulistyo, guru mata pelajaran Geografi sekaligus koordinator karya ilmiah, menyatakan JB Fest dirancang dalam rangka Pesta Nama Santo Yohanes De Britto yang jatuh pada tanggal 4 Februari.

Pameran karya ilmiah merupakan formasi wajib bagi kelas XI sebagai sarana belajar untuk menulis secara ilmiah dengan menyajikan 150 judul dari 300 siswa.

Ketika bertindak di masa datang, mereka mengetahui dampaknya terhadap lingkungan. (Foto: UTUSAN/Willy Putranta)

“Tema karya ilmiah kali ini berkaitan dengan geopark. Kami bekerja sama dengan  Badan Pengelola Geopark Jogja untuk mendukung program ini. Bagaimana kita mengeksplorasi geopark di Jogja (Daerah Istimewa Yogyakarta/DIY-Red.),” terang Dannar.

Sedangkan studi ekskursi merupakan formasi wajib bagi kelas X. Tujuannya adalah mengubah sampah menjadi barang-barang yang lebih berharga. Januari 2026, para siswa kelas X dikirim ke 30 tempat workshop di sekitar Yogyakarta, antara lain Yabbiekayu, Sanggar Pawuhan, Bank Sampah Paqone, Simple Cycle, Angkringan Wayang Uwuh, Jtoku, dan sebagainya.

“Di sana mereka belajar mengolah sampah agar menjadi barang yang lebih berharga. Ada yang bikin eco enzyme, karya seni berbahan sampah plastik, rajutan dari residu kantong plastik, dan sebagainya,” sebut Dannar.

Thomas Dannar Sulistyo. Tempat workshop diundang untuk membangun jaringan sebagai salah satu implementasi dari Universal Apostolic Preferences (UAP) Serikat Yesus. (Foto: UTUSAN/Willy Putranta)

Studi ekskursi ini mengajarkan para siswa untuk memuliakan ciptaan. Ketika bertindak di masa datang, mereka mengetahui dampaknya terhadap lingkungan. “Siapa tahu mereka bergerak di bidang sociopreneur, kewirausahaan di bidang sosial,” ucap Dannar.

Dalam JB Fest ini, ke-30 tempat workshop diundang hadir untuk membangun jaringan sebagai salah satu implementasi dari Universal Apostolic Preferences (UAP) Serikat Yesus yang menaungi SMA Kolese De Britto Yogyakarta. UAP meliputi 1) menunjukkan jalan menuju Allah, 2) berjalan bersama mereka yang tersingkir, 3) menemani orang muda , dan 4) merawat bumi rumah bersama. Dalam kegiatan ini, implementasi yang dituju adalah merawat bumi rumah bersama.

“Masing-masing tempat workshop dapat saling mengenal sehingga menguatkan jaringan dalam bersama-sama merawat bumi sebagai rumah kita bersama,” tegas Dannar.

Sementara untuk pentas teater merupakan program dari Presidium yang menyajikan kisah perjuangan Santo Yohanes De Britto sebagai bentuk perayaan pesta nama.

Prosesi pelantikan presidium baru 2026/2027 dalam Perayaan Ekaristi Pesta Nama Santo Yohanes De Britto. (Foto: Dok. SMA Kolese De Britto Yogyakarta)

 

Spiritualitas De Britto, bukan sekadar kisah sejarah

Sebelumnya, SMA Kolese De Britto Yogyakarta memperingati Pesta Nama Santo Yohanes De Britto sebagai pelindung sekolah, melalui rangkaian kegiatan yang menegaskan kembali identitas dan nilai spiritual pendidikan Jesuit (Ignatian). Perayaan yang digelar Selasa, 4 Februari 2026 ini diikuti oleh seluruh civitas academika serta sejumlah tamu undangan.

Rangkaian acara diawali dengan edukasi mengenai spiritualitas Santo Yohanes De Britto dari sharing salah satu alumni bernama, Henokh Aldebaran, yang saat ini berkecimpung dalam budaya pedalangan wayang kulit dan menjadi wakil PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia) di Kota Magelang.

“Spiritualitas Santo Yohanes De Britto adalah keberanian untuk hadir sepenuhnya di tengah budaya yang kita hidupi. De Britto tidak datang membawa jarak, tetapi mendekat, belajar, dan menjadikan budaya sebagai jalan pengabdian. Dunia pedalangan yang saya geluti mengajarkan hal serupa; nilai hidup disampaikan lewat simbol, laku, dan kesetiaan pada proses. Di sanalah saya belajar bahwa iman dan kebudayaan tidak perlu dipertentangkan, tetapi bisa saling menerangi. Semangat De Britto mengajak kita untuk setia pada panggilan, berani berakar pada konteks, dan mengabdi dengan rendah hati bagi sesama,” tutur Henokh.

Pentingnya edukasi ini bagi murid bertujuan menanamkan nilai-nilai dasar yang hidup dalam tradisi Serikat Yesus, khususnya keberanian, kesetiaan, dan totalitas pengabdian Santo Yohanes De Britto. Melalui pemaparan tersebut, para murid diajak memahami spiritualitas De Britto bukan sekadar sebagai kisah sejarah, melainkan sebagai nilai yang relevan untuk dihidupi dalam proses formasi dan kehidupan sehari-hari.

Pengantar dari subpamong (Fr. Ferry) dalam acara edukasi di aula. (Foto: Dok. SMA Kolese De Britto Yogyakarta)

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Misa Pesta Nama Santo Yohanes De Britto di Kapel SMA Kolese De Britto yang dipimpin Rm. Agustinus Sugiyo Pitoyo SJ, Rm. Aluisius Dian Permana SJ, dan Rm. Agustinus Wahyu Dwi Anggoro SJ.

Rm. Wahyu menyampaikan, Santo Yohanes De Britto, pelindung sekolah, tidak menjadi kudus karena jalannya selalu mudah. Ia menjadi teladan justru karena kesetiaannya dalam proses, dalam dinamika yang penuh tantangan, bahkan dalam ketegangan dan ketidakpastian.

“Di sekolah, kita pun mengalami hal yang sama, yaitu perbedaan pendapat, kelelahan belajar, kegagalan, dan pergulatan untuk setia pada nilai. Dari De Britto, kita belajar bahwa kesetiaan pada nilai, keberanian untuk hadir bagi sesama, dan kerendahan hati untuk terus belajar adalah jalan formasi sejati. Sekolah ini bukan sekadar tempat mencari prestasi, tetapi ruang pembentukan manusia yang berani hidup benar, setia pada nurani, dan siap mengabdi,” ujar Rm. Wahyu.

Misa ini menjadi ungkapan syukur atas penyertaan Santo Yohanes De Britto sebagai pelindung sekolah sekaligus peneguhan iman bagi seluruh warga sekolah. Suasana Misa berlangsung khidmat dan reflektif, dihadiri oleh siswa, guru, tenaga kependidikan, serta para undangan.

Dalam Misa Pesta Nama Santo Yohanes De Britto juga dilaksanakan prosesi pelantikan Presidium Tahun Ajaran 2026/2027. Pelantikan ini menjadi momen pengutusan untuk menjalani kepemimpinan pelayanan yang berakar pada nilai kesetiaan, keberanian, dan kepedulian terhadap sesama. Diharapkan, Presedium yang baru mampu menghidupi semangat De Britto dengan setia dalam proses, rendah hati dalam pelayanan, dan berani bertumbuh bersama komunitas.

Sebagai penutup perayaan, SMA Kolese De Britto menggelar pesta kebun di lingkungan sekolah. Acara ini menjadi ruang kebersamaan dan perayaan sukacita, menandai rasa syukur atas nilai-nilai yang diwariskan oleh Santo Yohanes De Britto serta semangat persaudaraan yang terus dihidupi dalam komunitas sekolah.

Melalui perayaan pesta nama ini, SMA Kolese De Britto Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan yang berakar pada spiritualitas Jesuit (Ignatian) dengan menekankan pendidikan yang membentuk pribadi beriman, bernurani, dan berkomitmen bagi sesama demi kemuliaan Allah yang lebih besar (Ad Maiorem Dei Gloriam – AMDG).

Willy Putranta
Chr. Danang Wahyu P, S.Or., M.M. (Humas dan Jejaring SMA Kolese De Britto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *