Belajar Mandiri, Siswa SMP Stece Jalani Live-in

News1878 Views

Kulon Progo. Live-in di perdesaan bagi peserta didik Kelas 8 SMP Stella Duce 1 Yogyakarta (Stece) yang mayoritas berasal dari kota merupakan pengalaman berharga untuk memahami kehidupan sederhana dan mandiri. Melalui interaksi langsung dengan warga desa, mereka belajar tentang gotong royong, kerja keras, dan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan seperti bertani, beternak, memasak dengan peralatan tradisional, serta hidup tanpa teknologi modern memberikan wawasan baru tentang ketahanan dan kebersamaan.

Pengalaman ini juga menumbuhkan rasa syukur serta kepedulian sosial, karena mereka dapat membandingkan kehidupan perkotaan yang serbamudah dengan tantangan yang dihadapi masyarakat desa. Dengan demikian, live-in tidak hanya menjadi sarana pembelajaran sosial, tetapi juga membentuk karakter peserta didik agar lebih empati, mandiri, dan menghargai keberagaman budaya.

Sekolah bekerja sama dengan Tim Live In Boro yang memfasilitasi terlaksananya kegiatan selama tiga hari pada Senin-Rabu, 24-26 Maret 2025. Tim yang terdiri dari beberapa personel ini sungguh membantu dalam mengkoordinasikan tempat tinggal peserta didik, menyusun agenda kegiatan, serta mendampingi mereka dalam beradaptasi dengan kehidupan di perdesaan.

Dengan bimbingan dari tim, peserta didik dapat lebih mudah memahami nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan kemandirian selama mengikuti program live-in. “Tak lupa, peran besar Pastor Paroki Santa Theresia Lisieux Boro Rm. Laurentius Andika Bhayangkara, Pr di balik semua kegiatan ini sungguh luar biasa sehingga berkat doa dan bimbingan beliau juga menjadikan live-in di Boro ini sungguh mengesankan,” tutur L. Joko Sunarno, S.Si., M.Pd., Kepala SMP Stella Duce 1 Yogyakarta.

Menemani ibu asuh berbelanja di pasar tradisional.

Kegiatan live-in dilaksanakan di beberapa lingkungan Paroki Santa Theresia Lisieux Boro, Kulon Progo. Lingkungan yang menjadi tempat tinggal para peserta live-in adalah Jurugan, Kalisoka, Tirip, Kalijeruk, Sorotanon, dan Blumbang. Dengan berbagai latar belakang warga lingkungan tersebut, peserta didik mengalami berbagai aktivitas yang berbeda satu dengan lainnya.

“Mereka membantu mencari rumput untuk hewan ternak, membuat dan menjual makanan tradisional di pasar terdekat, angon (menggembalakan) hewan ternak di ladang, berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional, serta membuat panganan tradisional merupakan hal yang tidak akan pernah terlupakan bagi para peserta didik,” sebut Joko.

Menempati kediaman di tengah lingkungan yang beragama Katolik juga makin menumbuhkan rasa syukur dan memperdalam iman. Pada hari Senin, Lingkungan Blumbang mengadakan Sarasehan Aksi Puasa Pembangunan (APP) Prapaskah di rumah ketua lingkungan. Peserta didik pun ikut terlibat di dalamnya. Selain itu, salah satu agenda yang dilakukan peserta didik yang kebetulan tinggal di dekat area gereja yakni mengunjungi sekaligus berdoa di makam Rm. J.B. Prennthaler, S yang lokasinya persis berdekatan dengan Gereja St. Theresia Lisieux, Paroki Boro.

“Kegiatan selama live-in seru banget! Ternyata menyiangi rumput liar yang terus saya bawa ke rumah bapak asuh itu bikin kulit saya gatal-gatal! Belum pernah saya bawa rumput liar sebanyak itu dalam hidup saya!” ungkap Nathan.

“Saya bisa merasakan betapa bersyukurnya selama ini selalu dicukupi kebutuhan oleh orang tua. Terima kasih, Ayah dan Ibu,” ucap Paulina. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *